Tebuireng.online– Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Pesantren Tebuireng dan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) berduka. Wakil Rektor III Unhasy Dr. KH. Miftahurrohim Syarkun, MA. meninggal dunia pada Sabtu (10/07/21).

Pak Mif, sapaan akrabnya juga merupakan Dewan Pembina Pusat Kajian Pemikiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan pengajar di MA Madrasatul Quran.

Informasi yang didapat dari sahabat beliau, Sayid Ma’rifatullah, ia dipanggil ke haribaan Allah, setelah menunaikan Salat Tahajud.

Menurut penjelasan istrinya, malam harinya Almarhum dalam kondisi sehat dan tidak ada gejala sakit apapun.

“Beliau dalam kondisi sehat,” ungkap Sayid menyampaikan penjelasan istri Almarhum di rumah duka di Kemasan Krian Sidoarjo pagi tadi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jenazah akan dimakamkan di samping rumahnya di Krian Sidoarjo hari ini.

“Ini sudah selsai Salat Jenazah. Mungkin sebentar lagi. Ada beberapa gelombang Salat Jenazah, karena tamu terus berdatangan,” lanjut dosen Unhasy itu.

Semasa hidupnya, ia dikenang sebagai sosok yang sabar, baik, banyak jejaring, rajin, teliti dan selalu mendukung mahasiswa maupun santri yang memiliki potensi dan tekad tinggi.

Pak Mif juga mempunyai pondok pesantren dengan nama Ma’had Tahfid Al Quran Al Alamiyin “Miftah Al Quran” bersebalahan dengan rumahnya.

Di Tebuireng, Pak Mif ikut serta mendirikan Pusat Kajian Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan menjadi ketua pertama organisasi yang diprakarsai oleh Almarhum KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Ia kerap kali berbicara soal peran dan pemikiran Kiai Hasyim dalam pidato, ceramah, pengajian, serta menulis artikel maupun buku.

Sebelum menjadi Warek III Unhasy, ia pernah mengajar di Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Ia datang ke Negeri Jiran tersebut, awalnya untuk mengajar tahfidz Al-Quran.

Saat tinggal di Malaysia, pada kurun 1997-1998 ia bersama kawan-kawannya memprakarsai berdirinya Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) pertama di Malaysia atas izin Ketua PBNU saat itu, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Alumni Madrasatul Quran Tebuireng itu, memiliki peran sentra untuk PCINU yang kini sudah berjumlah 150 cabang.

Pewarta: Qanaatun Putri

SebelumnyaKisah Teladan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
BerikutnyaUsai Salat Tahajud, Sosok Dosen Inspiratif Ini, Dipanggil oleh Allah