Tradisi Pecingan, Nyadran, dan Silaturahmi Saat Lebaran

Oleh : Umdatul Fadhilah*

Ramadan telah usai, gema-gema Takbir menyeruak memenuhi bumi, menyelusup ke ruang-ruang insan yang meraih kemenangan. Berduyun-duyun langkah menuju rumah Allah, melaksanakan shalat Idul Fitri yang hanya setahun sekali. Para insan kembali ke habitatnya, yang merantau jauh mudik ke kampung halaman, yang lama tak bersua jadi melepas rindu, bertanya kabar hingga nostalgia. Betapa bahagianya bisa berkumpul bareng keluarga, bertemu ayah, bunda, adik dan kakak, lalu bulik paklik, pakdhe budhe hingga kakek nenek beserta sesepuh lain melebur saat hari yang fitri tiba.

Ada satu tradisi yang selalu hadir di tengah-tengah lebaran, yang pasti tak pernah ketinggalan, apalagi bagi anak-anak serta yang masih sendiri dan belum bekerja. Tradisi ini menjadi momen paling ditunggu bagi mereka. Di mana yang sepuh memberikan amplop berisi uang, biasanya orang-orang yang sudah berpenghasilan melanggengkan tradisi ini. Di Jawa Tengah sendiri menyebutnya “Pecingan”.

Khususnya di daerah Tegal-Brebes tradisi pecingan merupakan tradisi yang biasa dilaksanakan pada saat lebaran tiba maupun hari besar yang lain. Terjadi ketika yang seseorang yang lebih dewasa memberikan uang kepada seseorang yang lebih muda. Bahkan tradisi ini bukan hanya diperuntukkan untuk anak muda saja, karena bisa saja yang muda mecingi (memberikan uang) kepada yang lebih dewasa. Tradisi ini dilihat dari sisi kemapaman seseorang, sudah bekerja atau belum, bukan berdasarkan status perkawinan. Karena yang belum menikah pun bila sudah mapan bisa juga mecingi (memberikan uang).

Nominalnya pun disesuaikan dengan usia seseorang. Tingkat kesuksesan bagi yang memberi. Di sini, semakin bertambah tahun bertambah usia maka nominal yang diberikan biasanya semakin besar. Berbeda dengan anak-anak yang masih rebutan permen. Pecingan biasa diberikan saat hari lebaran atau tepat setelah sholat idul Fitri. Biasanya setelah nyadran kemudian dilanjutkan silaturahmi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
🤔  Nuh dan Keturunan Umat Manusia

Nyadran sendiri tradisi yang juga dilanggengkan dalam rangka ziarah kubur untuk mendoakan para insan yang telah menghadap-Nya. Arti sesungguhnya nyadran dilansir dari berbagai sumber berasal dari bahasa sansekerta sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan masyarakat Jawa terutama Jawa Tengah dengan tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa sendiri nyadran berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban. Jadi nyadran merupakan suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga. Dan puncaknya berupa kenduri selamat di makam leluhur.

Biasanya dilakukan setelah shalat idul fitri atau sebelum lebaran tiba, tepatnya saat bulan Ramadan. Meski masyarakat disini biasanya menyebut nyadran untuk berkunjung atau mengunjungi sanak family guna silaturahmi. Namun begitu, setelah shalat idul fitri, dapat juga dilanjut dengan berziarah, kemudian berkunjung ke rumah sanak saudara satu-persatu, ke rumah tetangga, bermaaf-maafan memfitrahkan diri di hari yang suci ini. Dan biasanya menjadi ajang untuk memberikan pecingan dan saling mecingi satu sama lain. Tak lupa, seseorang biasanya juga saling memberikan bingkisan atau parsel ke sesama tetangganya atau kepada yang lebih dewasa. Hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Mengajarkan kita bahwa sebagai saudara seiman setanah air harus saling berbagi dan memaafkan serta menebar benih-benih kedamaian.


*Santriwati PPP Walisongo Cukir