ilustrasi antara ajal dan harapan yang digambar Rasulullah.

Oleh: Al Fahrizal*

Gambar merupakan media kita untuk menyampaikan pesan dan mengungkapkan gagasan atau isi hati kepada khalayak. Gambar yang dimaksud di sini adalah gambar secara umum. Baik itu lukisan, simbol, atau hanya sekadar coretan tak beratur (abstrak). Secara definisi gambar adalah segala sesuatu yang dapat diwujudkan secara visual ke dalam bentuk 2 “dua” dimensi sebagai curahan ataupun pemikiran yang bermacam-macam.[1]

Selama ini, banyak yang tidak tahu bahwa Rasulullah SAW juga pernah membuat gambar. Gambar yang dibuat oleh kanjeng Rasul merupakan media untuk mengajarkan suatu pelajaran penting kepada para sahabat, umumnya kepada seluruh umat manusia.

Hal ini dapat dilihat dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Berikut, lafadz hadisnya:

وعن ابن مسعُودٍ قَالَ: خَطَّ النَّبِيُّ ﷺ خَطًّا مُرَبَّعًا، وخَطَّ خَطًّا في الوَسَطِ خَارِجًا منْهُ، وَخَطَّ خُططًا صِغَارًا إِلى هَذَا الَّذِي في الوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي في الوَسَطِ، فَقَالَ: هَذَا الإِنسَانُ، وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطًا بِهِ –أَوْ: قَد أَحَاطَ بِهِ- وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ، وَهَذِهِ الخُطَطُ الصِّغَارُ الأَعْراضُ، فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذا، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذا نَهَشَهُ هَذا ( رواه البخاري).[2]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: Dari Ibn Mas’ud: Rasulullah SAW pernah menggambar sebuah garis yang berbentuk persegi. Kemudian ditambahkan garis lurus di tengah kotak itu hingga keluar. Lalu, dipadukan beberapa garis kecil di sisi garis yang di tengah itu. Kemudian Rasulullah bersabda: “Ini manusia (Garis tengah), dan ini adalah ajal atau maut yang mengelilinginya (gambar kotak). Dan garis yang berada diluar ini adalah harapan, sedangkan garis kecil-kecil ini adalah cobaan yang dihadapi. Ketika lepas dari cobaan satu, dating lagi cobaan lain, lepas dari cobaan ini, menimpa lagi cobaan ini. (HR Bukhari)

Keterangan 1.0: sketsa gambar

Imam As-Sindi menjelaskan dalam kitabnya: Hadis di atas adalah kondisi luar biasa atau  mengagumkan pada manusia. Manusia tidak bakal bisa lari dari ajal, karena manusia itu di lingkup oleh ajal dari berbagai sisi. Manusia juga dihadapkan dengan berbagai cobaan sebelum ajal menjemput. Kemudian bersamaan dengan maut yang mengelilinginya, manusia juga memiliki harapan dimana maut sudah terlebih dahulu melewati garis harapan manusia.”[3]

Kemudian Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari juga menjelaskan: “Hadis ini memberikan makna himbauan atau anjuran bagi manusia untuk tidak terlalu mengejar apa yang ia harapkan, serta mempersiapkan bekal amal karena kematian yang datang tidak diduga-duga.”[4]

Gambar Rasulullah tersebut mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu berjuang mati-matian atau totalitas dalam menggapai harapan yang belum pasti, hingga lupa dengan urusan akhirat yang telah dijanjikan. Dalam hadis di atas redaksi yang digunakan adalah أمل “amalun”, yang bermakna mengharapkan sesuatu; selalu menanti-nanti akan terwujud. Beda hal nya dengan cita-cita atau dalam bahasa arab أمنية “amniyyah”, yang berarti tujuan; atau sasaran yang diinginkan.[5]

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan memiliki harapan atau cita-cita tertentu. Karena itu manusiawi. Akan tetapi ketika harapan tersebut sudah melampaui batas, inilah yang dianjurkan oleh Nabi untuk dijauhi. Maksudnya, seseorang itu berkerja dan berusaha demi harapan itu sehingga ia lupa akan kewajibannya yang lebih didahulukan. Totalitas seperti ini bisa masuk ke ranah haram. Kemudian juga, apabila seseorang totalitas berkerja untuk meraih apa yang ia inginkan, sampai-sampai lupa bahwa maut selalu mengelilinginya setiap saat.

Maka, perlu kita sadari sedari awal bahwa apa pun yang ada di dunia ini, semuanya fana dan nisbi. Hanya satu kenyataan yang pasti, yakni jurang kematian.


[1] Lihat Media Gambar – Fungsi, Jenis, Kelebihan, Kekurangan & Contoh (dosenpendidikan.co.id)

[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6417, (Daar Thauq An-Najah, 1422 H), 8, 89.

[3] Muhammad bin Abdul Hadil As-Syindi, Hasyiah As-Sindy Ala Sunan Ibn Majah, (Beirut, Daar al-Jalil, t.t.), 2, 558.

[4] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolani, Fath A-Bari, (Beirut, Daar al-Ma’rifah, 1379 H), 11, 238.

[5] Lihat kamus Ma’ajim al-Arab.

SebelumnyaPandangan Imam Ghazali Terhadap Perempuan Karir
BerikutnyaSyair Siti Aisyah Saat Ayahnya Berpulang