
Tebuireng.online— Santri SMA Trensains, Fara Naila Fitria Rahmawati mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional melalui ajang Kompetisi Nasional Biologi (Biocompact) yang diselenggarakan oleh Program Studi Biologi dan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Lomba bergengsi ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Bali, Malang, Jember, hingga Jakarta, dan menjadi ajang bergengsi bagi para pelajar yang memiliki minat besar di bidang biologi.
Lomba Biocompact memiliki rangkaian kegiatan yang cukup panjang, dimulai dari babak penyisihan secara daring pada 11 Oktober 2025, kemudian semifinal pada 25 Oktober 2025 yang berlangsung di Gedung C Biologi UNESA, dan dilanjutkan dengan final serta grand final pada 26 Oktober 2025. Dalam kompetisi ini, Fara Naila, santri kelas XI SMA Trensains, berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya dan meraih hasil yang membanggakan.
Baca Juga: Alumni Tebuireng Disambut Hangat di Negeri Kinanah
Fara, yang lahir pada 30 September 2008, menceritakan bahwa awal keikutsertaannya bermula ketika melihat poster lomba di mading sekolah. “Saya tertarik untuk mencoba dan akhirnya mendaftar, lalu mengikuti bimbingan,” ujarnya.
Perjalanan menuju grand final tidaklah mudah. Setelah melewati dua kali try out, Fara berhasil lolos ke semifinal di Surabaya dan menempati peringkat 10 besar untuk lanjut ke babak final. “Saat final, saya harus mengerjakan praktikum dan lembar kerja, lalu akhirnya lolos ke lima besar untuk grand final yang konsepnya cerdas cermat,” jelasnya.
Meski sempat tidak menyangka bisa meraih juara, Fara merasa sangat bersyukur. “Alhamdulillah, tidak menyangka karena sempat berada di peringkat bawah,” ungkapnya. Ia juga mengaku bahwa bagian tersulit adalah saat praktikum pembelahan bekicot, karena baru pertama kali dan harus menggambar anatomi sistem pencernaan bekicot yang cukup rumit. Fara berharap prestasi ini menjadi penyemangat untuk terus belajar dan meraih pencapaian lain di masa depan.
Baca Juga: Putri Fadilah Raih Juara 2 Nasional dalam Lomba Storytelling di Unisma
“Semoga bisa menambah semangat belajar lagi dan mencetak prestasi lebih banyak lagi,” katanya. Fara juga menuturkan cita-citanya sejak kecil adalah menjadi seorang dokter.
Guru pembimbing lomba, Ustadzah Lailatul Munafi’ah, yang juga merupakan guru Biologi di Trensains, mengaku bangga atas pencapaian siswinya tersebut. “Sebagai pembimbing, tantangannya cukup banyak, mulai dari padatnya jadwal kegiatan santri hingga membuat mereka memahami materi biologi yang luas dan kompleks,” jelasnya.
Meski demikian, semua perjuangan terasa terbayar lunas ketika hasil diumumkan. “Saya sangat senang sekali, apalagi Fara ini memang anaknya rajin ikut kompetisi biologi dan sejenisnya. Jadi saat tahu akhirnya berhasil mendapat hasil terbaik, rasanya bangga dan bahagia sekali,” tuturnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















