KH. Habib Ahmad membacakan kitab Shahih Bukhori dan Shahih Muslim setiap Bulan Ramadan.

Oleh: Ananda Prayogi*

Pondok Ramadan adalah istilah yang menggambarkan kegiatan khusus di waktu bulan suci Ramadan di pesantren, madrasah atau lembaga pendidikan lain. Kegiatan khusus ini biasanya berupa pengajian kitab-kitab klasik hingga kontemporer atau pembacaan Al Quran dengan durasi waktu yang padat dan singkat.

Beberapa pesantren mensiasati santrinya agar terus bisa menggali ilmu sekaligus ngalap berkah (mengambil keberkahan) serta mengisi kekosongan waktu. Bahkan juga pesantren membuka peluang bagi santri pesantren lain atau warga umum untuk ikut belajar dalam Pondok Ramadan. Walaupun toh dalam hiruk pikuk Ramadan yang siangnya memang berkeadaan puasa. Tentunya dengan mengaji kitab klasik seperti biasanya. Hanya saja mengajinya secara ‘kilat’ maka kegiatanya disebut ‘kilatan’. Layaknya kilat yang menyambar cepat, Ngaji Kilatan atau mengkhataman kitab-Kitab klasik ini, dengan sistem kebut (kilat) sebulan.

Kilatan Ala Kiai Hasyim Asy’ari

Di Pesantren Tebuireng, kegiatan kilatan rutin digelar tiap tahunya. Mengingat, kegiatan ini sudah menjadi budaya sejak zaman Kiai Hasyim Pendiri dan Pengasuh Pertama Pesantren Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalau kita telisik sedikit saja tapak sejarah kilatan pada generasi awal Pesantren Tebuireng, ternyata banyak sekali jejak para kiai se-Indonesia yang pernah singgah di sini walaupun hanya sebentar. Kiai-kiai Nusantara itu sengaja datang ke Tebuireng dalam rangka menimba ilmu dan berguru kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Salah satunya yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura yang juga merupakan guru Kiai Hasyim sendiri.

Kiai Hasyim yang kharismatik dan sangat disegani ini menjadikan Ramadan sebagai ajang silaturrahim bagi para kiai serta ulama Nusantara pada waktu itu yang bertempat di Tebuireng. Selain ngalap berkah dari guru besar para ulama, mereka juga bisa merasakan manis pahitnya nyantri di Pesantren Tebuireng ini walaupun tidak genap satu bulan.

Walaupun menjadi qori’ rujukan utama dalam pengajian kilatan di Tebuireng, Kiai Hasyim membacakan kitab-kitab kilatan tersebut tidak sendirian. Banyak juga kiai-kiai lain yang merupakan santri-santri beliau yang senior turut membatu membacakan kitab pada bulan puasa. Hanya saja, Kiai Hasyim khusus menjadi qori’ kitab-kitab hadis seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yang sesuai dengan bidang beliau. Sedangakan bagi santri Tebuireng maupun dari luar Tebuireng, yang ingin mengaji kitab tafsir, tasawwuf dan yang lainya bisa mengikuti pengajian kiai-kiai yang lain.

Adapun kitab yang dikaji dalam kilatan di Bulan Suci Ramadan oleh Kiai Hasyim tidak lepas dari dua kitab hadis paling muktabar, yaitu kitab Jami’ush Shohih al Bukhari dan Jami’ush Shohih Muslim menjadi kitab yang wajib dibaca oleh beliau ketika Ramadan. Tradisi pembacaan dua kitab hadis yang yang paling shahih ini, di Tebuireng masih terus berlangsung hingga sekarang diampuh oleh KH. Habib Ahmad.

Kilatan Tebuireng Sekarang

Pada masa sekarang, Pesantren Tebuireng mengadakan kilatan dengan berbagai kitab yang lebih varian. Mengingat jumlah santri serta peserta kilatan dari luar yang terus meningkat, membuat para pengurus harus memperkaya jenis kitab yang dibacakan ketika bulan puasa.

Ramadan 1437 H atau 2016 lalu, jumlah peserta pengajian kilatan di Tebuireng sekitar 1.700 orang. Jumlah ini meliputi peserta yang dari luar kurang lebih mencapai 250 peserta dan selebihnya merupakan santri Tebuireng sendiri. Mereka yang dari luar itu menginap di ruang tamu dan di beberapa kamar santri. Seperti pada tahun lalu salah satunya kamar Laskar Hizbullah (LH) 01 menjadi tempat menginapnya para santri kilatan dari luar.

Mereka yang dari luar, berasal dari berabgai daerah seperti Jakarta, Banten, bahkan luar Jawa. Uniknya, walaupun oleh para pengurus pesantren sudah disediakan tempat menginap, para pendatang ini lebih memilih menginap di kamar santri. Mereka yang seperti ini mayoritas adalah alumni yang merindukan suasana pengajian di Tebuireng sekaligus ingin bernostalgia dengan kamarnya yang dulu mereka pernah tempati saat menimba ilmu di pesantren ini.

Kebanyakan dari mereka juga merupakan santri dari pondok sekitar. Sebagian kecil juga ada beberapa peserta berasal dari santri kampung atau yang biasa disebut sebagai ‘santri kalong’, yaitu mereka yang bersekolah di unit di bawah naungan Yayasan KH. Hasyim Asy’ari, tetapi tidak mukim di mondok.

Pengajian biasanya dimulai beberapa hari sebelum Ramadan dan diakhiri pada minggu ketiga. Waktu pengajian ini dimulai dari selepas jama’ah shalat shubuh hingga menjelang dini hari. Tak heran dan tak jarang, terlihat pemandangan santri yang ketiduran ketika sedang memaknai kitabnya. Mengingat waktu yang seharusnya santai menjadi sangat padat. Bayangkan saja, bagaimana rasanya duduk lama mengaji kitab sehari penuh, dengan jeda yang sangat pendek? Tentunya butuh perjuangan yang lebih dengan kondisi menahan lapar dan dahaga.

Walaupun kenyataanya seperti itu, para santri tetap begitu antusias mengikuti ‘ajang koleksi ilmu dari berbagai kitab’. Penulis sebut begitu, karena memang momen ini sangat menguntungkan bagi santri yang ingin mencari pengalaman dan ilmu dari berbagai kitab yang jarang dikaji di luar Ramadan. Memang benar, pencari ilmu sejati, tidak mengenal kata ‘lelah’.

Qori’ atau pembaca kitab kilatan di Tebuireng kebanyakan tetap setiap tahunya. Seperti Kiai Habib Ahmad yang meneruskan estafet Kiai Hasyim untuk membacakan kitab Jami’ush Shahih al Bukhari dan Jami’ush Shahih Muslim sudah bertahun-tahun. Untuk mengkhatamkan dua kitab tersebut membutuhkan waktu tiga kali Ramadan. Menurut pengalaman penulis, kitab Shahih Bukhori yang berjumlah empat jilid bisa beliau khatamkan dua kali Ramadan. Yaitu jilid satu dan dua selama sebulan, lalu dilanjutkan Ramadan berikutnya jilid tiga dan empat. Adapun Ramadan berikutnya lagi beliau hanya butuh waktu satu kali Ramadan saja untuk menghatamkan kitab Shahih Muslim yang memang hanya berjumlah dua jilid.

Sebelum kepulangan santri, pada tenggal 17 Ramadan biasanya pesantren mengadakan acara penutupan pengajian Ramadan. Tentunya, momen ini menghadirkan seluruh peserta dan santri termasuk santriwan dan santriwati di Tebuireng. Dalam acara tersebut, disampaikan pesan-pesan dan amanah ilmu yang telah dikaji khusus. Tidak lupa pula, salam ta’dzim dan pesan dari para qori’ dan pegurus untuk keluarga di rumah ketika santri pulang merayakan hari raya di kampung masing-masing.

Sebelum penutupan pengajian Ramadan, khusus bagi pengajian kilatan dua Kitab Shahih Bukhari dan Muslim, diadakanlah doa khataman kitab tersendiri sekaligus ijazahan. Ijazahan yang dimaksud di sini adalah proses penerimaan sanad kepada peserta oleh pemegang sanad secara langsung (lisan dan tulisan), dalam hal ini adalah KH. Habib Ahmad. Dalam dunia akademik, hal ini biasa disebut sertifikasi atau legalitas keilmuan tertentu. Tentunya disertakan juga sumbernya secara runtut hingga sampai kepada pengarang kitab dan Rasulullah SAW.

Kegiatan pengajian kilatan pada bulan Ramadan (pondok Ramadan) memang menjadi kegiatan utama. Namun, kita tidak bisa menafikan kegiatan tadarus Al Quran, baik di masjid maupun secara bergantian, maupun personal. Waktu tadarus Al Quran biasanya pada malam hari menjelang tidur dan khusus bagi yang belum diwisuda bin nadhor, tetap diwajibkan mengikuti pengajian Al Quran selepas jamaah shalat shubuh seperti hari-hari biasa.

Ngaji Kilatan Santriwati

Tidak jauh berbeda dengan pondok putra, pondok putri Tebuireng juga memiliki dua kegiatan utama untuk mengisi bulan suci ini. Kegiatan pertama yaitu tadarus Al Quran secara individu. Tentunya setelah pelepasan dahaga dan perut kenyang selepas berbuka puasa hendaknya memang melakukan kegiatan yang ringan dengan membaca kalam-kalam Allah itu, tepatnya dilakukan selepas jama’ah Shalat Maghrib hingga menjelang Isya’.

Kegiatan kedua yakni kegiatan menghatamkan kitab kebut sebulan oleh santriwati Tebuireng. Beberapa peserta pengajian juga dari luar pondok. Waktunya selepas jama’ah Shubuh, Dhuhur, Ashar, dan setelah Tarawih. Adapun kitab yang cibaca saat kilatan meliputi kitab-kitab yang memuat tentang pelajaran akhlak, hadis, tentang keputrian, keluarga, fikih wanita, dan beberapa kitab dalam disiplin ilmu agama lainnya.

Khusus untuk santriwati tingkat SLTA, Pesantren Putri Tebuireng menyediakan kilatan kitab yang mengulas tentang pernikahan. Salah satu kitab yang dikaji adalah kitab karangan Syaikh Nawawi al Bantani, yaitu kitab Uqud al Lujain fii Bayani Huquq az Zaujaini. Dengan mengkaji kitab ini, diharapkan nantinya para santriwati memiliki bekal wawasan perihal pernikahan, khususnya dalam membina rumah tangga yang sakinah mawaddah dan penuh rahmat Allah. Mereka juga diharapkan bisa menjadi potret istri shalihah dan ibu yang merupakan sekolah pertama bagi sang buah hati. Sehingga dari keluarga-keluarga tersebut bisa menghasilkan generasi-generasi emas yang berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan agama. Wallahu a’lam*


*Santri kelas XI-MAK Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Pesantren Tebuireng dan aktif sebagai anggota tim redaksi Pena Santri.

SebelumnyaKonfercab NU: Harapkan Pemimpin Yang Ikhlas dan Istikamah
BerikutnyaSlilit Si Santri