
Tebuireng.online— Ribuan santri mengikuti prosesi wisuda tingkat SLTA Yayasan KH. Hasim Asy’ari Pesantren Tebuireng yang digelar pada Ahad (24 Mei 2026) di lapangan SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng. Momen wisuda tidak hanya menjadi penanda kelulusan, tetapi juga penuh haru, rasa syukur, serta harapan besar dari para santri dan wali santri untuk masa depan.
Baca Juga: Tebuireng Lepas 818 Wisudawan SLTA, Santri Siap Hadapi Era AI dengan Iman dan Ilmu
Salah satu wisudawati dari MA Sains Tebuireng Putri, Husnina Qurrotu A’yin asal Madiun, mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada jurusan Biologi Murni. Menurutnya, biologi merupakan bidang yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia.
“Saya suka biologi, dan menurut saya biologi adalah salah satu potensi terbesar Indonesia yang sampai sekarang belum banyak disentuh atau diolah. Padahal kalau ini dikembangkan, bisa melahirkan teknologi baru yang bermanfaat untuk keberlanjutan masa depan,” ujarnya.
Ia juga merasa bangga menjadi santri ketika mampu mengamalkan nilai-nilai pesantren secara konsisten di kehidupan sehari-hari tanpa rasa keterpaksaan.
Sementara itu, Fauziah Maratus Shofiah, siswi kelas 12 Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng asal Mojokerto, memaknai wisuda sebagai sebuah tahapan untuk melanjutkan perjalanan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Wisuda itu sebenarnya hanya sebuah prosesi yang membuat kita sadar kalau kita sudah sampai di jenjang ini dan harus melanjutkan ke tahap selanjutnya,” katanya.
Fauziah juga menyebut sosok Kiai Mustakim sebagai motivator terbesar selama dirinya menempuh pendidikan di Tebuireng.
Baca Juga: Inspiratif! Siswa Ini Tampil Memukau di Panggung Wisuda

Nuansa haru juga dirasakan Izzi Uqba Alif Mufa, santri dari SMA Trensains Tebuireng asal Jepara, Jawa Tengah. Ia menilai prosesi sungkeman menjadi bagian paling menyentuh dalam wisuda.
“Wisuda itu seperti momen untuk kembali kepada orang tua dan para masyaikh. Saat sungkeman, kita seperti diingatkan agar setelah lulus tidak menjadi pribadi yang tinggi hati,” tuturnya.
Baginya, pengalaman paling berkesan selama mondok adalah belajar menulis. Menurutnya, budaya menulis menjadi salah satu cara santri untuk terus menjaga keberlangsungan pesantren dan pemikiran para ulama.
Hal serupa juga dirasakan Risma Nur Talita dari SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng jurusan Multimedia. Ia mengaku tantangan terbesar selama mondok adalah belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakter teman tanpa kehilangan jati diri.
Baca Juga: Gelar Wisuda Purnasiswa, Tebuireng Lepas 879 Wisudawan Tingkat SD dan SLTP
“Kita harus bisa menyesuaikan diri, tapi tetap berkembang dan tidak tenggelam dalam lingkungan,” ujarnya.
Risma pun berpesan kepada adik kelas agar tetap semangat mengejar cita-cita dan yakin terhadap kemampuan diri sendiri.
Santriwati lainnya, Siti Maulidaniyah Hayatul Husna dari SMA Abdul Wahid Hasyim Tebuireng asal Sampit, Kalimantan Tengah, mengatakan bahwa pelajaran hidup paling penting selama di pesantren adalah kepedulian terhadap sesama.
“Kami hidup jauh dari orang tua, jadi harus saling membantu, saling mengerti kondisi teman, dan menjadi pendengar yang baik,” ungkapnya.
Ia berharap setelah lulus dapat menjadi pribadi sukses yang mampu membawa nama baik Tebuireng di masa depan.
Sementara itu, Muhammad Wandis Arasyadi asal Banten dari Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng mengaku pengalaman paling berkesan selama mondok adalah kegiatan mengaji kitab dan berorganisasi.
“Ngaji kitab dan kegiatan organisasi itu punya kesan tersendiri karena dilakukan bersama-sama,” katanya.
Baca Juga: Wisuda Takhassus dan Bin Nadhor 2026, Luluskan 592 Santri
Ia berharap Pondok Pesantren Tebuireng terus mencetak santri-santri kreatif dan berprestasi.
Tidak hanya santri, rasa bangga juga disampaikan para wali santri. Rudi, wali santri asal Gresik, mengaku bahagia melihat putranya berhasil menyelesaikan pendidikan di Muallimin Tebuireng.
“Kami sebagai wali santri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pengasuh dan guru-guru di Pondok Pesantren Tebuireng,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Mutmainnah, wali santri asal Pemalang, Jawa Tengah. Ia berharap putranya dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama.
“Harapannya menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat untuk banyak orang,” tuturnya.
Tim liputan: Fiki / Mayang (Tebuireng 3)


















