Santri Tebuireng bersama Sharla Martiza (the winner of the voice kids Indonesia 2017) ajak masyarakat taat prokes dan vaksinasi.

Tebuireng.online– Pandemi  Covid-19 mendorong berbagai pihak bersinergi dalam memutus rantai penularan virus corona. Santri di Pesantren Tebuireng Jombang turut menjadi pelopor dalam penerapan disiplin protokol kesehatan 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Salah satu contoh kongkrit yang diterapkan di Pesantren Tebuireng adalah keberadaan satgas covid-19 di internal pesantren, seluruh kegiatan yang melibatkan banyak orang harus mendapatkan persetujuan satgas covid-19. Selain itu, santri juga saling memberi pengaruh dalam upaya percepatan penanganan covid-19 melalui vaksinasi.

Menggandeng Sharla Martiza, influencer muda dari kabupaten Jombang. Santri-santri muda Tebuireng mendapat persetujuan satgas covid-19 untuk menggelar bincang podcast yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Tebuireng Official pada Kamis malam (12/8). Dengan dukungan Akatara Jurnalis Sahabat Anak dan Unicef, podcast mengusung tema “Santri Tebuireng Bincang Covid-19”.

Dalam podcast tersebut, sebagai remaja 17 tahun Sharla mengaku miris dengan tingginya kasus covid-19 dan banyak anak jadi korban.  Karenanya, ia mengajak seluruh kalangan remaja untuk turut mematuhi protokol kesehatan dan giat mendukung program vaksinasi.

“Sampai hari ini penularan Covid-19 masih tinggi. Apalagi varian baru semakin menular, makanya ayo semua kita harus patuh dan tetap menerapkan 3M,” kata Sharla.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sharla mengaku bersyukur karena dia berada di lingkungan keluarga yang mendukung vaksin dan prokes. Ia berharap, seluruh keluarga di Indonesia juga memberi dukungan kepada anak-anaknya melalui upaya-upaya yang dapat membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi.  Dari 3 M yang ada, Sharla menambahkan satu M, yakni menyetop ngopi-ngopi diluar.

“Menahan ngopi di luar, jadi ngopinya lewat vidio call (vc) aja dulu,” tutur Sharla sembari melempar tawa.

Farhan Ishaqi, salah satu santri Pesantren Tebuireng Jombang mengatakan, para santri di pesantren memang jumlahnya cukup banyak. Dengan penerapan prokes yang benar, ia yakin upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 di pesantren bisa dilakukan.

Ia menyayangkan masih ada pihak-pihak yang menolak vaksin. Sehingga ia menyarankan agar pemerintah lebih gencar lagi menyosialisasikan vaksinasi khususnya di lingkungan pesantren.

“Vaksin itu penting menurut saya, karena tidak ada cara lain lagi selain taat prokes dan vaksin. Jika kita bisa mencegah kerusakan yang lebih parah melalui vaksin ini, kenapa tidak. Saya juga sudah vaksin,”  tegasnya.

Disisi lain, Hawari Rifqi, Pengurus Tebuireng Jombang menambahkan, selama pandemi Covid-19 ini pengetatan dipesantren juga dilakukan. Ada aturan sesuai prokes yang diterapkan dengan ketat, seperti kunjungan keluarga santri maupun segala aktifitas yang dilakukan di dalam pesantren.

“Penerapan prokes dan 3M harus dilakukan. Selebaran dan semua tempelan untuk patuh prokes diterapkan di berbagai sudut pesantren,” katanya.

Hawari mengakui penerapan prokes dan penanggulangan covid-19 lebih kompleks, karena pesantren diisi oleh anak-anak hampir dari seluruh Indonesia, tidak hanya dari satu atau dua kabupaten, kota saja. Namun ia yakin, dukungan dari banyak pihak dapat membantu pesantren turut menjadi pelopor penanggulangan pandemi.

Berlangsung selama dua jam, bincang podcast oleh santri tersebut diakhiri dengan komitmen bersama oleh santri dan pengurus pesantren untuk serentak mendorong vaksinasi dan ketaatan terhadap protokol covid-19. Duet sholawat Sharla Martiza dan Farhan Ishaki menjadi penghujung podcast. (JSA/Rima)

SebelumnyaSepotong Kenangan Kiai Abu Bakar
BerikutnyaTak Mau Kalah, Begini Strategi Santri Hadapi Era Digitalisasi