4 Tipe Menyikapi Perbedaan Pendapat

ilustrasi: www.google.com

Oleh: Fathur Rohman*

Ketika terjadi perbedaan pendapat dalam memahami subur hukum ajaran agama Islam di tengah masyarakat, baik yang berupa memahami ayat Al Quran ataupun yang memahami Hadits Nabi yang berupa masalah furu’iyah, maka kita bisa mengidentifikasi empat tipe orang dalam menyikapi perbedaan pendapat, diantaranya adalah sebagaimana berikut:

Pertama, orang yang mengikuti pedoman bahwa kebenaran itu tidak hanya satu namun bisa berbilang, ia berkeyakinan bahwa pendapat dirinya bisa benar dan pendapat orang lain juga bisa benar, dan sebaliknya pendapatnya bisa salah dan pendapat orang lain juga bisa salah, sehingga ia tidak pernah menuduh pendapat orang lain salah dan tidak pernah mengatakan bahwa pendapatnya adalah yang paling benar karena baginya kebenaran dalam berpendapat bisa banyak ragamnya, walapun begitu ia tetap bepedoman dalam bingkai empat imam madzab dalam fiqih.

Kedua, tipe orang yang ketika menemukan perbedaan pendapat dalam memahami masalah furu’iyah, ia berusaha mencari mana sumber yang paling kuat, ketika ia menemukan dasar yang dianggap paling kuat menurut pendapatnya atau menurut pendapat orang lain yang ia yakini, maka ia akan memilih pendapat yang ia anggap paling kuat dasarnya dan menganggap pendapat yang selainnya tidak memiliki dasar yang kuat, sehingga perlu ditinggalkan dan mengikuti pendapatnya.

Ketiga, tipe orang yang terikat dalam sebuah kelompok yang senantiasa didoktrin harus mengikuti keputusan pemimpin kelompoknya sehingga ketika ia menemukan perbedaan pendapat, maka ia harus mengikuti keputusan kelompoknya bahwa yang benar adalah pendapat (kebenaran) yang diputuskan oleh kelompoknya, maka yang harus dipercaya adalah kebenaran pendapat yang disampaikan oleh kelompoknya yang disertai dalil dan pendapat kebenaran yang bersal dari luar kelompoknya tidak boleh dipercaya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
🤔  Janji Allah Bagi yang Membiasakan Shalat Dhuha

Keempat, tipe orang yang ketika menemukan perbedaan pendapat dalam masalah furuiyah, maka ia akan bertanya kepada orang yang diikutinya atau yang dianggap menjadi panutannya, kemudian ia akan meyakini bahwa pendapat kebenaran yang disampaikan panutannya itu adalah yang paling benar, tanpa ia harus mengetahui dalil dan alasannya, cukup baginya panutannya itulah yang mengerti dan ia hanya cukup mengikutinya, tanpa harus mengetahui dalil dan alasannya, biar pun di luar sana banyak pendapat yang mungkin benar, namun baginya yang benar adalah apa yang disampaikan panutannya.

Demikian tipe orang dalam menyikapi perbedaan pendapat tentang masalah furuiyah yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Allahu a’lam bisshowab.

*Dosen PBA Unhasy Tebuireng Jombang.