Wanita Tanggap Problematika Kehidupan

Oleh: Qanaatun Putri*

Nyai Hj. Nur Laili Rahma, M.Pd adalah Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah “Khoiriyah Hasyim” Seblak Jombang Jawa Timur. Selain jadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga menjabat sebagai direktur utama di Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang. Juga pernah menjadi Kepala Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Seblak.

Beliau merupakan anak dari Ibu Nyai Djamilah. Ibu Nyai Djamilah adalah putri dari Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim. Nenek dari Nyai Hj. Nur Laili Rahma, M.Pd yakni Nyai Khoiriyah Hasyim adalah seorang penggagas sekolah perempuan pertama di Makkah. Beliau merupakan seorang ulama perempuan asal Indonesia yang mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Makkah, Arab Saudi. Ia menggagagas sebuah sekolah yang diberi nama Madrasah Banat.

Bu Nyai Hj. Nur Laili Rahma, M. Pd yang sering disebut dengan panggilan Ibu Lilik merupakan salah satu cicit dari pendiri Nahdhatul Ulama yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Ibu Lilik juga merupakan salah satu cucu dari pengarang kitab yang mendunia, yang selalu digunakan oleh setiap pondok-pondok pesantren di nusantara yaitu kitab amsilati tasrifiyah, lebih tepatnya adalah KH. Mahsum Ali. Kyai Mahsum Ali bersama Nyai Khoiriyah Hasyim adalah pendiri pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah “Khoiriyah Hasyim” Seblak. Yang beralamat di Jl. Pondok Seblak No.150 (tromol pos 4) Kwaron Diwek Jombang Jawa Timur. Yang kini sekarang memiliki beberapa unit pendidikan, mulai dari paud hingga madrasah aliyah.

Suatu ketika beliau mengajarkan kepada santrinya untuk istiqomah dalam membaca al-Quran satu juz sebelum tidur dan sesudah tidur. Shalat tepat pada waktunya selalu diingatkan oleh beliau. Selain memanage keseharian santri, beliau juga tidak lupa memanage seluruh aktivitas di keluarganya. Sehingga jarang sekali membeli baik makanan, minuman, maupun pakaian. Semuanya diatur dalam manajemennya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketika covid-19 melanda beliau lebih suka membuat masker kain sendiri dengan jahitan sendiri lalu dibagi-bagikan, daripada harus beli. Menjelang lebaran, beliau tak lupa menyuguhkan kue-kue lebaran, dan para santrinya diajak dalam pembuatan kue tersebut.
“Saya lebih suka membikin kue sendiri daripada beli? Karena banyak orang yang ngaterin bahan sehingga saya buat bikin kue, toh jika kita membuat sendiri bakal tahu kebersihannya, kesuciannya.

🤔  Haflah AKhir Sanah Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, 180 Siswa Diwisuda

Karena kadang orang membikin kue itu seperti telur tidak dicuci, padahal ada kotoran ayam. Seharusnya dicuci terlebih dahulu, agar suci dan tidak takut jika nanti jatuh kedalam adonannya. Selain itu ketika kita membuat kue, kita bakal lebih memahami proses karena butuh kesabaran, ketlatenan juga. Dan membuat kue sendiri itu lebih memuaskan rasanya, karena hasil karya sendiri,” ungkap Bu Lilik.

Saat covid-19 melanda, posisi keuangan menurun drastis, sehingga beliau harus memanage keuangan agar bisa bertahan. Beliau mengajarkan santrinya agar menjadikan rebahannya sebagai rebahan yang produktif. Alhasil, para santri diajarkan membuat produk “Makmaknik” yang kepanjangan dari Makanan Makin Nikmat. Setiap hari santri mengupas kentang, memasrah, dan menggorengnya. Sehingga menghasilkan makanan ringan yang enak sekali dimakan baik dibuat cemilan, maupun dibuat lauk. Kering kentang tersebut dijual dengan harga Rp. 15.000,- per bungkus, selain dipasarkan secara mandiri, beliau juga memasarkan via online. Karena pada musim yang dialami seperti sekarang ini sangat cocok sekali dalam penjualan via online, maka makmaknik dijual di whatsapp, shopee, instagram. Sosmed akan menjadi sistem pemasaran yang bermanfaat dan menguntungkan.

“Kita sebagai perempuan harus mutitasking, karena emansipasi wanita yang mendorong kita untuk lebih tanggap pada suatu problematika kehidupan, tidak hanya 3M (macak, manak, masak) saja,” ungkap pengasuh Pondok Seblak ini.

Ibu Lilik juga mengatur makanan agar kita tetap hidup sehat dan irit, setiap belanja sayur beliau sering memilah-milah sayur yang paling dibutuhkan dan menimbangnya agar bertahan beberapa hari. Menurut para santri beliau adalah wanita tangguh yang pernah dikenal karena selain tegas, terampil, telaten, ulet, suka kebersihan, dan juga pintar memanage setiap hal. Banyak alumni pondok seblak yang sukses diluar sana, berkat ketlanenan yang diajarkan oleh beliau. Ada yang menjadi Rektor, pengusaha sukses, DPRD, dan lain sebagainya. Santri kini hanya bisa mengharapkan keberkahannya.


*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari