Tebuireng.online—Saat ini, tidak sedikit organisasi masyarakat (ormas) yang berebut sebagai ormas yang paling Aswaja namun tidak menunjukkan sisi keaswajaannya dalam implementasi beragama, berbangsa, dan bernegara.

Kebanyakan kelompok yang mengatasnamakan aswaja tetapi tidak berakidah layaknya ulama aswaja pada ahir-ahir ini membuat KH. Marzuki Mustamar geram dan menyayangkan tindakan ormas model barbar ini.

“Banyak yang demo dan mengajak umat Islam dengan mengaku aswaja tapi dalam qonun asasi dan ADRT-nya tidak mencantumkan kaidah yang dilakukan para ulama terdahulu (salafussholeh),” ujar kiai asal Malang itu saat mengisi pengajian di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Selasa ( 18/4/2017) malam.

Menurut Kiai Marzuki yang juga Ketua Tanfidziyah PCNU Malang ini bahwa Aswaja yang ideal itu mengikuti Imam Maturidi, Imam Asya’ari, Ghozali, Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali.

Ngaku aswaja tapi dakwahnya dengan kekerasan, main hakim sendiri, dan marah-marah. Ini Aswaja abal-abalan. Amar ma’ruf itu penting tapi cara damai juga penting. Sebab siapa yang berhasil mengambil hati maka akan berhasil memiliki,” tegasnya.

Kiai Marzuki juga mengingatkan warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk tetap berpegang teguh pada Aswaja an nahdliyyah yang sesuai dengan konsep pemahaman Islam rasul dan para sahabat hingga alim ulama yang sanadnya tidak putus dari rasul. Karena nasab keilmuan dari pendiri dan kiai-kiai NU dapat dipertanggungjawabkan.

“Aswaja yang dicontohkan Kiai Hasyim dan Kiai Wahab mengajarkan kita untuk seimbang antara jiwa islamiyah dan wathoniyah. Kalau hanya perhatian pada masalah agama saja maka negara kita rusak. Sedangkan bila hanya ngurusi perkara negara saja lupa agama maka bisa kacau,” imbuh kiai yang juga mantan Aktivis PMII ini.

Beliau menyayangkan sikap brutal yang ditampilkan beberapa ormas Islam ketika berbeda dalam pilihan politik. Kelompok ini sering membuat gaduh, provokasi, dan brutal.

  Risalah Empat Nasihat KH. Hasyim Asy'ari

“Dakwah itu butuh suasana adem ayem, tenang, guyub dan akrab. Kita tidak bisa sholat dengan khusyu, belajar ilmu agama, dan membangun negara bila negara kita kacau,” pungkasnya.


Pewarta:          Rif’atuz Zuhro

Editor:             Farha Kamalia

Publisher:        Farha K.