
“Cuman perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.” (Najwa Shihab)
Bagaimana ketika kita telah menemukan buku yang kita cintai, dan dapat membangkitkan minat baca kita, justru tiba-tiba ada salah seorang mencemooh buku yang kita baca dengan nada merendahkan; “baca buku kok novel, memang apa manfaat dari membaca novel?” atau sebuah padangan sinis, “baca buku novel itu kamu hanya mendapatkan tidak kurang dan lebih tentang dunia percintaan belaka, yang lebay dan alay yang gak ada manfaatnya di kehidupan nyata.”
Atau justru penghinaan itu ditujukan kepada penulis buku tertentu yang sedang kita baca, contohnya novel-novel karya dari Tere Liye. “Baca buku kok novelnya Tere Liye? Novel Tere Liye mah bukan karya sastra, tapi hanya sebuah rangkaian kata dan cerita imajinasi belaka, yang bahasanya terlalu mendayu-dayu dan sangat lebay bin alay.” Dan dilanjutkan dengan ungkapan seperti ini, “kalaupun mau baca novel, bacalah novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, Ahmad Tohari, Muchtar Lubis atau minimal baca karya-karyanya Dee Lestari atau Andrea Hirata”.
Baca Juga: Membaca Membuatmu Jadi Luar Biasa, Ini Kuncinya!
Sesuatu yang telah disebutkan di atas adalah satu dari sekian banyak contoh dari Book Shaming. Lalu apa sebenarnya pengertian dari Book Shaming itu sendiri? Book Shaming sendiri, bisa diartikan sebagai sebuah tindakan dari seseorang yang merendahkan bahkan menghina sebuah buku bacaan orang lain hanya karena perbedaan yang terletak dari genre yang disukainya.
Padahal pembaca buku pada dasarnya memang memiliki genre favorit masing-masing, seperti yang terbagi secara umum pembagian genre tersebut, ada yang berupa fiksi dan nonfiksi. Dari pembagian genre bacaan tersebut, memicu perilaku book shaming dari sebagian oknum.
Lalu apa saja contoh-contoh dari Book Shaming itu?
Pertama, menilai berlebihan bacaan orang lain dengan pandangan meredahkan. Maksud dari menilai berlebihan di sini, bisa dilihat ketika seseorang tidak suka dengan buku bacaan orang lain. Sehingga hal itu mengakibatkan penilaian yang sangat meremahkan bacaan buku tertentu. Contohnya sederhana; “Eh kamu beneran baca buku bergenre romance? Kan gak ada manfaatnya”. Atau “apa sih manfaatnya baca komik, mirip anak kecil aja.” Ungkapan seperti itu, tanpa disadari sudah masuk pada ranah Book Shaming.
Kedua, merasa bahwa buku bacaannya lebih keren daripada orang lain. Hal ini ditimbulkan karena seseorang merasa dirinya membaca buku-buku yang cukup berbobot. Ketika seseorang merasa bahwa selera baca bukunya adalah yang paling berkualitas dibadangingkan dengan orang lain yang membaca bergenre novel, romance, fiksi, komik atau bahkan wattpad, itu artinya orang tersebut sudah melakukan Book Shaming tanpa disadari.
Baca Juga: Lemahnya Literasi Digital Menyumbang Keretakan Bersosial
Bila hal itu terjadi pada diri anda maka segeralah mungkin mengubah pola pikir tersebut. Karena pada dasarnya selera buku orang berbeda-beda dan hal itu prihal yang lumrah terjadi pada setiap pembaca. Kita tidak memiliki hak untuk menyimpulkan bahwa bacaan yang baik hanyalah filsafat, sastra, Tan Malaka atau buku-buku karya dari Pramoedya Ananta Toer. Maka mulai saat ini berlajarlah menghargai bacaan orang lain.
Ketiga, menilai buku berdasarkan dari penulisnya. Tidak sedikit dari kita harus mengakui bahwa kita pernah terjebak pada fanatik menyukai suatu bacaan buku dari hanya dari sang penulisnya saja. Sebenarnya hal tersebut boleh-boleh saja dan sah. Yang tidak diperbolehkan adalah bersikap terlalu berbelibahan dalam mengagumi penulis favoritnya adalah sampai pada tahapan buku yang ditulis oleh favoritnya adalah karya paling baik daripada karya-karya lainnya dari berbagai penulis. Tentu saja, hal ini adalah contoh dari Book Shaming itu sendiri.
Book Shaming Itu Jahat
Tatkala seseorang baru saja menyukai kegiatan baca dan lalu mendapatkan respons yang kurang mengenakkan maka itu adalah sebuah kejahatan yang sangat nyata dilakukan seseorang kepada orang lain. Mengapa demikian? Di tengah minimnya minta baca masyarakat Indonesia dan sangat rendah, bahkan menurut data, masyarakat Indonesia menempati peringkat ke-4 di Asia Tenggara dan ke-67 secara global dalam hal literasi berdasarkan data PISA 2025, merendahkan buku bacaan seseorang hanya dibedasarkan dari genre dan penulisnya, itu sama halnya dengan membunuh minat literasi masyarakat bangsa ini.
Padahal seseorang perlu menemukan buku bacaan yang ia sukai terlebih dahulu, agar bisa menumbuhkan minat terhadap mencintai membaca buku. Bila kebiasaan seperti yang disebutkan di atas tidak dihilangkan, maka niscaya literasi masyarakat Indonesia selamanya tidak akan dapat berkembang, bahkan akan mengalami kemunduran.
Selain mengakibatkan menurunnya literasi membaca masyarakat Indonesia, terdapat hal yang paling buruk dari Book Shaming itu, yakni membatasi pengetahuan seseorang. Padahal diyakini oleh banyak orang membaca buku apapun itu, selalu memberikan dampak terhadap pengetahuan seseorang dari berbagai aspek. Contohnya, disaat orang menanggap sebelah mata, seseorang membaca novel, ia akan beranggapan seseorang pembaca novel itu tidak ada gunannya.
Baca Juga: Krisis Literasi Indonesia: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda?
Padahal banyak sekali novel-novel yang memberikan kesan dan pelajaran seputar hal politik, sejarah, budaya dan lain sebagainya. Seperti contoh novel Animal Farm yang memberikan gambaran tentang sistem politik yang otoriter dan korup. Atau seperti novel Laut Bercerita yang menceritakan tentang penculikan aktivis 1998. Atau bahkan komik One Piece yang penuh dengan nilai-nilai persahabatan, mimpi besar, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bila saja orang-orang pembaca novel dan komik ini merasa minder, mereka tidak hanya kehilangan pengetahuan saja, tapi juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya dia sukai.
Pada akhirnya, kita harus mengakhiri perilaku menjijikkan seperti ini bahkan jika bisa dihilangkan, karena Book Shaming itu sendiri tidak ada manfaatnya. Justru sudah seharusnya sesama pembaca buku itu harus bisa menghargai satu sama lain buku bacaannya, bukan malah menghakimi tanpa dasar yang kuat terhadap bacaan orang lain.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















