7 Tahapan Perkembangan Islam Dalam Ayat Terakhir Surat Al-Fath

sumber gambar: wahidfoundation.org

محمد رسول الله، والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السحود ذالك مثلهم في التورىة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطئه فئازره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار وعد الله الذين ءامنوا وعملوا الصلحت منهم مغفرة وأجرا عظيما

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir. Tetapi berkasih-sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekutan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan  mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath: 29)

Ayat terakhir dari surat Al-fath tersebut biasanya seringkali dijadikan amalan-amalan oleh para auliya’ bila dalam pembangunan sebuah madrasah atau tempat pendidikan seperti pesantren, yayasan ataupun lembaga pendidikan lainnya, hingga langkah tersebut juga masih diamalkan dan menjadi wirid wajib oleh beberapa pesantren bila sedang dalam masa pembangunan pesantren. Pada dasarnya, ayat terakhir dari surat al-fath tersebut mengandung makna mendalam yang mengisyaratkan tentang  perkembangan Islam menurut Syaikh Maimoen Zubair, pengasuh pondok pesantren Sarang, Rembang. Dalam ayat tersebut, Islam mengalami tujuh tahapan perkembangan.

Pertama: Saat Rasulullah SAW lahir, tumbuh remaja, berkeluarga, kemudian diangkat menjadi nabi dan rasul di Mekah. Hal ini diisyaratkan dengan lafadz

محمد رسول الله

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kedua: saat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah serta menetap di kota tersebut bersama seluruh sahabat Muhajirin dan Anshor yang diisyaratkan dengan lafadz

والذين معه

Ketiga: masa-masa kekhalifahan yang dimulai sejak wafatnya Rasulullah SAW dan pemerintahan Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yang kemudian dilanjutkan dengan pemerintahan Bani Umayyah di syam. Selanjutnya, pemerintahan Bani Umayyah ditumbangkan oleh Bani Abbasiyah. Namun kejayaan Islam kembali diusung oleh Bani Umayah di (Asbania) Spanyol. Kejadian tersebut diisyaratkan dengan lafadz

🤔  Analisis KH. Abdullah Syarwani tentang Konflik Timur Tengah

أشداء على الكفار

Ketiga tahap pertama ini diisyaratkan dalam kitab Taurat dan disebutkan oleh Ka’ab al-Akhbar, dan diriwayatkan kisahnya dalam kitab Maulid ad-Diba’i

مولده في مكة وهحرته بالمدينة وسلطانه بالشام

Keempat: munculnya para imam ahli ijtihad yang dimulai dengan Imam Abu hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka merupakan ahli ilmu yang mempunyai simbol rahmat (belas kasih).

رحماء بينهم

Seperti halnya kisah nabi Musa yang berjumpa dengan Nabi Khidir dalam surat Al-Kahfi, juga disimbolkan dengan rahmat

Kelima: munculnya wali dan ulama besar setelah masa Hujjatul Islam, Imam Abu hamid al-Ghazali (tahun 500 H). Sebut saja Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, Syaikh Abil Hasan As-Syadzil, Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi dan lain sebagainya.

تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا

Keenam: masa daulah Turki Utsmani, Eropa Timur, Kroasia, Serbia dan Bosnia. Pada negara-negara ini, hukum islam tidak berjalan, akan tetapi shalat tetap dijalankan di masjid-masjid. Hal tersebut diisyaratkan dalam lafadz

سيماهم في وجوههم من أثر السحود

Ketujuh: Indonesia dan sekitarnya (Nusantara), setelah munculnya Israel. Hal tersebut disimbolkan dengan tanaman padi. Padi merupakan tannaman yang memiliki anak tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat 100 biji. Induk padi memelihara anaknya, menirakati anaknya sendiri sehingga biji-biji tersebut mampu tumbuh dan berdiri sendiri, tidak bergantung pada induknya. Sebagaimana Indonesia yang semestinya mampu untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada bangsa lain. Hal tersebut diisyaratkan dengan lafadz

ذالك مثلهم في التورىة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطئه فئازره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار وعد الله الذين ءامنوا وعملوا الصلحت منهم مغفرة وأجرا عظيما

*Disarikan dari Pengajian KH. Maimoen Zubair yang dihimpun dalam buku OASE JIWA oleh Kanthongumur.

**Ditulis kembali oleh Luluatul Mabruroh (Alumni Unhasy Jombang).