Yang Waras dan Sehat Akalnya, Jangan Mengalah

201

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

“Ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon yang tidak bisa berbuah.”

Seperti yang saya tulis sebelumnya, saat ini zaman hoaxisme. Seseorang begitu mudah dan gampang menulis, mem-posting, menyebarkan sesuatu tanpa berbasis data yang akurat, jelas, dan benar. Tidak melihat apa itu benar atau salah, yang penting sebarkan sana dan sini.

Kalau dulu, ada pepatah kuno: “yang waras ngalah”, tapi saat ini menurut saya justru sebaliknya, “yang sehat akalnya dan dalam ilmunya, alim orangnya, tidak boleh diam dan mengalah”. Sebab bila yang berilmu tinggi dan alim semakin diam, semakin rusak pula tatanan kehidupan ini. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam kesempatan lain, saya bahkan pernah menulis: “saat ini, para masyayikh, kiai-kiai, ulama yang ada di pedalaman kampung dan desa, jauh dari hiruk-pikuk jagat maya, tidak kenal dunia maya, dunia media sosial, youtube, instagram, twitter, whatsapp, facebook dan lain-lain, seharusnya sudah waktunya ilmu-ilmu beliau itu disebarluaskan, supaya semakin diketahui umat, publik harus banyak mengetahuinya”.

Ini zaman millenial, lebih dari 75 juta penduduk Indonesia ini sudah ber-medsos ria. Kalau orang yang berilmu dan sanad keilmuan lebih jelas, semakin mengalah dan diam, tidak bicara, tidak menulis. Nanti semakin bagaimana kehidupan umat manusia ini. Yang salah jadi benar, dan yang benar disalah-salahkan.

Kiai-kiai pesantren, para ustadz diniyyah di pondok, para masyayikh dan ulama NU yang ada di pelosok-pelosok desa, menurut saya sudah waktunya turun gelanggang, menuju medan “perang” dunia maya. Peran tulisan, “perang” ilmu dan medsos, perang “dakwah” melalui youtube, twitter, dan lain-lain. Mentransformasikan kitab-kitab kuning “kutub al tsurats” ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami dan dimengerti oleh umat. Ini yang paling penting saat ini menurut saya.

🤔  Habiskan Hartamu, Maka Kau Kaya

Diceritakan, zaman dulu kala. Ada seorang laki-laki dari Bani Israil sampai mengumpulkan 70 peti yang semuanya berisi ilmu. Tetapi pada suatu ketika, lelaki itu tidak bisa mengambil manfaat dari ilmu yang ia kumpulkan dalam jumlah besar itu.

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi mereka, yaitu Nabi Musa alaihi al-Salam. Wahai Musa katakan kepada mereka itu : “Andaikan engkau mengumpulkan banyak ilmu, tetapi ilmu nya itu tidak bermanfaat. Maka amalkanlah dengan tiga perkara:

1. Jangan terlalu senang dengan dunia dan gemerlapnya dunia.

2. Jangan temani syaitan (hawa nafsu) untuk menjauhi perintah Allah dan Rasul-Nya.

3. Jangan sekali-kali menyakiti sesama hamba Allah (baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan).

Untuk menunjukkan umat ke jalan yang benar, jalan Ilmu, jalan kemaslahatan dan jalan yang hudan li al-nas wa bayyinah min al-huda wa al-furqan. Maka yang alim, yang faqih, yang waras akalnya, tidak boleh diam dan mengalah. Wallahu A’lam.


*Disarikan dari kandungan isi Kitab Nashoihul ‘Ibad

**Khadim Pesantren Peradaban AL-AULA Kombangan Bangkalan Madura