Oleh: M. Anang Firdaus*

Barakah Adalah Candu Santri

Ungkapan ini terlihat klise, seperti yang dituturkan oleh Karl Marx, agama adalah candu. Sebagian orang memahaminya dengan keliru, dengan menganggap agama sebagai candu yang menyebabkan ketergantungan. Jika pemaknaannya seperti ini, maka dapat dibiaskan bahwa yang dicari saat mondok di pesantren adalah barakah, lantas menggantungkan urusah hidupnya kepada barakah saat mondok, tanpa perlu mengetahui apa yang dilakukan saat mondok, entah ngaji atau tidak, belajar atau tidak paham atau tidak.

Di awal paragraf, saya katakan klise, karena pemaknaan agama adalah candu memang mengalami degradasi makna yang salah dipahami. Padahal Marx justru menganggap agama sebagai opium dengan maksud sarana meringankan beban bagi manusia.

Makna itu lahir dari konteks opium adalah sebagai obat peringan beban pikiran. Maka jika barakah dipahami sebagai candu yang meringankan beban hidup dan memudahkan urusan duniawi, saya sepakat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Memang yang akan terlintas di pikiran jika kita mendengar kata “Tebuireng”, pastinya kita akan bisa membayangkan ada banyak sosok besar di dalamnya. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahid Hasyim, hingga Gus Dur berkontribusi dalam membesarkan nama Tebuireng, yang asalnya hanya nama dusun yang tak dikenal di Diwek Jombang.

Belum lagi tokoh-tokoh lain yang tak kalah hebat, entah itu dari dzurriyah maupun alumni. Namun di luar itu semua, para kiai saya di Tebuireng mendidik, jangan sampai kita hanyut dalam romantisme historis:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ,

“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan”.

Ya, dengan mengutip al-Baqarah 134 ini, Kiai Mustain Syafi’ie sering berujar bahwa orang-orang besar itu sudah berlalu, dengan segudang prestasi dan karyanya, yarhamuhum Allah….

Nah sekarang apa yang akan kamu buat?. Kita dulu dididik untuk tidak larut dalam kebesaran pendahulu. Jangan sampai bersembunyi di balik kebesaran nama Tebuireng. Apa lagi menjual nama besar Tebuireng untuk kepentingan pribadi. Na’udzubillah.

Setelah itu, Kiai yang akrab di sapa Kiai Tain itu melanjutkan, sing rajin belajar, sing rajin ngaji. Barakah itu diunduh dengan rajin belajar, rajin ngaji. Tidak bisa barakah itu nempel pada santri yang tidur saat ngaji. Tak jarang beliau tutup kalimatnya dengan guyonan satire, sing penting berkah, sing penting berkah, berkah iler a?.

Penggalan nasihat itu begitu menancap ke dalam diri saya, hingga kini. Jadi ya barakah itu tidak diobral. Apa lagi menjadi quality assurance yang pasti didapat oleh semua santri Tebuireng.

Kita mungkin sangat familier dengan adigium yang sangat lekat dengan pesantren Modern Gontor. Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh, pasti akan mengunduh. Atau penggalan syair Imam Syafi’i yang seringkali dikutip Kiai Anwar Mansyur Lirboyo, Biqadril Kaddi Tuktasabul Ma’ali # Wa man Thalabal ‘Ula Sahiral Layali. Keluhuran derajat diraih dengan kerja keras… Siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang.

Lain halnya dengan Mudir bidang pembinaan pondok, KH. Lukman Hakim, BA. Mantan kepala Pondok Tebuireng yang akrab dipanggi Pak Haji ini mengikuti pendapat Syaikh Muhammad bin Said al-Yamani: العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ “Meraih ilmu dengan belajar, meraih berkah dengan berkhidmat, meraih kemanfaatan ilmu dengan ketaatan”.

Meski beliau tidak mengutipnya secara langsung, Pak Haji Lukman selalu membakar semangat santri untuk belajar, berkhidmah, patuh kepada para kiai. Wal hasil, memang kiai Tebuireng tidak pernah ada yang “berani” menggaransi barakah kepada semua santri. Yang adanya, mereka semua selalu mendoakan keberkahan ilmu kepada semua santri.

Lantas, jika ada cerita tentang santri yang malas, namun menuai kesuksesan hidup setelah lulus. Guru kami, Kiai Ishaq Latief menjelaskan bahwa mungkin itu bentuk dari tirakat guru yang meridainya, atau mungkin dari orang tuanya yang mengasihinya. Atau bahkan bentuk dari Istidraj, sebuah kemapanan hidup yang diberikan para orang yang “dilulu” Allah.

Ini pula lah yang ditakutkan oleh Gus Zaki Hadziq. Semua narasi yang dibangun oleh guru-guru kami di Tebuireng ini lantas mematahkan asumsi bahwa jika pondok semakin tidak salaf, maka keberkahannya ikut memudar.

Pesantren Tebuireng Memadukan Kurikulum Salaf dan Modern

Pendidikan Tebuireng Kian Pudar ke’Salaf’annya? Ungkapan ini ada benarnya, begitulah keresahan yang dipikirkan oleh para alumni sepuh yang masih peduli dengan kelangsungan Pesantren Tebuireng. Hal ini disampaikan langsung oleh para kiai yang alumni itu di dalam forum khusus dalam rangkaian kegiatan temu alumni di era KH. M. Yusuf Hasyim.

Pak Ud tidak tinggal diam, beberapa kiai sepuh beliau sowani hanya untuk meminta masukan. Akhirnya Pak Ud membuat keputusan strategis dengan mendirikan Ma’had Aly di tahun 2006. Lembaga pendidikan tinggi yang mengakomodir tradisi-tradisi pesantren salaf.

Isu ini ditangkap baik oleh pengasuh setelahnya, KH. Salahuddin Wahid. Guna mengembalikan pendidikan salaf, beliau mendirikan Madrasah Muallimin tahun 2008 bersama beberapa kiai sepuh. Bahkan oleh Gus Sholah, isu ini dimasukkan ke dalam poin ke dua belas dalam Kebijakan Strategis Manajemen Pesantren Tebuireng yang disusun tahun 2012.

Di samping itu, ada beberapa poin kebijakan strategis yang menjadi manual mutu unit pendidikan (yang bisa kita bilang bukan salaf). Suatu saat ada wali santri yang curhat kepada Gus Sholah, “Gus, anak saya di SMA sudah dua tahun kok tidak bisa baca kitab?”, apa jawaban Gus Sholah, “jika anda menginginkan anaknya bisa baca kitab, mengapa dari awal tidak dimasukkan ke Muallimin?”.

Memang karena setiap unit memiliki struktur kurikumum sendiri, yang disusun berdasakan standar lulusan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain Gus Sholah mempertebal distigsi dan keunggulan masing-masing unit pendidikan.

Saya kira apa yang dikerjakan Gus Sholah di Tebuireng patut kita teladani bersama. Beliau sebagai suksesor Kiai Yusuf Hasyim berkenan untuk merawat legacy yang ditinggalkan Kiai Yusuf Hasyim, misalnya keberadaan SMP dan SMA yang didirikan tahun 1975 atas gagasan dari Gus Dur saat menjadi Sekretaris Umum Pesantren.

Gus Sholah menyiapkan beberapa langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan non salaf. Telah banyak lembaga pendidikan maju yang menjadi partner Pesantren Tebuireng untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Ikhtiar itu menghasilkan beberapa kebijakan, antara lain penyusunan rencana strategis pendidikan, pembaharuan struktur pesantren dan penambahan unit penjaminan mutu, penyusunan manual mutu, pra raker dan raker menjelang ajaran baru, transparansi penganggaran pendidikan berbasis kinerja, uji kelayakan dan kepatutan pimpinan unit pendidikan, tes kompetensi guru, penguatan sikap dan kompetensi ustadz dan pembina pondok, fullday school, tradisi leterasi dan bahasa asing, pembukaan International Class Program, dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak langkah strategis itu, Gus Sholah juga menekankan integrasi karakter pesantren dalam pembelajaran yang dapat kita lihat bersama dalam poin ke empat belas hingga enambelas dalam Kebijakan Strategis Manajemen Pesantren Tebuireng.

Inti dari semua ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa kebijakan fullday tidaklah datang dari ruang yang kosong. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Selain itu, kebijakan fullday ditetapkan setelah melalui rangkaian rapat dan pembahasan secara marathon.

Saya pribadi mondok di Tebuireng tahun 2004 hingga 2007. Artinya saya belajar di Tebuireng pada saat transisi kepengasuhan dari Kiai Yusuf Hasyim ke Gus Sholah. Di tahun-tahun itu pula, Tebuireng mungkin berada dalam titik nadirnya, santri Tebuireng “hanya”sekitar 300-an. Setelah apa yang dilakukan Gus Sholah pada unit pendidikan itu, jumlah pendaftar mengalami lonjakan yang signfikan.

Ngaji kitab tidak pernah khatam? Ini juga yang saya sarakan selama belajar di Tebuireng. Dari MTs ke Aliyah, ada beberapa materi yang memang diulang. Hal ini pula telah menjadi perbincangan guru-guru saya. 

Hal akan terus terjadi selama pondok tidak menerapkan kurikulum yang berkelanjutan. Artinya Mts-Aliyah, SMP-SMA menjadi satu paket, seperti Madrasah Mu’allimin. Jika ada pendaftar dari luar, maka harus ada seleksi ketat, dan disiapkan Sekolah Persiapan untuk mengejar ketertinggalan, seperti Tebuireng zaman dahulu.

Pilihan yang lain, siapa yang mondok di Tebuireng minimal harus 6 tahun, dan belajar secara berkelanjutan. Mts Harus Ke Aliyah, SMP harus ke SMA. Namun kebijakan ini akan melahirkan konsekuensi lain yang terus membuntut.

Selain itu, di Tebuireng tidak menganut sistem kitabi, artinya sumber belajar berbasis kitab yang dikaji kalimat per kalimat. Namun Tebuireng (sebagaimana sekolah pada umumnya) menganut sistem berbasis kompetensi (KI-KD) sebagaimana kebijakan pemerintah.

Maka sebenarnya, unit pendidikan non salaf tidak berkewajiban untuk menghatamkan kitab. Berbeda jika kita belajar di pesantren salaf yang tidak memiliki batasan masa yang menjadi target kelulusan. Oleh karenanya, kebanyakan pesantren yang semi salaf saja, biasanya menyelenggarakan pengajian yang ditargetkan khatam saat bulan Ramadlan, (ngaji pasanan).

Materi kitab (atau sebut saja muatan lokal) bukan diletakkan di kurikulum sekolah yang “harus rela” berbagi kredit jam dengan pelajaran kurikulum nasional. Di ngaji pasanan inilah yang menjadi wajah “tradisi pesantren salaf” di pondok-pondok yang memiliki unit pendidikan formal.

Tulisan Muhammad Luthfi menarik untuk dibaca. Setidaknya dapat menjadi salah satu bagian dari review dari sudut pandang remaja. Sah-sah saja Luthfi berpendapat sebagai bentuk kritikan membangun kepada lembaga di mana ia berajar 6 tahun.

Apa yang saya tulis ini bersifat pembanding, dan tidak dimaksudkan untuk mencounter pendapat Luthfi. Biarlah masyarakat dan para pembaca yang tentu tahu “dari dalam” seluk beluk pendidikan di Pesantren Tebuireng yang akan menilai. Karena memang sejak berdiri, Pesantren Tebuireng tidak lepas dari perubahan sistem pendidikan.

Bahkan di zaman Kiai Hasyim pun perubahan pendidikan telah ada. Perubahan-perubahan itu tentu saja diambil oleh pengasuh dan pengambil kebijakan dengan berorientasi pada kemaslahatan. Semoga kita semua tetap mendapatkan rida dan barakah doa yang melimpah dari para masyayikh Tebuireng, amin.

*Santri Tebuireng.

SebelumnyaSampai Detik Ini, Api Tebuireng Masih Menyala
BerikutnyaMari Bangkit dan Rayakan Luka