
Buram Kesunyian
Gelap tapi bukan malam
sunyi ini terlalu menggangu
memburamkan
ia tak kenal waktu
katanya singgah sesaat
namun kembali lagi
bahkan saat detik belum berdenting
sesak tapi bukan nafas
sunyi ini tak pernah surut
ia datang tanpa skenario
tetapi mampu menarik simpati
berkecamuk dan melambai
agar hati tak lagi diam
menyodorkan sepenggalan kisah dua hati satu jiwa
diantara jarak yang paling dekat sekalipun
sunyi itu kian tertawa
sunyi itu menenggelamkan jejak romantisme
celakanya
sejak ia terkubur diruang rindu
Jaket Hijau
Warnannya pudar
jaket hijau kemarin yang ku beli
tapi tenang saja
hanya sekedar warna bukan rasa
aku ingat
kepadaku kau kenakan jaket itu
kau bilang
kalau musim dingin pakailah kain tebal
barangkali kelak setebal badai yang menghantam
tutupilah kepalamu
barangkali agar kau tetap ingat hangatnya peluk diantara gerimis
tak ingin kusudahi, tiada purna
katamu
kalau musim dingin seduhlah kopi
sebab pahitnya menjadi pelajaran
manisnya menjadi biang pengingat
lalu kataku
sama halnya seduhan kopi itu
hadirmu menghangatkan
seperti halnya senyummu
jaket hijau kemarin yang kubeli
hijaunya menyejukkan
Di Sudut Teras
Semerbak harum kuntum melati
beratap lilitan daun anggur
berpagar kamboja merah daun kemangi
di sudut teras
pada koran-koran yang tak sempat mengabarkan berita
seduhan teh yang tak sempat tersaji
juga pada mentari yang tak sempat dinikmati para petani
aku bergegas tanpa Sepatu
pada gubuk tua itu
aku berburu
dan kudapati bukan buruan melainkan masa lalu
aku bersimpuh
mengecup kenangan kala itu
berangkat tapi tidak singgah
aku sudah ditunggu
pada air mata yang tak boleh jatuh
lambaian lima jari kanan beradu
kubisikkan padamu
bola itu memantul tinggi
agar bisa direngkuh kembali
derap langkahku nan jauh
ialah agar kau tetap jaga rinduku
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















