Kiai Abu Bakar (tengah), merupakan santri Kiai Hasyim Asy’ari, yang meninggal pada Kamis (12/8).

Oleh: Mohamad Anang Firdaus*

Sebuah Obituari

Dari sekian banyak santri Tebuireng yang sezaman dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, mungkin Kiai Abu Bakar adalah salah satu santri yang membuktikan betapa kiai Hasyim sangat peduli dengan perjuangan santrinya. Meskipun beliau tidak pernah belajar secara langsung kepada Hadratussyaikh, namun hal itu tidak membuat kiai yang akrab dipanggil Kiai Bakar itu merasa jauh dari sang maha guru.

Kiai bakar masih sangat muda kala itu, sehingga beliau tidak berkesempatan untuk mencicipi pengajian tingkat tinggi dengan Hadratussyaikh. Kedekatan itu beliau rasakan dikala Hadratussyaikh hadir dalam mimpinya untuk memberikan isyarat dan teguran.

Masuk di pesantren Tebuireng asuhan Hadratussyaikh di tahun 1943 merupakan kebanggaan bagi beliau. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Salafiyah Syafi’iyah, beliau begitu bersemangat, karena akan tiba waktunya untuk ngangsu kaweruh pada Hadratussyaikh secara langsung.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, sayangnya di tahun 1947, Hadratussyaikh meninggal dunia, sebelum keinginan mulia kiai Bakar terwujud. Atau mungkin saja beliau sempat mengaji kepada Hadratussyaikh, namun enggan mengakuinya, sebagaimana beberapa santri Hadratussyaikh lainnya.

Kiai yang tinggal di Bandung Krajan ini masih bersemangat saat mengenang kiai Hasyim yang sangat ia kagumi. Terkadang tampak eluh yang tersapu di mata kiai Bakar saat mengingat kiai Hasyim yang (dianggapnya) sangat peduli dengan dirinya. Selepas menamatkan pendidikannya di Pesantren Tebuireng, beliau diminta gurunya yang lain, kiai Adlan Aly yang saat itu baru merintis Madrasah Muallimat Cukir untuk mengajar Nahwu dan beberapa fan kelimuan lainnya.

Bahkan pendapat lain mengatakan, beliau juga membantu kiai Adlan Aly dalam proses merintis Madrasah Muallimat Cukir di tahun 1954. Dengan dedikasi tinggi dan ketulusan niat, beliau membantu mengajar di Madrasah Muallimat Cukir. Kiai Bakar selalu mengayuh sepedanya untuk berangkat mengajar dengan menempuh jarak 6,3 KM dari rumahnya di Bandung Krajan. Hal ini beliau lakukan selama hampir 16 tahun, sebelum akhirnya tahun 70-an beliau digantikan H. Machsun Shohib.

Di tahun-tahun itu, sempat terlintas di benak Kiai Bakar untuk pensiun dari dunia pendidikan. Beliau ingin mencoba untuk bergelut di dunia pertanian. Karena niatnya itu, lantas kiai yang berperawakan kurus ini bermimpi bertemu gurunya, kiai Hasyim.

Dalam mimpinya, Kiai Bakar dibawa di masa ia belajar di Tebuireng. Kiai Bakar melihat kiai Hasyim bersiap untuk mengajar, sedangkan beliau menata bangku di dalam kelas kiai Hasyim tersebut. Tiba-tiba kiai Hasyim berkata bertanya kepada beliau: “Kamu tidak mau ngajar lagi?”, Sambil mengangkat sebuah bangku yang hendak dilemparkan kiai Hasyim kepada kiai Bakar. Mimpi itu dimaknai oleh Kiai Bakar sebagai teguran dari sang guru agar ia tetap mengajarkan ilmu yang didapatkan dari Tebuireng. Oleh Kiai Bakar, teguran ini dianggapnya sebagai bentuk kepedulian sang guru kepada muridnya itu.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari memang dikenal sebagai kiai besar yang akan senang jika para santrinya dapat mengajarkan ilmu yang didapat dari Tebuireng kepada masyarakat. Bahkan kiai Hasyim tak segan untuk membantu santri untuk membangunkan pondok pesantren. Terkadang beliau juga mengirimkan beberapa santri Tebuireng untuk belajar di pesantren yang baru dirintis santrinya. Keinginan kiai Hasyim ini juga terlihat saat beliau tirakat dan mujahadah bagi santri yang selama tiga tahun lebih memilih tekun belajar di pondok dan tidak pulang, maka kiai Hasyim akan mendoakannya menjadi kiai besar yang mempunyai pondok pesantren. Dari isyarat mimpinya itu, kiai Bakar pun mengurungkan niatnya untuk tidak lagi mengajar. Untuk menjalankan amanah gurunya tersebut, kiai Bakar lantas mendirikan sebuah yayasan pendidikan di desanya yang diberi nama Darul Hikmah.

Sebagaimana murid-murid Hadratussyaikh lainnya, Kiai Bakar juga memiliki pengalaman berkesan dengan kiai Hasyim. Beliau menuturkan bahwa kiai Hasyim dianugerahi oleh Allah kemampuan “weruh sak duruge winarah”. Saat itu Kiai Bakar masih belajar di madrasah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng.

Layaknya santri muda lainnya, Kiai Bakar pernah berjalan-jalan di sekitar pondok saat malam hari. Tanpa disengaja Kiai Bakar sampai di salah satu dusun di Jatirejo, sekitar setelah kilo dari Tebuireng. Di sana Kiai Bakar muda melihat sebuah tempat “remang-remang”. Kiai Bakar pun keheranan, bagaimana bisa, desa yang berada di dekat pesantren besar sekelas Tebuireng, dengan pengasuh sekelas Hadratussyaikh kok masih ada fenomena saru…?

Sekembalinya di pondok, kiai Bakar muda masih digelayuti tanda tanya besar. Kiai Bakar bingun, tak tau di mana ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Tak dinyana, kiai Hasyim sudah berada di belakangnya, berkata “Cung, Kabeh jeding iku mesti enek pecerene,” nak, semua kamar mandi itu pasti ada tempat pembuangannya. Seakan tak butuh pentakwilan lagi, kiai Bakar sudah merasa mendapatkan jawaban yang ia cari. Perkataan tanpa mukadimah kiai Hasyim telah menjelaskan semuanya.

Kedua kisah tersebut adalah sepenggal dari kenangan kiai Bakar saat nyantri di Tebuireng yang dituturkan langsung kepada penulis setahun silam. Meski hanya sekali bertemu, kiai Bakar telah memberikan banyak kesan yang baik kepada penulis. Tuturnya didominasi oleh bahasa Jawa halus, sikapnya kalem, dan langsung bersemangat jika bercerita tentang kiai Hasyim dan Tebuireng.

Kiai Bakar telah wafat pada Kamis sore, 12 Agustus 2021, dengan meninggalkan segudang keteladanan. Kiai Bakar dihantarkan ke peristirahatan terakhirnya oleh cucu Hadratussyaikh, KH. Agus Fahmi Amrullah. Semoga beliau dilimpahi Rahmat dan maghfirah dari Allah SWT. Amin…

*Dosen Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaKemakmuran Masjid di Era Pandemi
BerikutnyaSantri Pelopor Memutus Penularan Covid-19, Ajak Prokes dan Vaksinasi