Oleh: Vevi Alfi Maghfiroh*

images (4)Layar monitor elektrokardiograf di ruang ICU terus bergerak. Grafiknya yang bergerak naik turun masih menandakan aktivitas jantung normal. Namun tubuhnya yang lemah tidak mampu ia kendalikan, bahkan untuk membuka kedua matanya ia tak mampu. Sudah hampir satu bulan ia tergeletak tak berdaya dalam keadaan koma dan kritis. Lelaki gagah yang selalu kuidolakan, sekarang sedang mengalami masa sulitnya, dan aku benar-benar tak mampu menolong karena faktor ekonomi keluargaku yang pas-pasan.

Kehidupan abah tergolong sederhana, Di era dimana semua guru seangkatannya telah diangkat menjadi pegawai negeri dan mendapat tunjangan dana pensiunan. Beliau tetap menjadi guru honorer yang bahkan untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari beliau tak mampu. Belakangan ini beliau melawan penyakit yang dideritanya. Tubuh tegapnya sedikit demi sedikit diusik oleh penyakitnya. Namun pribadinya yang kuat tak pernah terkalahkan.

Aku menatap wajahnya yang sendu, siang malam hanya do’a yang bisa ku lantunkan, meminta belas kasih Tuhan dan keajaiban yang datang menghampiri sang guru sejati, setidaknya bagiku, dan bagi orang-orang terdekatnya. Dalam kesunyian malam aku terbuai pada kharismanya yang membawaku mengarungi alam bawah sadar untuk merekamnya kembali dalam ingatan.

Matahari menyapa pagi, kutemui sosok pahlawanku sudah siap dengan pakaian dinas kebanggaannya. Ia tersenyum menyapaku dan ibu yang telah duduk manis di meja makan. Tempat inilah menjadi saksi bisu, bahwa sosok didepanku selalu mengajariku makna penting dari komunikasi, disinilah keluargaku selalu bercerita semua aktivitasnya seharian.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Abah, Cici ikut berangkat bareng abah ya,” gumamku.

“Kalo kau berangkat sama abah, bagaimana dengan teman-temanmu, berjalanlah bersama, gandenglah tangan teman-temanmu ci,” nasehatnya lembut. Aku termangu dengan ucapannya. Lantas ia bangkit dan menyalamiku.

Dari kejauhan aku melihat punggungnya yang makin lama menghilang dari pandanganku bersama biola dan onthel kesayangannya. Dia telah menghilang dari pelataran rumah sebelum matahari tersenyum sempurna.

Aku dan abah berada di sekolah yang sama, aku sebagai murid dan abah seorang tenaga pengajar. sekolah kami termasuk elit pada akhir abad ke 19-an, yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah setempat. Abah termasuk guru tetua di sekolah ini, Ia mulai mengajar sejak genap berkepala dua. Hampir semua penduduk desa mengenal abah sebagai sosok guru yang menyenangkan. Selain pintar membawa suasana abah selalu menganalogikan pelajarannya dengan alunan nada dari biola.

Namun aku tak pernah diajar olehnya, abah selalu menghindari kelasku. Ia memberi alasan kepadaku agar tetap profesional dan terhindar dari pandangan subjektif dari yang lain. Aku selalu mencuri dengar abah mengajar, namun abah menegurku agar kembali ke kelas, dan sesampainya di rumah aku dinasihatinya agar tidak mengulangi lagi. Abah selalu mengingatkanku, “Jika mengabaikan kalimat guru walau hanya satu detik bagaikan kehilangan mata rantai gelang emas.”

Sepulang sekolah kutemui umi sedang memangkas daun-daun yang rusak dimakan ulat. Rumah keluargaku tidak besar namun terlihat asri, dipenuhi dengan bunga-bunga melati yang tumbuh subur. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah piano tua yang selalu dimainkan abah sepulangnya dari sekolah. Piano tersebut ia dapatkan setelah memenangkan sayembara cipta lagu.

Kegemarannya bermusik terus ia tekuni, aku selalu berlari ke arahnya dan duduk disampingnya ketika tuts piano mulai dimainkan oleh jari jemarinya yang gemulai, terkadang tanpa sadar aku hanyut dan ikut bernyanyi dengan alunannya.

“Hidup itu seperti alunan musik, yang harus kita dengar, rasakan, dan kita nikmati,” ungkapnya disela-sela permainan.  Aku pun hanya mengangguk dan melemparkan senyum manisku padanya.

****

Aku tersentak dan terbangun dari lamunanku, seketika aku melihat layar monitor elektrodiograf yang tidak stabil, dengan semua rasa panik aku berlari mencari dokter. Tim medis memasuki ruangan ICU, mereka melarangku untuk memasuki ruangan, dengan berat hati aku dan suamiku menunggu di luar ruangan sambil berdo’a dan terus memohon.

Logikaku tak utuh, rasa khawatir dan takut menyusup ke sanubariku. Aku merasa duniaku akan berhenti, isak tangis menyesakan jiwa, beruntung suamiku setia menemaniku dan menenangkanku.

“Jangan khawatir, abah baik-baik saja,” ucapnya menenangkan.

Tim medis satu persatu keluar dari ruangan, segera mungkin aku menemuinya, dengan tenang aku bertanya pada dokter dengan memaksa, “Bagaimana dokter, bagaimana keadaan abah saya?” Namun sang dokter hanya menggelengkan kepala dan bergumam lirih. “Maaf Tuhan telah berkehendak lain, yang sabar bu,” ucapnya sambil berbela sungkawa.

Seketika aku berlari memasuki ruangan, segera aku peluk abah yang kini telah terbujur kaku, ruangan itu kini pecah dengan suara isakan tangisku. Suamiku segera menyadarkanku, aku lihat wajah abah, ia memberikan senyuman terakhirnya padaku. Aku bangga menjadi bagian dari sejarahnya.

Beliau adalah sosok yang selalu mengajarkan makna keikhlasan dan pengabdian sejati. Bahwa mengabdi adalah memberi tanpa mengharap jasa. Dan perjalanan hidup abah menyiratkan makna kehidupan.

Jasad abah kini siap dikebumikan, aku dan keluarga tak pernah menyangka banyak pelayat yang datang berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa. Satu lagi kejutan yang datang menjadi bagian dari hadiah untuk abah. Semua murid abah datang dari semua penjuru kota. Mereka berjajar rapi sambil memainkan biola, dawai-dawai itu menyatu, menghasilkan aliran irama merdu nan syahdu.

“Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasiku, tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa.”

 

Lagu yang beliau ciptakan pada sayembara “Hari Pendidikan Nasional” tahun 1980, “Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, telah mewakili perjuangan dan pengabdiannya selama 24 tahun.

*tulisan ini hanya fiktif belaka, namun terinspirasi dari kehidupan Pak Sartono pencipta lagu “Hymne guru” asal Madiun. Penulis adalah Mahasantri Putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semester 5 dan aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang.

SebelumnyaFakultas Syariah Kembangkan Teknik Pelaporan Audio Visual
BerikutnyaPertempuran Meraih ‘Pulang’