Refleksi 126 Tahun Tebuireng: Menjaga Harmoni Islam dan Indonesia

40

Seratus dua puluh enam tahun. Angka itu terdengar sederhana, tapi bila kita berhenti sejenak untuk merenung, betapa panjang perjalanan sebuah pesantren bernama Tebuireng. Dari sebuah perkampungan di Jombang, lembaga ini tumbuh menjadi mercusuar ilmu dan moral bangsa. Di dalamnya, santri-santri pernah duduk bersila, menyimak wejangan para kiai, sembari menanamkan satu hal dalam-dalam: mencintai agama sekaligus mencintai tanah air.

Ketika KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Tebuireng pada 1899, barangkali beliau tak pernah membayangkan bahwa pesantren ini akan berumur lebih dari satu abad. Namun yang beliau tanam sejak awal bukan hanya pendidikan, melainkan spirit kebangsaan. Peringatan 126 tahun Tebuireng, dengan tema “Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan” terasa bukan sekadar jargon, melainkan napas yang terus hidup di pesantren ini.

Islam dan Indonesia: Dua Identitas yang Tak Terpisahkan

Kalau kita melihat ke belakang, Islam masuk ke Nusantara tidak dengan pedang, melainkan dengan senyum, dengan budaya. Melansir artikel di Olimnus.id, Strategi Dakwah Walisongo Menyebarkan Islam di Nusantara (2025), para wali, ulama, dan kiai menggunakan gamelan, wayang, bahkan tembang untuk menyampaikan ajaran Islam. Itu sebabnya, Islam di Indonesia terasa begitu akrab.

Tebuireng, sejak masa KH. Hasyim Asy’ari, berdiri di atas prinsip itu: beragama tidak harus memutuskan akar budaya. Justru sebaliknya, iman memperkuat rasa cinta tanah air. Tidak heran jika ungkapan “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air bagian dari iman) menjadi semacam kompas moral bagi santri. Apakah mungkin santri taat beribadah tapi tidak peduli pada bangsanya? Tentu tidak. Karena sejak awal, di Tebuireng, keislaman selalu berjalan beriringan dengan keindonesiaan.

Peran Pesantren Tebuireng dalam Perjuangan Bangsa

Sejarah membuktikan, pesantren ini tidak hanya sibuk dengan kitab kuning. Melansir Muhammad Syu’aib & M. Husni (2025), kitab kuning bahkan menjadi fondasi pembentukan karakter santri—bukan sekadar ilmu, tetapi juga akhlak dan adab.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari artikel NU: Menyulam Sejarah, Merajut Intelektualitas (Kompasiana, 2025), kita tahu bahwa pada Oktober 1945, ketika bangsa berada di ujung tanduk, KH. Hasyim Asy’ari bersama para kiai mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Seruan itu bukan sekadar fatwa, melainkan percikan api yang membakar semangat arek-arek Surabaya untuk bertarung mempertahankan kemerdekaan. Tanpa Resolusi Jihad, mungkin kita tidak akan mengenang heroisme 10 November seperti sekarang. Dari Tebuireng, lahir semangat juang yang menyatukan iman dan nasionalisme.

Dan jejak itu masih berlanjut. Banyak santri Tebuireng yang kemudian menjadi tokoh bangsa—di bidang agama, politik, hingga pendidikan. Mereka membuktikan bahwa santri tidak pernah hidup di menara gading. Santri selalu hadir di tengah masyarakat, mengajarkan bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari mengamalkan iman.

Santri dan Literasi Media di Era Digital

Kalau dulu perjuangan dilakukan di medan tempur, kini santri punya medan juang baru: ruang digital. Dunia maya penuh dengan berita bohong, ujaran kebencian, dan paham yang bisa memecah belah bangsa. Di sinilah peran santri kembali dibutuhkan.

Lewat website Tebuireng Online, misalnya, santri belajar menulis berita, opini, dan artikel. Bukan hanya sekadar latihan jurnalistik, tetapi juga sebuah jihad intelektual. Menyebarkan kebaikan di dunia maya, melawan hoaks, dan mengingatkan bahwa Islam itu ramah, bukan marah. Bahkan ada santri yang kini aktif membuat konten edukatif di media sosial—mulai dari podcast keislaman hingga video pendek tentang sejarah ulama. Langkah kecil seperti ini membuat pesan damai Tebuireng menjangkau lebih banyak orang.

Menjadi santri di era digital berarti harus bisa memadukan literasi agama dengan literasi media. Santri tidak cukup hanya pandai membaca kitab, tapi juga harus peka terhadap isu sosial, lingkungan, bahkan kebangsaan. Dakwah hari ini bukan sekadar mengutip ayat, tapi juga menghadirkan solusi yang membumi bagi masyarakat Indonesia.

Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan: Relevansi Masa Kini

Menurut artikel di Jogja.go.id, Ancaman Bahaya Paham Intoleransi dan Radikalisme (2024), zaman memang berubah. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah bersenjata, tetapi ancaman lain yang tak kalah berbahaya: radikalisme, intoleransi, dan sikap apatis terhadap bangsa. Ada sebagian orang yang berusaha memisahkan agama dari nasionalisme, seolah keduanya bertentangan.

Padahal, bukankah sejarah telah membuktikan sebaliknya? Dari pesantren, justru lahir gagasan besar yang menjaga persatuan bangsa. Tebuireng, dengan usianya yang panjang, adalah bukti hidup bahwa Islam dan Indonesia bisa berjalan beriringan.

Nilai-nilai keislaman seperti keadilan, kasih sayang, dan toleransi berpadu dengan nilai keindonesiaan seperti gotong royong dan persatuan. Inilah wajah Islam Nusantara yang ramah dan membumi. Santri diharapkan terus merawat harmoni itu—menjadi muslim yang taat sekaligus warga negara yang setia.

Kesimpulan

Usia 126 tahun adalah anugerah, sekaligus amanah. Pesantren Tebuireng bukan hanya saksi sejarah, melainkan juga motor perubahan. Dari masa KH. Hasyim Asy’ari hingga generasi santri digital, pesantren ini konsisten menjaga harmoni Islam dan Indonesia. Tema “Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan” seolah menjadi cermin perjalanan panjang Tebuireng. Rizki Syahrul Ramadhan (2021) dalam tesisnya mengatakan bahwa beragama dengan baik justru membuat kita lebih mencintai tanah air. Bahwa mencintai Indonesia tidak berarti mengurangi keislaman, tetapi justru mengokohkannya.

Sebagai generasi hari ini, kita bisa belajar dari Tebuireng bahwa cinta tanah air dan iman memang tidak bisa dipisahkan. Islam dan Indonesia bukan dua jalan yang berbeda, melainkan satu napas yang terus dijaga hingga hari ini. Dan tugas kita sekarang adalah memastikan napas itu tetap hidup—bukan hanya di pesantren, tapi juga di keluarga, masyarakat, dan ruang digital tempat kita berada.

 

Penulis: Athi Suqya Rohmah

Editor: Muh. Sutan