Para santri tampak memenuhi lokasi bazar Ramadan di lokasi Pesantren Tebuireng, (20/05/18). (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online- Hadirnya bulan Ramadan di Pesantren Tebuireng membawa keberkahan tak hanya bagi santri, melainkan juga bagi warga sekitar. Seperti yang telah ada pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini pengurus Pondok Putra Pesantren Tebuireng kembali menggelar bazar Ramadan, sejak awal Ramadan (17/05/18) hingga menjelang pertengahan Ramadan mendatang.

Mengulang seperti tahun-tahun sebelumnya, pada bazar Ramadan kali ini pengurus mendatangkan pedagang-pedagang yang berjualan di sekitar kawasan Tebuireng.  Diadakannya bazar ini bertujuan agar para santri bisa membeli takjil untuk berbuka dan  tidak merasa bosan di dalam pondok.

Para santri biasa menyerbu bazar tersebut menjelang Maghrib. Banyak dari mereka yang membeli berbagai macam takjil yang dipersiapkan untuk berbuka puasa. Mulai dari gorengan, makanan-makanan ringan, hingga berbagai macam minuman, setelah dari bazar, biasanya para santri mengantri Jasa Boga (JABO) untuk mengambil jatah makan.

Selain sebelum berbuka, sebagian santri juga masih mengunjungi bazar setelah shalat Tarawih. Sedangkan sebagian yang lain baru pergi menuju bazar begitu selesai ngaji bandongan kepada KH. Taufiqur Rohman.

Dari sekian banyak pedagang yang menjajakan berbagai makanan dan minuman, bermacam-macam pula yang dibeli oleh para santri. Salah seorang santri dari palembang, Zaki Audani,  mengungkapkan senang membeli bakso setiap kali selesai menunaikan shalat Tarawih,

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Biasanya begitu selesai shalat Tarawih saya pergi ke bazar. Kalo yang paling sering saya beli sih bakso,” tutur Zaki kepada pewarta Tebuireng Online, Ahad (20/05/2018).

Sebagian santri mengungkapkan adanya bazar Ramadan ini membawa variasi baru di pondok. Mereka mengungkapkan, bazar ini membuat tidak bosan dengan jajanan yang begitu-begitu saja. Meski begitu, tak semua santri menganggap bazar Ramadan ini membawa dampak postif, melainkan juga dampak negatif.

“Justru dengan hadirnya bazar ini membuat santri tergoda untuk terus jajan. Sulit untuk menghemat uang,” tukas Robith Mahasin, santri asal Gresik yang mengaku jarang pergi ke bazar.

Pedagang-pedagang yang berjualan tak hanya mengambil hasil untuk dirinya sendiri, melainkan juga melakukan bagi hasil dengan pihak pondok.

“Hasil penjualannya dibagi sama pondok. 15 persennya dikasihkan ke pondok, baru sisanya buat saya,” tutur Yus, salah satu pedagang yang pada hari-hari selain Ramadan biasa berdagang di depan Pesantren Tebuireng dan Muallimat.


Pewarta: Aji

Editor/Publisher: Rara Zarary

SebelumnyaBahas Radikalisme Saat Buka Puasa Bersama
BerikutnyaAir Mata Ramadan di Palestina