Pesantren Tebuireng Tegaskan Peran Santri dalam Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia

38
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz saat memberi amanat apel HSN dan Resolusi Jihad (foto: bustan/tebuirengonline)

Tebuireng.online— Peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang jatuh pada 22 Oktober berlangsung khidmat di Pesantren Tebuireng, Jombang. Dengan mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” momentum ini menjadi penegasan kembali peran strategis santri dalam menjaga kemerdekaan dan membangun peradaban bangsa.

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, menegaskan bahwa kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia hari ini merupakan buah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, ulama, serta kaum pesantren. Salah satu tokoh sentral perjuangan tersebut adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan Pahlawan Nasional, yang dikenal sebagai penggagas Resolusi Jihad 1945, fatwa bersejarah yang menggerakkan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan melawan pasukan Sekutu dan NICA.

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan

“Dari fakta sejarah ini kita memahami bahwa di antara para pahlawan yang berjasa untuk negeri ini adalah kaum pesantren, kiai, dan santri,” ungkap Pengasuh Pesantren Tebuireng dalam amanat Apel HSN di lapangan Tebuireng, (22/10).

Ribuan santri Tebuireng ikuti peringatan Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad di lapangan Pesantren Tebuireng (foto: bustan/tebuirengonline)

Pesantren Tebuireng, lanjut Cicit Kiai Hasyim Asy’ari, sejak didirikan oleh Hadratussyaikh, telah menjadi pelopor pendidikan Islam yang memadukan kajian kitab kuning dengan ilmu pengetahuan umum. Pendekatan ini berhasil melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman. Nilai-nilai pendidikan di Tebuireng dirangkum dalam prinsip BERKAH: Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Shalih, dan Hikmah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Peringati HSN dan 80 Tahun Resolusi Jihad, Pesantren Tebuireng Gelar Apel Libatkan 4.000 Peserta

Dalam satu dekade peringatan Hari Santri, pemerintah juga semakin mengakui kontribusi pesantren terhadap pembangunan bangsa. Pengesahan UU Pesantren dan kebijakan Dana Abadi Pesantren menjadi bukti nyata pengakuan negara atas peran lembaga pendidikan Islam tradisional ini. Saat ini, Pesantren Tebuireng juga mendorong pengusulan KH. M. Yusuf Hasyim, putra Hadratussyaikh, sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembelaan terhadap bangsa.

Ketua PWNU Jawa Timur itu juga menanggapi pandangan miring yang kerap muncul terhadap pesantren. Menurutnya, anggapan bahwa pesantren bersifat feodal dan tertutup terhadap perubahan adalah keliru. “Relasi antara kiai dan santri bukan bentuk kepatuhan buta, melainkan adab dan tata nilai keilmuan yang menjadi fondasi peradaban Islam,” tegasnya.

Dalam pesannya kepada para santri, Gus Kikin menekankan dua hal penting. Pertama, menjadi santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim bahwa semua amal tidak akan diterima tanpa akhlak mulia.

Baca Juga: Tebuireng Sambut Ribuan Peserta Kirab Hari Santri MWCNU Diwek

Kedua, menjaga tradisi sambil merangkul inovasi. Santri diharapkan mampu menguasai teknologi dan sains tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren, sesuai pepatah “al-muhafazhatu ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bil-jadid al-ashlah” mempertahankan yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.

Baginya, peringatan Hari Santri di Tebuireng tahun ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang santri dan pesantren dalam mengawal kemerdekaan serta menatap masa depan peradaban dunia yang damai dan beradab.

“Mari kita bersama-sama mengawal Indonesia menuju peradaban dunia yang damai dan berkeadaban. Selamat Hari Santri 2025,” tutup ketua PWNU Jatim saat sambutan di hadapan ribuan santri.



Pewarta: Albii

Editor: Rara Zarary