Mendidik Perilaku Anak Kita

729
KH Salahuddin Wahid ketika sambutan dalam Wisuda Purna Siswa pada 26 Mei 2016. (Foto: Abror)

Oleh: Dr. (H.C). Ir KH. Salahuddin Wahid

Akhir-akhir ini kita semua mendengar, membaca dan mengamati perkembangan mengenai banyak peristiwa yang membuat kita prihatin. Berbagai kasus kekerasan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak-anak yang masih sangat muda. Mulai dari menganiaya, memperkosa bahkan membunuh rekannya sendiri. Saya mempunyai catatan singkat tentang kekerasan yang dilakukan oleh selain anak-anak. Tahun 2010 kekerasan terhadap perempuan mencapai 120.000 kasus. Kemudian pada tahun 2015 meningkat menjadi 370.000 kasus.

Kekerasan menjadi sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan. Kasus kekerasan yang muncul saat ini adalah fenomena gunung es, tampak hanya permukaannya saja padahal sebenarnya, di bawah gunung es tersimpan gundukan kasus yang lebih besar dan dalam. Masih banyak kasus kekerasan yang tidak kita ketahui.

Kita masih mengenal Yuyun, bocah belia yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 orang. Bahkan enam dari 14 pemerkosa itu adalah anak di bawah umur. Dua di antaranya tercatat sebagai siswa SMP.

Lalu Eno Fariha (18),  karyawati pabrik PT PGM yang diperkosa dan dibunuh dengan tidak berprikemanusiaan. Kemudian ada seorang guru memperkosa murid, dan Soni Sandra, pengusaha yang diduga memperkosa anak di bawah umur.

Melihat semua kejadian itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) untuk memberi efek jera. Di antaranya adalah hukuman penjara yang semula maksimal 15 tahun menjadi seumur hidup, dikebiri bahkan ditanam chip agar bisa dipantau.

Perpu untuk menanggulangi kekerasan seksual pada anak adalah penting. Namun menurut saya, kita perlu mencari akar permasalahan untuk mencari solusi yang terbaik. Salah satunya adalah pendidikan oleh orang tua, keluarga dan guru.

Menurut penelitian, sebagian besar pelaku kekerasan adalah orang yang pernah menerima prilaku kekerasan ketika kecil. Jadi kita ingin mengurangi itu dengan mencegah terjadinya kekerasan sejak mereka masih anak-anak.

Sebagai orang tua, kita berkewajiban mendidik tata krama anak kita dengan baik, sama seperti halnya kita melatih anak kita untuk bisa memakai baju sendiri, menulis, membaca dan lain-lain. Kita juga harus melatih dan membimbing mereka untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan sifat peduli terhadap orang lain. Itu tugas kita sebagai orang tua, anak perlu dibimbing untuk menghormati orang lain sejak dini. Termasuk menghormati hak orang lain, barang-barang milik orang lain dan meminta izin pinjam sebelum memakai sesuatu milik orang lain.

Sebagai orang tua, mendidik anak-anak dengan baik adalah kewajiban. Menuntun anak untuk bertutur kata dengan baik dan sopan. Hindari sesering mungkin menggunakan ungkapan kasar dan kotor. Sehingga apa yang kita lakukan akan menjadi teladan dan contoh yang baik pada anak-anak. Kelak, akan mempermudah mereka untuk berinteraksi, bekerjasama dan bertetangga dengan masyarakat. Tentu dengan nilai-nilai dan sikap yang baik pula.

Penggunaan bahasa yang baik dan sopan saat minta tolong pada orang lain harus diajarkan. Misalkan dengan mendahulukan kata maaf, “maaf, boleh minta tolong?” Ketika seseorang sudah dengan rela menolong kita, ucapkanlah terima kasih sebagai pembiasaan yang baik. Walaupun yang menolong adalah pembantu rumah tangga kita.

Hasil sebuah penelitian tentang pengaruh prilaku anak yang diambil dari sebuah sekolah tingkat SMA di Jakarta, bisa jadi penelitian ini belum tentu berlaku di kota-kota kecil seperti Jombang dan kota kecil lainnya. Tapi itu bisa menjadi informasi dan perhatian kita.

  Gus Sholah: Hedonisme dan Materialisme Tak Sesuai dengan Humanisme Islam

Dalam penelitian tersebut, membagi pengaruh perilaku siswa dalam tiga kelompok, pertama pengaruh modal sosial. Modal sosial ini terdiri dari pendidikan agama, orang tua, guru dan teman. Kedua, pengaruh dari jejaring sosial, facebook, twitter, dan lain-lain termasuk media online atau internet. Ketiga adalah pengaruh empati.

Menurut penelitian itu, modal sosial berada di urutan paling rendah, 0,36. Disusul jejaring sosial 0,47 dan selanjutnya adalah pengaruh empati 0,50. Pengaruh guru dan kawan hanya 0,36. Nah pengaruh empati inilah yang harus kita tumbuhkan di dalam diri anak-anak kita.

Jika orang tua menyerahkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren, maka tanggung jawab pendidikan anak dialihkan ke pesantren, dialihkan kepada pengasuh, kepala sekolah, kepala pondok, para ustadz dan para pembina. Mereka yang mendampingi santri, khususnya pembina, bertugas dan bertanggung jawab untuk membimbing anak-anak kita.  Supaya mereka bisa terjaga dari hal-hal yang berbau kekerasan.

Pembina di Pesantren Tebuireng adalah ustadz yang menemani santri ketika di pondok dan di kamar. Satu kamar untuk para santri ditemani oleh satu pembina. Namun permasalahan muncul ketika tidak semua pembina selalu ada di kamarnya. Sehingga, orang tua yang ingin mengetahui perkembangan anak-anaknya sedikit terhambat. Untuk menambal kekurangan itu, kami telah menyelenggarakan Diklat (Pendidikan dan Latihan) bagi calon pembina dan kader Pesantren Tebuireng selama empat bulan. Sekitar 23 mahasantri Ma’had Aly dan sarjana Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) menjadi peserta pada angkatan pertama (28 peserta pada angkatan kedua dan sekarang sedang berlangsung angakatan ketiga dengan 26 peserta).

Dalam Diklat, pendidikan militer menjadi materi yang diajarkan untuk menanamkan nilai dan praktik kedisiplinan agar para kader pesantren Tebuireng juga mampu melatih disiplin kepada para santri. Kemudian mengundang para pakar dan praktisi yang berpengalaman, seperti para dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), pengasuh Pesantren Gontor (PMDG), Erbe Sentanu (Quantum Ikhlas) founder Katahati Institute dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka bersama dan bekerjasama memberikan materi pada Diklat secara berkala.

Harapan ke depan tentu yang terbaik. Semoga setelah menjalani Diklat, para pembina dan kader pesantren Tebuireng mampu melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Program pelaporan secara berkala, mungkin seminggu sekali atau dua kali kepada orang tua santri tentang perkembangan buah hatinya menjadi rancangan agenda ke depan.

Di pondok anak-anak diajak mampu untuk berinteraksi dengan banyak kawan-kawannya yang berasal dari berbagai daerah. Lalu melakukan kegiatan-kegiatan yang memberi pengalaman-pengalaman baru, seperti pagelaran seni, yang hampir seluruh perencanaan dan pelaksanaan dilakukan oleh para santri. Seperti pendirian panggung, menghias latar panggung, mengatur jalannya kegiatan dan seterusnya. Itu semua adalah pengalaman positif yang akan mereka kenang sampai tua.

Mudah-mudahan kedepannya lebih baik lagi pelaksanaan pendidikan kita ini. Juga mohon dukungan dan kerjasama walisantri dengan pembina yang akan berperan vital bagi tumbuh kembang anak-anak.


*Artikel ini disarikan dari pidato sambutan KH Salahuddin Wahid dalam acara wisuda Purna Siswa Yayasan KH. M. Hasyim Asy’ari. Ahad, 29 Mei 2016.