Wajah Nasionalisme Kita

ilustrasi: www.google.com

Oleh: Seto Galih Pratomo*

Nasionalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan sebuah bangsa, atau juga dibahasakan dengan semangat kebangsaan. Nasionalisme harus terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban, dan berjuang demi bangsa. Sehingga tetap lestari dan kemajemukannya baik dibidang agama, suku, dan budaya dapat terpelihara menjadi kekuatan riil yang memperkokoh kedaulatannya. Dengan demikian nasionalisme juga memiliki sikap menghargai, melindungi, dan mengasihi. Nasionalisme juga laksana ruh yang menghidupkan identitas dan jati diri bangsa dalam kiprahnya di pentas percaturan dunia.

Nasionalisme Indonesia tentu berbeda dengan nasionalisme di Barat dan Timur Tengah. Perdebatan dan perselisihan negara agama dan negara sekuler telah dilewati oleh Indonesia dan berhasil dijembatani dengan upaya penerapan syariah bersifat falsafi yang substansial dengan mengedepankan pada maqashid syari’ah, bukan hanya sekadar simbolisme syariah.

Penemuan perpaduan Indonesia ini dan Islam adalah mahakarya perjuangan bersama-sama para founding father Indonesia, termasuk KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya. Bahkan seorang penulis Arab, Sayyid Mohammad Hasan Syihab menyebutkan dalam sebuah bukunya bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah peletak dasar kemerdekaan Indonesia. Hal ini dirasa tidak berlebihan, dikarenakan dari sentuhan magic beliau lah lahir para pejuang pemersatu nasioalisme dan agama atau Indonesia dan Islam.

Inilah KH. Hasyim Asy’ari. Seorang ulama dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah yang menjadi tonggak perubahan zaman. Sejak kecil sudah terdidik di lingkungan pondok pesantren dan mengembara ilmu di berbagai tempat. Pengembaraan mencari ilmu terus dilakukan ke pondok pesantren tanpa kenal lelah dan haus akan ilmu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tidak puas menuntut ilmu di pondok-pondok, KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya ke Timur Tengah yakni Hijaz. Menurut peneliti pribadi karena berpindah-pindah menimba ilmu dari satu tempat ke tempat yang lain menyebabkan KH. Hasyim Asy’ari memandang bahwa perbedaan itu pasti ada dan mutlak. Beliau berfikir secara rasional yang menumbuhkan jiwa nasionalisme. Selain itu KH. Hasyim Asy’ari memandang bangsa ini seperti bukan bangsa sendiri dikarenakan penjajahan, dari sini beliau mempunyai tekat untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan yang berbuah cinta pada negaranya. Inilah faktor yang mempengaruhi KH. Hasyim Asy’ari untuk berfikir secara rasional dan tidak mengedepankan fanatik belaka.

KH. Hasyim Asy’ari menekankan bagaimana menanamkan rasa cinta pada agama sekaligus menanamkan cinta pada bangsa dan negara. Jika ditelisik lagi, pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tersebut berasal dari faktor-faktor luar disamping memang berasal dari karakter pribadinya.

Gelora semangat dan jiwa muda KH. Hasyim Asy’ari selalu membara, termasuk pada akhir abad 19, saat menimba ilmu di Timur Tengah tepatnya daerah Hijaz. Selain melakukan tugas pokoknya yakni mencari ilmu, beliau juga terus mengikuti atau selalu update tentang perkembangan perkembangan pemikiran yang sedang berkembang. Ketika itu, Timur Tengah sedang gencar gerakan pembaharuan, kebangkitan, nasionalisme di Mesir, Turki, dan Suriah. Sehingga muncul lah tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Syakib Arsalan, dan lain sebagainya. Hal itu terbukti dengan penemuan majalah pergerakan seperti Al-Urwatul Wusqo di ndalem atau rumah KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang. Ini menjadi tanda bahwa beliau tidak menutup diri dari informasi-informasi baru.

*Santri Pesantren Tebuireng.



🤔  Klarifikasi Penulis Novel "Guru Sejati Hasyim Asy'ari"*