Tradisi Dul Kadiran Desa Socorejo, Kecamatan Jenu Tuban

Oleh: Naila Nur Indah*

Terdapat banyak macam ritual keagamaan dari berbagai agama masing – masing dan setiap ritual – ritual tersebut memiliki makna dan tujuan berbeda – beda.  Dalam agama Hindu yang di dalamnya terdapat salah satu ritual  yang diberi nama Nyepi, kemudian ada agama Budha yang di dalamnya terdapat Tri Suci Waisak, dan juga pada agama Kristen yang di dalamnya terdapat Paskah dan sebagainya.

Di dalam agama Islam terdapat salah satu ritus keagamaan selain yang bersifat wajib seperti shalat, puasa, haji, bersuci dan lain – lain yang mana arti dari ritual wajib adalah ritual yang harus dilaksanakan oleh orang Islam di dalamnya terdapat sanksi dan aturan yang tegas. Sedangkan ritual yang sifatnya tidak wajib adalah seperti perayaan maulid nabi, tahlilan, ziarah kubur dan lain – lain.

Ada salah satu ritual yang dinilai begitu unik, yang saat ini mulai jarang orang mengetahuinya bahkan sudah banyak tidak melakukanya yakni ritual “Dul Kadiran”. Ritus yang terdapat pada sebagian masyarakat Jawa Timur yang kental dengan kultur Madura yang seringkali memiliki perayaan seperti membuat bubur pada bulan Suro dan bulan Shafar dan berbeda dengan masyarakat Jogjakarta yang memberi nama dengan Grebek Maulid dan lain – lain. Untuk ritual “Dul Kadiran” yang merupakan ritual untuk memperoleh keberkahan untuk anaknya yang saat kini lekat pada tradisi orang Probolinggo pada umumnya.

Istilah Dul Kadiran merupakan bentuk tabarrukan (mengharap berkah) kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang dalam hal ini beliau adalah ulama’ besar yang sangat diakui keagunganya dan kekaromahanya,  juga sebagai bentuk tawassul (sebagai perantara) kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam rangka wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di dalam agama Islam, ritual Dul Kadiran merupakan bentuk ritual yang bertujuan untuk memperoleh keberkahan untuk anak terutama bagi anak mereka yang ‘sulit memahami’ agar harapannya dapat menjadi anak yang penurut, dapat mudah menangkap pelajaran, dan juga bertujuan untuk menolak berbagai macam bala’ dan berbagai macam penyakit yang menyerang, di beri umur panjang, keberkahan rezeki, dan banyak lagi harapan – harapan dari adanya ritual Dul Kadiran ini.

Ritual Dul Kadiran berbeda dengan ritual – ritual agama Islam pada umunya baik dari pelaksanaanya maupun hidanganya. Di dalam pelaksanaan ritual Dul Kadiran dilaksanakan pada malam Jum’at legi pada tengah malam hari. Uniknya, selama proses ritual Dul Kadiran ini tidak diperkenankan untuk berbicara satu kata pun.

Untuk menanyai peralatan dan bahan – bahan yang dibutuhkan untuk ritual Dul Kadiran ini hanya boleh dengan memberikan isyarat kepada anggota pelaksana, kecuali ketika sudah tiba saat pembacaan wirid dan dzikir maka barulah diperbolehkan untuk membuka suara guna untuk membacakan wirid, dzikir, dan doa – doa yang sudah ditentukan dari dul kadiran ini.

Adapun bacaan Dul Kadiran ini di antara lain adalah pembacaan surat Yasin, surat al-Hadid, dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah. Ritual semacam ini juga berlaku pada proses memasak makanan untuk dihidangkan nantinya, yang mana memasak dilakukan pada tengah malam juga dan juga tidak diperkenankan mengucapkan sepatah kata pun.

Adapun bahan yang diperlukan dalam ritual Dul Kadiran ini di antara lain adalah beras putih 5 kilogram atau setara dengan dua kali takaran zakat fitrah, ayam sembelihan (terdapat beberapa pendapat yang mengatakan harus berupa ayam jantan berwarna putih dan sebagian juga mengatakan tidak harus berupa ayam jantan berwarna putih), membuat nasi tumpeng dengan macam tujuh, dan ditambah dengan uang 7 dirham atau setara dengan 15.000 pada umumnya. Akan tetapi juga banyak penambahan – penambahan lainya sesuai adat istiadat yang berlaku di daerah masing – masing.

Dari sekian banyak pola ritual Dul Kadiran ini adalah tidak lain sebagai bentuk syukur ungkapan manusia sebagai makhluk Allah SWT  yang disertai dengan harapan – harapan di dalamnya.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKeutamaan dan Amaliyah Dzulhijjah
BerikutnyaIngin Hidup Tenang? Ikuti 9 Tips Ini