
Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng menerima kunjungan sebanyak 350 rombongan Majelis Nisa’ Madrasah Darussalam Tahfidz dan Ilmu Al-Qur’an Martapura, Kalimantan Selatan, dalam kegiatan rihlah ilmiah, silaturahim, dan seminar ilmiah. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim pada Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan antar-pesantren sekaligus memperdalam wawasan keislaman, khususnya mengenai peran perempuan dalam perspektif Al-Qur’an.
Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Pengasuh Madrasah Darussalam Tahfidz dan Ilmu Al-Qur’an Martapura, KH. M. Wildan Salman, didampingi Nyai Fauziah Abdul Mu’in serta keluarga besar pesantren. Sementara dari pihak Tebuireng hadir Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, beserta Ny. Hj. Lelly Lailiyah Hakim. Sebelum mengikuti seminar, para peserta melaksanakan sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari menonton bersama profil pesantren, ziarah ke maqbarah Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan para masyayikh Tebuireng, hingga ramah tamah bersama keluarga besar pesantren.
Dalam sambutan pembuka, KH. M. Wildan Salman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan Pesantren Tebuireng kepada rombongan Majelis Nisa’. Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan kesempatan berharga untuk mempererat hubungan keilmuan dan spiritual antara dua lembaga pesantren.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas penerimaan yang luar biasa dari keluarga besar Tebuireng. Ini menjadi kehormatan bagi kami untuk dapat bersilaturahim dan menimba keberkahan di pesantren yang didirikan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari,” ujarnya.
KH. M. Wildan Salman menjelaskan bahwa Majelis Nisa’ merupakan forum pengajian yang telah berjalan lebih dari dua dekade dan diikuti oleh para alumni serta santri putri yang tetap istiqamah menuntut ilmu meskipun telah berkeluarga. Sebagian anggota bahkan telah mengikuti majelis ini selama belasan hingga puluhan tahun. Ada yang telah memiliki anak bahkan cucu, namun semangat belajar mereka tidak pernah surut.
Sementara itu, dalam amanatnya, KH. Abdul Hakim Mahfudz menekankan bahwa semangat mencari ilmu harus terus dijaga sepanjang hayat. Menurutnya, salah satu ciri utama seorang santri adalah tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.
“Jangan pernah berhenti belajar. Ketika seseorang merasa ilmunya sudah cukup, saat itulah sesungguhnya ia mulai kehilangan semangat sebagai pencari ilmu,” tutur pengasuh yang akrab disapa Gus Kikin tersebut.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan tersambung hingga Rasulullah SAW. Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus merespons tantangan modern secara bijaksana. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan akademik yang baik tanpa meninggalkan fondasi ilmu agama yang telah diwariskan para ulama. Pesantren mengajarkan umat untuk menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang membawa kemaslahatan, sehingga keduanya harus berjalan seimbang.
Pada kesempatan tersebut, KH. Abdul Hakim Mahfudz juga memaparkan berbagai program kolaborasi antara Nahdlatul Ulama Jawa Timur dengan sejumlah perguruan tinggi yang membuka peluang beasiswa bagi para santri, khususnya penghafal Al-Qur’an. Program tersebut menjadi bukti bahwa santri memiliki peluang besar untuk berkontribusi di berbagai bidang keilmuan dan profesi. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata antara Pesantren Tebuireng dan Madrasah Darussalam Tahfidz dan Ilmu Al-Qur’an Martapura sebagai simbol persaudaraan dan kerja sama antarlembaga.
Memasuki sesi utama, peserta mengikuti seminar ilmiah bertema Fikih Kewanitaan yang disampaikan oleh pakar tafsir Tebuireng, KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag. Dalam paparannya, ia mengajak peserta melihat pembahasan perempuan dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir yang lebih mendalam. KH. Musta’in menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah berbeda untuk menyebut perempuan, seperti imra’ah, zauj, dan nisa’. Perbedaan istilah tersebut menunjukkan adanya konteks dan karakteristik tertentu yang ingin disampaikan Al-Qur’an.
“Al-Qur’an tidak menggunakan istilah secara sembarangan. Setiap penyebutan memiliki makna dan pesan yang berkaitan dengan kondisi serta peran perempuan yang sedang dibahas,” jelasnya.
Ia kemudian menguraikan sejumlah figur perempuan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, di antaranya Sayyidah Hajar, Asiyah istri Firaun, dan Ratu Balqis. Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut menunjukkan beragam karakter perempuan yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan. Kisah Sayyidah Hajar menggambarkan keteguhan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah SWT dalam menghadapi ujian hidup. Sementara Ratu Balqis menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin yang bijaksana, mampu mengambil keputusan secara objektif, serta mengutamakan musyawarah.
“Al-Qur’an menghadirkan banyak tipologi perempuan. Semuanya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan masa kini untuk menjalankan perannya sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing,” katanya. Selain itu, ia menegaskan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkiprah dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan pekerjaan, selama tetap menjaga nilai-nilai syariat dan kehormatan diri.
Seminar berlangsung interaktif saat memasuki sesi tanya jawab. Salah satu peserta menanyakan bagaimana perempuan masa kini dapat tetap berkarier dan bekerja di ruang publik tanpa melanggar ketentuan syariat Islam. Menanggapi hal tersebut, KH. A. Musta’in Syafi’i menjelaskan bahwa Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja selama tetap menjaga adab, kehormatan diri, dan batasan-batasan yang telah ditetapkan agama. Ia mencontohkan sejumlah perempuan pada masa Rasulullah SAW yang tetap menjalankan aktivitas ekonomi dan sosial dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Islam. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga etika, kehormatan, serta menjadikan aktivitas tersebut sebagai sarana kemaslahatan.
Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan pandangan sebagian masyarakat yang masih menganggap perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi. Menurut KH. Musta’in, pandangan tersebut tidak sejalan dengan semangat Islam yang mendorong setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu. Ia mencontohkan Sayyidah Khadijah dan Sayyidah Aisyah sebagai perempuan-perempuan berpengaruh dalam sejarah Islam yang memberikan kontribusi besar bagi umat melalui kecerdasan, ilmu, dan keteladanan mereka. Perempuan yang berilmu akan mampu memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi keluarga maupun masyarakat, sehingga pendidikan merupakan hal yang sangat penting.
Sementara itu, pertanyaan lain membahas tentang cara mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah di tengah berbagai tantangan zaman. Dalam jawabannya, KH. Musta’in menekankan pentingnya keteladanan orang tua, kesabaran dalam mendidik, serta konsistensi dalam memberikan pendidikan agama sejak dini. Ia juga mengangkat kisah Sayyidah Hajar sebagai salah satu contoh perempuan yang memiliki keteguhan iman dan kesabaran luar biasa dalam membesarkan putranya, Nabi Ismail AS. Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh usaha lahiriah semata, tetapi juga oleh doa, keikhlasan, dan keteguhan orang tua dalam menjalankan tanggung jawabnya. Seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter dan masa depan anak, sehingga pendidikan keluarga harus menjadi perhatian utama.
Dengan adanya kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman tentang fikih kewanitaan, tetapi juga mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai posisi perempuan dalam Islam, baik sebagai pencari ilmu, pendidik keluarga, maupun bagian dari masyarakat yang berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang berlangsung secara khidmat sebagai pemungkas keberkahan acara. Melalui rihlah ilmiah ini, kedua pesantren berharap dapat terus memperkuat jalinan silaturahim, memperluas kerja sama keilmuan, serta menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat di kalangan santri dan jamaah.

Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Sutan


















