
Tebuireng.online- Sebanyak 350 peserta dari Majelis Nisa’ Madrasah Darussalam Tahfidz dan Ilmu Al-Qur’an Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan, melaksanakan rihlah ilmiah ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Selasa (2/6/2026). Rombongan yang datang dengan mengendarai tujuh unit bus tersebut langsung mengawali rangkaian kegiatan dengan agenda nonton bareng (nobar) film Jejak Langkah 2 Ulama di Lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim.
Pengasuh Majelis Nisa’, KH. Muhammad Wildan Salman, menjelaskan bahwa pemutaran film sejarah ini bertujuan untuk mengenalkan sosok Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari secara lebih dekat kepada para santriwati. Fokus utama penayangan ini adalah memberikan gambaran mengenai kegigihan perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, serta dedikasinya saat mendirikan dan membesarkan Nahdlatul Ulama (NU).
“Mengenalkan pada santriwati kami tentang perjalanan Hadratus Syaikh, perjalanan perjuangan Hadratus Syaikh tentang mendirikan dan membesarkan NU. Selain itu, kami juga ingin menziarahi makam masyayikh Tebuireng,” ujar KH. Muhammad Wildan Salman.
Film yang mengangkat kisah otentik perjuangan para pendiri ormas besar di Indonesia tersebut terbukti meninggalkan kesan spiritual dan motivasi yang mendalam bagi para peserta. Salah seorang jamaah, Mursyidah, mengaku mendapatkan banyak khazanah pengetahuan baru tentang ketokohan Hadratussyaikh melalui tayangan visual tersebut.
“Pesannya sangat menyentuh. Jadi banyak pengetahuan tentang Hadratussyaikh, terutama perjuangan beliau dalam mencari ilmu dan menyebarluaskan ajaran Islam,” ungkap Mursyidah.
Kesan serupa juga disampaikan oleh Saiful. Menurut penilaiannya, film sejarah tersebut mampu memberikan rekonstruksi gambaran yang sangat baik mengenai rekam jejak perjuangan para ulama terdahulu yang wajib diketahui serta diteladani oleh generasi masa kini.
“Bagus, jadi tahu sejarahnya,” kata Saiful singkat.
Sementara itu, Ibu Nazmiah mengaku sangat terkesan dengan aspek kegigihan dan konsistensi Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam menuntut ilmu formal maupun agama. Bagi dirinya pribadi, spirit belajar tanpa kenal lelah yang ditampilkan sepanjang film menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga untuk diterapkan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari.
“Sangat terkesan dengan isi filmnya. Perjuangan beliau dalam menuntut ilmu berkali-kali dan semangat belajar sampai akhir hayat bisa diamalkan,” tutur Ibu Nazmiah.
Rasa haru sekaligus dorongan motivasi juga dirasakan oleh peserta lainnya, Nadia. Setelah menyaksikan dedikasi dan pengorbanan para ulama dalam menjaga sanad keilmuan Islam, ia merasa terpacu untuk semakin giat belajar dan meneladani kesabaran para guru bangsa tersebut.
“Terharu. Semangat belajarnya sangat bagus,” ujar Nadia.
Setelah agenda menonton bersama usai, seluruh rombongan bergerak menuju kompleks Maqbarah Pesantren Tebuireng untuk melaksanakan prosesi ziarah, tahlil, dan doa bersama di makam para masyayikh. Rangkaian rihlah ilmiah Majelis Nisa’ Martapura ini kemudian dilanjutkan dengan sesi seminar ilmiah interaktif yang membedah tema fikih kewanitaan bersama pakar tafsir Tebuireng, KH. A. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Pewarta: Albi
Editor: Sutan


















