sumber gambar: kazwini13.wordpress.com

Puisi : Ana Afif Aqil

Terima kasih Untukmu, De

Mencuri raga puisi adalah setiap nada cinta yang kau beri

Aku benar-benar menjadi lelaki binal

Oleh duri-duri pada bunga matahari

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Yang mencipta tubuhnya mengembang untuk kududuki

Lalu tumpahlah kata

Aku menghamba dalam segenap rindu

Pemenggalan tiba selepas aorta leher dan dikau tahu

Di sana ada namamu De

Ramadan 1438 H


Subuh yang Luka

-dari telepon yang menunggu 2x

Subuh yang sejuk berubah

menuju parade orang-orang mengamuk

dengan kapaknya masing-masing

singgah pada hati dan kapak-kapaknya

menyentuh dinding-dinding menuju luka

Subuh yang tenang mengutukku

adam telah pecundangi dengan kalimat cinta

yang Ia ajarkan pertama kali

Ramadan 1438 H

Kantor Daerah O


Rindu pada Kelopak Matamu, Fi

Pada kelopak matamu

Ada damai pada tenang rumah

Yang dibacakan Quran dan Zikir yang tidak ada hentinya

Pada kelopak matamu

Aku tertidur dan keresahan aku buang jauh-jauh

Sekiranya Tuhan pun tak tahu

Sebab doaku hanya memandang rindu kelopak matamu

Ramadan 1438 H


Malapetaka Cinta

Pada rimbunan rawa-rawa kau jatuh

sebagai malapetaka yang indah

maka senyum ini adalah nada sumbing sebuah tangis

Sosok rembulan itu telah mengepakkan sayap jibril

yang sebenarnya menyimak kerikil

Kau datang serupa petaka yang kuharap

Maka senyum saja aku

Walau seribu tangis bayi ada pada ruang hati membana

Mengalun serupa tangis rindu pada sebuah keabadian yang tak nyata

Sidogiri, 2017


Penulis adalah Santri Sidogiri asal Madura

 

SebelumnyaJuara MTQMN, Qurratul A’yuni: Memotivasi Bangsa Menghafal dan Mengamalkan Al Quran
BerikutnyaKH. Musta’in Syafi’ie: KHI Harus Pertimbangkan “ash Shulhu”