sumber ilustrasi: mediaindonesia.com

Oleh: Yasinta Nurlaila*

Senja seperti malam

gelap gulita tanpa lampu di pingir jalan maupun mega merah dalam kelam

sayup-sayup terdengar jerit tangis dalam balutan semu tanpa rupa nan nada

kali ini, dia berdiri dalam hujan lebat di ujung lorong sunyi juga sepi

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

sosoknya yang tak jauh dari pohon tua rapuh namun rimbun

membuat mata yang memandang, menggerakkan kaki untuk melangkah

 

hawa dingin yang merasuk dan menyayat hati baginya

kuintip di balik jendela kaca tak tembus pandang

melangkah demi langkah tubuh reotnya membawa diri

membawa payung hitam bak tameng kesedihan yang begitu dalam

           

sesekali kulihat, tangan keriputnya menyeka air mata

ternyata wanita di balik payung hitam itu

wanita sebatang kara berteman duka dan lara tanpa buah hati pengobat nestapa

tak kenal panas bahkan hujan petir yang datang menghampirinya

payung hitamnya membawa diri, ke tempat peristirahatan terakhir teman hidupnya

dia kini hanya sendiri, menghambiskan sisa nafasnya menebar bunga diatas makam suaminya.

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

 

 

 

 

SebelumnyaKH. Hasyim Asy’ari Itu Seorang Bakul
BerikutnyaSoal Literasi Digital Santri, Begini Pesan Pengasuh Tebuireng