Buram Kesunyian

47
Ilustrasi kesunyian (sumber: ai/ra)

Buram Kesunyian
Gelap tapi bukan malam
sunyi ini terlalu menggangu
memburamkan
ia tak kenal waktu

katanya singgah sesaat
namun kembali lagi
bahkan saat detik belum berdenting
sesak tapi bukan nafas

sunyi ini tak pernah surut
ia datang tanpa skenario
tetapi mampu menarik simpati
berkecamuk dan melambai

agar hati tak lagi diam
menyodorkan sepenggalan kisah dua hati satu jiwa
diantara jarak yang paling dekat sekalipun

sunyi itu kian tertawa
sunyi itu menenggelamkan jejak romantisme
celakanya
sejak ia terkubur diruang rindu


Jaket Hijau
Warnannya pudar
jaket hijau kemarin yang ku beli
tapi tenang saja
hanya sekedar warna bukan rasa

aku ingat
kepadaku kau kenakan jaket itu
kau bilang
kalau musim dingin pakailah kain tebal

barangkali kelak setebal badai yang menghantam
tutupilah kepalamu
barangkali agar kau tetap ingat hangatnya peluk diantara gerimis
tak ingin kusudahi, tiada purna

katamu
kalau musim dingin seduhlah kopi
sebab pahitnya menjadi pelajaran
manisnya menjadi biang pengingat

lalu kataku
sama halnya seduhan kopi itu
hadirmu menghangatkan
seperti halnya senyummu

jaket hijau kemarin yang kubeli
hijaunya menyejukkan


Di Sudut Teras
Semerbak harum kuntum melati
beratap lilitan daun anggur
berpagar kamboja merah daun kemangi
di sudut teras

pada koran-koran yang tak sempat mengabarkan berita
seduhan teh yang tak sempat tersaji
juga pada mentari yang tak sempat dinikmati para petani
aku bergegas tanpa Sepatu

pada gubuk tua itu
aku berburu
dan kudapati bukan buruan melainkan masa lalu
aku bersimpuh

mengecup kenangan kala itu
berangkat tapi tidak singgah
aku sudah ditunggu
pada air mata yang tak boleh jatuh

lambaian lima jari kanan beradu
kubisikkan padamu
bola itu memantul tinggi
agar bisa direngkuh kembali

derap langkahku nan jauh
ialah agar kau tetap jaga rinduku



Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online