KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Pesatren Tebuireng).

Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #2

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Mungkin kita bertanya-tanya apasih yang menjadikan KH. Hasyim Asy’ari begitu punya aset sebesar Tebuireng. Tanah yang luas, aset yang besar, lembaga yang besar, dan santri yang terus berkembang. Saat mendirikan pesantren, KH. Hasyim tak punya apa-apa. Bangunan tratak hanya sepetak dibagi dua. Tanah pun disubsidi oleh seorang dalam ternama Jombang, Dalang Sakiban.

Lalu, apa yang dilakukan beliau sehingga pesantren semakin pesat? Syahriah (SPP) santri. Tanpa memutar otak pun ini sangat bisa dibantah. Santri zaman dahulu, orang tua mereka tak seberdaya sekarang. Banyak di antaranya mereka bahkan miskin dan tidak berada. Kaum tertindas yang memondokkan anak mereka karena takut ikut-ikutan tertindas dan menderita.

Seperti penuturan KH. Abdurrahman Bajuri, santri Kiai Hasyim asal Purworejo yang masih hidup hingga sekarang. Beliau dipondokkan di Tebuireng karena nyawanya terancam oleh kekejaman Belanda. Jadi dugaan pertama sumber pendapatan Tebuireng zaman Kiai Hasyim dari SPP santri terpatahkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ah mungkin saja dari warisan? Apalagi teori ini. Sangat tidak sesuai dengan fakta. Kiai Hasyim benar-benar mandiri, bahkan tak banyak bantuan dari Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah dalam materi. Seperti yang penulis sampaikan di atas, tanah saja subsidi dari Dalang Sakiban. Bantuan dari Kiai Asy’ari adalah moril, tenaga, pastinya spiritual. Santri-santri Pesantren Keras asuhan Kiai Asy’ari banyak yang diperbantukan kepada Kiai Hasyim. Bahkan 8 santri pertama Tebuireng merupakan santri Keras.

Teori ketiga, sumbangan? Pernah dengar cerita Kiai Hasyim menolak sumbangan dari ibu-ibu Muslimat NU? Sekumpulan ibu-ibu Muslimat sowan kepada Kiai Hasyim dan memberikan uang sumbangan untuk pengembangan Pesantren Tebuireng. Ditolak halus oleh KH. Hasyim. Alih-alih menerima, Kiai Hasyim malah menasihati ibu-ibu itu untuk menggunakan uang itu modal kemandirian perempuan. Membentuk yayasan sosial dan pengembangan pendidikan generasi umat. Tak pelak, hingga sekarang Muslimat NU menjadi organisasi mandiri lebih mandiri dari induk NU sendiri.

Setelah peristiwa itu, KH. Hasyim Asy’ari dalam kesempatan memberikan ceramah dan pengajaran kepada para santrinya menjelaskan pentingnya mandiri dan kerja keras sebagai bagian dari ajaran Islam. Beliau mengutip perkataan Umar bin Khattab ra. yang membantah sebagian orang yang menganggap bahwa tawakkal dan sabar sebagai pasrah kepada Allah sepenuhnya tanpa ikhtiar dan usaha, Umar berkata: “Allah tidak akan menurunkan emas dari langit”

“Tidak hanya Umar, Abu Hanifah juga pedagang kain yang rajin. Untuk itu dijuluki al  Bazzar”

“Ayah Imam al Ghazali juga seorang pemintal benang. Sari al Saqathi, seorang sufi besar, seorang saudagar bangunan. Abu Qosim al Junaidi, memiliki toko pemecah kaca, dan dilayani sendiri. Mereka bekerja bukan karena kedonyan (keduniawian) tetapi memang begitu ajaran Islam”.

Lah lantas dari manakah Kiai Hasyim mengembangkan Tebuireng? Di tulisan seri #1 penulis membahas kiprah Kiai Hasyim dalam bidang pertanian dan agraria. Di seri #2 ingin membahas soal kiprah beliau dalam perniagaan atau perdagangan sebagai bentuk usaha swadaya ekonomi Tebuireng. Kiai Hasyim merupakan sosok kiai sekaligus bakul, tentunya yang jujur, kredibel, amanah, dan terpercaya.

Pertama, Kiai Hasyim adalah kiai bakul hasil pertanian. Hasil panen sawah dan kebun milik Tebuireng, yang digarap santri dan masyarakat dijual. Kalaulah hari Selasa merupakan hari pertanian, bagi Kiai Hasyim hari Jumat adalah hari berdagang. Setiap dua minggu sekali, Kiai hasyim menjualkan hasil kebun di Pasar Cukir. Beliau sendiri yang menjualnya, ditenami oleh dua orang santri beliau, yang kelak juga jadi kiai besar, Kiai Ahyat Khalimi Mojokerto dan Kiai Muchtar Syafaat Banyuwangi.

Kedua, Kiai Hasyim juga berbisnis besi tua dan kuda. Terkadang juga pergi ke Surabaya untuk berjualan kuda dan besi. Hasil itu lagi-lagi untuk membeli buku dan kitab sebagai bahan ajar dan menulis kitab. Kuda-kuda itu dirawat di Tebuireng oleh santri-santri dan pegawai beliau. Santri yang bertugas merawat kuda adalah Marto Lemu, mantan anak buah Wiro, preman Tjoekir yang insaf.

Marto Lemu punya jaringan luas soal perdagangan kuda, bahkan hingga pasar luar kota. Kuda-kuda mandor tebu dijual untuk keperluan judi. Marto Lemu menginformasikan kepada Kiai Hasyim dan langsung berangkat ke pasar untuk berjual-beli kuda.

Setelah jual beli kuda, bersama Marto Lemu ini, Kiai Hasyim naik kereta ke Pasar Gubeng Surabaya untuk membeli buku/kitab berbahasa Melayu, Arab, dan Jawa. Saking banyak yang membeli sampai tidak kuat membawa. Saking banyaknya kuda yang diperjualbelikan, sampai harus membuat kandang kuda di dekat kolam ikan. Kitab-kitab yang dibeli menjadi koleksi di perpustakaan Tebuireng.

Penulis pernah mengontrak rumah di Desa Kwaron sekitar 2 KM dari Tebuireng. Pemilik rumah mengaku ayahnya dulu merupakan peternak kuda, teman bisnis Kiai Hasyim. Terkadang Kiai Hasyim yang datang ke rumahnya untuk melihat-lihat kuda untuk dibeli dan dijual lagi, atau untuk mengawinkan kuda untuk mendapatkan anakan kuda yang nanti dibesarkan untuk dijual.

Selain kuda, beberapa hewan ternak juga dikembangkan oleh beliau, seperti ikan, unggas, dan kambing-sapi. Santri beliau juga yang diminta untuk menggembalakan kambing, dan mengurus kolam-kolam ikan.

Ketiga, Kiai Hasyim mengakomodir pedagang sekitar Tebuireng. Warga sekitar Tebuireng diperbolehkan berjualan di dekat pesantren. Menjamurnya pedagang itu dikarenakan Tebuireng telah memiliki santri ribuan. Cerita yang pernah disampaikan oleh Almarhum Gus Zaki Hadziq, salah satu cucu beliau, soal warga yang berjualan di kawasan Pesantren Tebuireng, ada syarat yang harus dipatuhi salah satunya adalah dagangan antarsatu pedagang dan pedagang lain tidak boleh sama. Pedagang yang jual nasi tidak boleh jual lontong. Begitupula pedagang yang jual minuman, tidak boleh jual roti. Jika ada yang melanggar, akan ada sanksi dari keamanan yang ditugaskan oleh kiai Hasyim.

Suatu saat, ada pedagang yang melanggar aturan yang telah ditetapkan pesantren dan keamanan melaporkan ke pengasuh. Maka keamanan kemudian memberikan sanksi kepada pedagang yang melanggar. Sanksi itu hanya berupa tulisan yang diletakkan di masjid pondok, dalam pengumuman sanksi itu tertulis si fulan melanggar aturan. Hasilnya, tidak ada santri yang membeli dagangan si fulan alias tidak laku sama sekali.

Penataan pedagang ini, menurutnya, agar tidak terjadi monopoli dagangan satu jenis. Sehingga sesama pedagang bisa mendapat keuntungan dan ekonomi bisa merata. Sungguh ketaatan para pedagang kepada aturan pondok luar biasa. Ini merupakan ajaran di luar lingkungan pesantren yang perlu kita lakukan bersama.

Hal terakhir ini, sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. Konsep kolaborasi perdagangan di Tebuireng saat itu diatur agar sama-sama untung. Persaingan pedangan membawa petaka karena iri dan monopoli. Maka sangat aneh jika pesantren juga ikut-ikutan memonopoli perdangan. Pesantren harus dapat menjadi rahmat dan anugerah indah bagi pedagang-pedagang kecil. Tipsnya, bisa tawasul kepada Kiai Hasyim, bisa jadi dapat wangsit, cara menata pedagang zaman beliau seperti apa. Bisa jadi cara beliau ternyata ampuh menjaga keberlangsungan ekonomi umat.

Bersambung………

*Penulis adalah anggota Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

Sumber:

  1. Buku “Profil Pesantren Tebuireng” karya Mubarok Yasin Dkk
  2. Buku “Kebiasaan-kebiasaan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari” karya M. Sanusi
  3. Kitab al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Awwalu Waadhi’i Labinaati Istiqlaal Induunisiyyakarya Muhammad As’ad Shihab, jurnalis dan intelektual asal Lebanon.
SebelumnyaBersyukur atas Nikmat dan Musibah
BerikutnyaWanita di Balik Payung Hitam