Waktu yang Dimakruhkan untuk Melaksanakan Shalat

Sumber gambar: https://www.hijaz.id

Oleh: Muhammad Idris dan Nailia Maghfiroh*

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Apa sejarahnya dari waktu shalat-shalat yang dimakruhkan. Terima kasih banyak, wassalamu’alaikum.

Aliyudin, Karawang

Waalaikumussalam, Wr.Wb

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terima kasih kepada saudara Aliyudin dari Karawang. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan kemudahan kepada kita dalam kehidupan sehari-hari. Amiin yaa rabbal ‘alamiin. Adapun jawabannya sebagai berikut;

Shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam. Shalat merupakan tiang agama, barangsiapa yang menegakkannya maka ia telah menegakkan agama dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia merobohkan agamanya. Kelak di hari kiamat, amal yang pertama kali dihisab atau dipertanggungjawabkan ialah shalat. Diriwayatkan bahwa semenjak disyariatkannya shalat pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad  selain melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima kali dalam sehari semalam pada waktu-waktu yang telah ditentukan,  juga rutin melaksanakan shalat-shalat sunnah di luar waktu-waktu tersebut.

Namun ternyata, di luar dari waktu-waktu tersebut ada beberapa waktu yang makruh dilaksanakan shalat di dalamnya. Sebagaimana dalam keterangan hadis riwayat Imam Muslim bawah ini bahwa Rasulullah melarang untuk melaksanakan shalat pada tiga waktu berikut ini

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَىٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِىَّ يَقُولُ ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ.

“Ada tiga waktu, di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk melakukan shalat dalam waktu tersebut dan menguburkan jenazah kaum muslimin, yaitu ketika matahari baru terbit hingga sudah naik ke atas, ketika matahari tepat berada di atas kepala hingga condong/bergeser sedikit, dan ketika matahari hampir terbenam sampai tenggelam.”

Dalam redaksi lain, kitab Al Majmu syarh al Muhadzab juz 4 halaman 177 menjelaskan bahwa ada lima waktu yang dicegah untuk melaksanakan shalat (dilihat dari segi pekerjaan), yakni setelah shalat Subuh hingga terbitnya matahari dan setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Keterangan tersebut berlandaskan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, “bahwa Nabi  melarang melaksanakan shalat setelah shalat Ashar sampai terbernamnya matahari dan setelah shalat Subuh sampai terbitnya matahari.” Dan tiga waktu yang lain dicegah sebab waktu, yaitu ketika terbitnya matahari sampai matahari naik, ketika waktu istiwak sampai tergelincirnya matahari, dan ketika munculnya mega kuning dalam ufuk barat sampai terbenam (sempurna).

Namun perlu diketahui bahwa, kemakruhan tersebut tidak berlaku ketika seseorang berada di kota suci Makkah, sebab dalam sebuah riwayat menjelaskan bahwa Rasulullah melaksanakan thawaf di Makkah dan tidak ada khilaf (perbedaan) bahwa jika thawaf diperbolehkan maka begitupun shalat dan waktu Istiwak juga tidak makruh di hari Jum’at. Sebagaimana riwayat berikut ini;

🤔  Ibu Kandung atau Ibu Mertua, Mana yang Didahulukan?

وَلَا تُكْرَهُ الصَّلَاةُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ بِمَكَّةَ لِمَا رَوَى أَبُو ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ” سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَلَا بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ إلَّا بِمَكَّةَ ” وَلِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ وَلَا خلاف ان الطواف يجوز فكذلك الصلاة. لِمَا رَوَى أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ نصف النهار حتى تزول الشمس الا يوم الجمعة

“Dan tidak dimakruhkan pada waktu-waktu tersebut di Makkah, berdasarkan riwayat hadis Abu Dzar radhiyallahu anhu, saya mendengar dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bahwa beliau berkata tidak (dilarang) shalat setelah shalat Subuh sampai terbitnya matahari dan setelah shalat Ashar sampai terbenamnya matahari kecuali di kota Makkah.” Karena Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda melaksankan thawaf di Makkah dan Thawaf  tidak ada perbedaan. Jika thawaf boleh begitupun shalat.” Keterangan tersebut sesuai hadis riwayat Abu Said al Hudri bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam melarang melaksanakan shalat pada tengah hari (siang) sampai tergelincirnya matahari kecuali hari Jumat.”

Adapun terkait pertanyaan di atas,  apa latar belakang dimakruhkannya beberapa waktu tersebut?

Maka hal tersebut didasarkan pada hadis Nabi sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Hasyiyah Bujairomi juz 5 halaman 40 berikut ini

 وَسَبَبُ الْكَرَاهَةِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قَالَ : إنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ وَمَعَهَا قَرْنُ الشَّيْطَانِ فَإِذَا ارْتَفَعَتْ فَارَقَهَا ، فَإِذَا اسْتَوَتْ قَارَنَهَا فَإِذَا زَالَتْ فَارَقَهَا. فَإِذَا دَنَتْ لِلْغُرُوبِ قَارَنَهَا ، فَإِذَا غَرَبَتْ فَارَقَهَا }. رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ بِسَنَدِهِ.

وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِقَرْنِ الشَّيْطَانِ فَقِيلَ قَوْمُهُ وَهُمْ عُبَّادُ الشَّمْسِ يَسْجُدُونَ لَهَا فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ وَقِيلَ إنَّ الشَّيْطَانَ يُدْنِي رَأْسَهُ مِنْ الشَّمْسِ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ لِيَكُونَ السَّاجِدُ لَهَا سَاجِدًا لَهُ وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ.

“Sebab dimakruhkannya shalat tersebut ini seperti apa yang telah dijelaskan dalam sebuah hadis, bahwasannya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. bersabda: sesungguhnya matahari terbit (keluar) dan itu terdapat setan yang bersamanya, maka ketika matahari itu naik setan itu berpisah dengannya, dan ketika waktu istiwak maka setan itu bersamanya kembali, dan ketika matahari itu menghilang maka setan itu berpisah denganya, dan ketika matahari akan tenggelam maka setan itu bersamanya lagi, dan ketika sudah tenggelam maka setan itu berpisah dengannya.”

Dan terjadi khilaf (perbedaan) dalam arti setan bersamanya, menurut satu pendapat yaitu suatu kaum yang menyembah matahari dan mereka sujud padanya pada waktu-waktu tersebut, dan pendapat yang lain mengatakan bahwa setan mendekatkan kepalanya pada matahari dalam waktu-waktu tersebut, supaya orang yang sujud pada matahari juga sujud pada dirinya.

Sekian jawaban dari tim redaksi kami. semoga bermanfaat dan bisa dipahami dengan baik sehingga kita dapat menjalankan ibadah sesuai dengan Al Quran, hadis, dan ijtihad para ulama salaf as-shalih. Wallahu ‘alam bisshowab.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.