sumber ilustrasi: www.google.com

Oleh: Silmi Adawiya*

Secara umum, makna kata ‘aqal dalam konteks potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah potensi yang mendorong pada lahirnya budi pekerti luhur atau menghalangi seseorang melakukan keburukan. Makna ini, menurut pakar Mesir kenamaan, Abbas Mahmud al-Aqqad, sejalan dengan kata mind dalam bahasa Indo-Germania yang juga mengandung arti “keterhindaran dan kehati-hatian” serta digunakan untuk mengingatkan seseorang agar berhati-hati. Tak heran jika akal akan mendorong manusia pada arah kebaikan dan menghalanginya jika tersangkut pada hal yang buruk.

Namun jika akal tak lagi mengarahkan pada arah kebaikan, masihkah pantas disebut dengan orang berakal? Dalam Kitab Hayatussalaf  karya Syekh Ahmad bin Nashir At Thayar disebutkan:

إذاعقلك عقلك عما لا ينبغي فأنت عاقل

“Apabila akalmu mengikatmu dari kelakuan yang tidak sepantasnya, barulah engkau pantas disebut dengan orang yang berakal.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan berlandaskan apa yang diterangkan dalam kitab Hayatussalaf  karya Syekh Ahmad bin Nashir At Thayar tersebut, tentu orang yang tak lagi pantas disebut dengan orang yang berakal adalah orang yang melakukan apa-apa yang tidak pantas dan dilarang oleh Allah.

Dengan akal manusia mampu berfikir, berimajinasi, dan mampu mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela. Itulah sebabnya para ulama sepakat memasukkan akal menjadi bagian dari lima dimensi yang sangat penting dalam syariat (maqasid as syariah).

Akal yang ideal adalah sebagai pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Namun realitasnya kadang berbanding sebaliknya, seakan sulit membedakan sifat manusia dengan hewan. Ternyata, hal tersebut sudah diabadikan dalam Al-Qur’an yakni QS al-A’raf: 179 yang berbunyi:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Pada ayat di atas Allah mengibaratkan manusia dengan binatang ternak bahkan lebih sesat, alasannya hanya satu karena manusia tersebut tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya padahal ia sendiri memiliki akal. Sehingga yang terjadi adalah manusia tidak mampu menjaga hatinya, tidak mampu menggunakan penglihatan, dan pendengarannya sebagaimana mestinya.

*Alumnus Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.

 

SebelumnyaKH. Hasyim Asy’ari Itu Pak Tani
BerikutnyaBersyukur atas Nikmat dan Musibah