Wanita, Berapa Harga Dirimu?

745
(Foto Ilustrasi: Ghunniyatul Karimah)

Oleh: Vevi Alfi Maghfiroh

Dalam hidup, penghargaan orang lain tergantung bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Apabila kita mematok harga murah untuk diri kita, maka murah jugalah Allah akan menghargai kita. Sebaliknya jika harga standar ditetapkan tinggi, maka Allah pun akan memberikan penghargaan yang setimpal.

Harga tertinggi adalah ketakwaan, karena lewat ketakwaan inilah Allah akan menentukan penilaian terhadap setiap manusia, sedangkan harga yang lebih rendah adalah yang menyangkut fisik, seperti kecantikan, penampilan, kekayaan, atau jabatan. Semua ini dinilai rendah karena bersifat kebendaan yang sementara.

Bila kita menghargai diri dengan standar kebendaan ini, sungguh kita hanya memberi harga sebatas usia bumi saja, dan alam akhirat yang kekal justru tidak akan mau memberi harga kepada jasad kita.

Seharga Kecantikan

Jika kita merasa, akan dihargai orang hanya bila bisa menonjolkan kecantikan dan keindahan tubuh, maka harga diri kita hanya sebatas kecantikan itu. Hal ini sama dengan seekor burung merak yang sibuk memamerkan keindahan bulunya. Decak kagum dan pujian memang akan diperoleh, tetapi tujuan hidup yang demikian tentu tidak bisa dibenarkan.

Orang seperti ini hanya sibuk merawat kecantikannya. Tak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus diberikan dan berapa banyak pelanggaran yang harus dilakukan. Yang penting tampil cantik dan menarik, dan menjadi idola banyak orang.

Seharga Penampilan

Hampir sama dengan harga berdasar kecantikan, wanita seharga penampilan ini baru merasa akan dihargai orang jika ia bisa tampil dengan prima. Maka perhatiannya pun terpusat untuk memikirkan penampilan apa yang paling trend? Baju mini mana yang sedang digemari? Atau semerbak parfum apa yang wangi? Maka demi penampilan yang prima ini orang rela mencarinya hingga ke ujung dunia.

Seharga Kemewahan

Pernahkan kita iri melihat sekelompok wanita dengan penampilan trendy, mengendarai mobil BMW, berbelanja baju-baju mahal di butik dan membayarnya hanya dengan kartu kredit dan ATM? Terlintaskah keinginan untuk meniru dan merasakan kenyamanannya? Jika pernah, berarti ini sudah gejala buruk bahwa kita mulai menghargai diri senilai kemewahan. Merasa bahwa diri ini akan dilihat orang jika mampu hidup mewah.

Seharga Jabatan

Apakah kita sangat berambisi mengejar karir dan jabatan demi nama baik? Itu sama artinya dengan menghargai diri sebatas pada jabatan. Lantas jika tidak memiliki jabatan atau karir merasa diri sebagai wanita murahan.

  Meraih Manisnya Iman

Perasaan seperti inilah yang akan mendorong berbagai pengorbanan hingga hal-hal yang tidak lagi proporsional. Demi karir, ibu-ibu rela meninggalkan balitanya untuk ditunggui baby sitter yang belum tentu juga bisa mendidik anaknya dengan baik. Demi karir juga, seorang istri harus menelantarkan suaminya. Bahkan demi jabatan dan status, banyak orang rela memberikan uang pelicin.

Seharga Kepandaian

Ataukah kita berpendapat bahwa wanita sejati hanyalah yang mumpuni dalam bidang keahlian tertentu? Yang berhak menyandang sederetan gelar dan disebut cendekiawan? Yang digolongkan sebagai tenaga ahli dan pakar?

Namun bukan berarti ilmu pengetahuan tak penting bagi wanita, tetapi yang harus dihindari adalah sekolah untuk mengejar gelar. Lantas berharap dari gelar yang disandang itu akan mendapat tempat tinggi dalam masyarakat.

Semakin banyak ilmu pengetahuan yang diperoleh tentu semakin baik, asalkan kita tidak menjadi sombong dengan gelar yang ada. Tidak merasa hanya akan dihargai bila mengedepankan gelar-gelar itu.

Seharga Keimanan

Jalan terbaik adalah memasang harga diri tinggi, yaitu berdasarkan keimanan. Standar ini mendorong kita untuk merasa memiliki harga diri yang kekal abadi, tidak ikut terkubur oleh kehancuran bumi. Dengan harga diri seperti ini, kita bisa bersikap penuh keyakinan, sama sekali tidak tergiur iming-iming kebendaan apapun, karena harapan satu-satunya adalah keridloan Allah SWT.

Hanya dengan cara inilah kita bisa hidup tenang, tentram, bahagia dan penuh percaya diri. Keimanan yang tinggi sudah cukup membuat diri kita bangga, tidak lagi iri dengan segala macam kelebihan orang lain selain kelebihan iman. Sebaliknya kita sama sekali merasa tidak berharga manakala keimanan sempat kendur. Sehingga kita jauh dari Allah SWT.

Namun, bukan berarti harus anti terhadap kebendaan dunia, sehingga kita lupa terhadap tugas kita sebagai khalifah di bumi. Yang dimaksud menghargai diri dengan harga keimanan, adalah semua hanya sampai di tangan, tidak sampai di hati. Mereka hanya menjadi medium, sejauh mana ketakwaan dan penghambaan diri kita pada Allah SWT.

Sahabat muslimah, mulai sekarang tentukan pilihan anda!!!!


[1] Disarikan dari kitab Nisaiyyah jilid 5 (KMI: 1997)