• Judul Buku : Seni Mencintai
  • Penulis     : Erich Fromm
  • Penerjemah : Aquarina Kharisma Sari
  • Penerbit    : basa-basi 
  • Cetakan    : Pertama, Januari 2018
  • Tebal         : 192 halaman
  • ISBN          : 978-602-6651-69-3
  • Peresensi   : Dian Bagus*

Cinta senantiasa identik dengan perasaan menggebu dan irasional. Sebuah perasaan yang menimbulkan rasa nyaman dan bahagia. Tapi cinta tidak sesederhana itu.

Cinta lebih kompleks dengan segala teori dan penerapannya. Karena cinta membutuhkan pengetahuan untuk bertahan lama. Perasaan sementara yang sebagian besar orang yakini sebagai cinta hanya akan bertahan sampai saat kita mencapai titik kebosanan.

Kecenderungan anggapan bahwa cinta tidak perlu dipelajari, atau cinta hanya mengikuti alur perasaan kita saat itu saja dipengaruhi oleh beberapa persepsi.

Pertama, pemahaman bahwa dalam hal cinta yang terpenting adalah dicintai bukan mencintai. Untuk dicintai kita akan melakukan hal-hal yang akan membuat kita menjadi sosok yang pantas untuk dicintai, seperti menjadi sukses bagi laki-laki dan berpenampilan menarik bagi kaum perempuan.

Kedua, anggapan bahwa cinta berkaitan dengan persoalan obyek bukan kemampuan. Anggapan tersebut muncul karena masyarakat modern saat ini mendambakan cinta romantis yang disuguhkan dalam film. Sebuah kisah cinta yang dapat diibaratkan dengan pembelian barang di toko, yaitu barang yang paling menarik perhatian dan bagus berdasarkan penilaian pribadi kita yang akan kita beli.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, kekeliruan anggapan pada awal jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta adalah mereka yang awalnya saling asing menjadi akrab, cinta yang hanya dipersepsikan dengan rasa asing, hanya akan bertahan diawal, yaitu ketika rasa itu masih menggebu, sehingga ketika rasa kecewa, bosan dan perasaan negatif lain menyapa, maka cinta dapat dengan mudah ditinggalkan.

Bagi manusia, yang pasti hanya kelahiran dan kematian, hal ini membuatnya selalu dilingkupi rasa ingin menghindari keterasingan atau terpisah dari yang lain. Rasa diabaikan dan terpisah dari dunia luar membuat manusia mencoba untuk mencapai kesatuan atau kebersamaan dengan caranya masing-masing.

Bagi mereka yang berada dalam kondisi orgiastik akan mencari pelarian dari keterpisahannya. Kenapa disebut pelarian? Karena dalam kondisi ini mereka terjerumus dalam keadaan sementara.

Contoh kondisi ini, yaitu penggnaan obat-obatan terlarang, kesatuan membuat kita ingin mencapai kesetaraan. Namun, kesetaraan di zaman sekarang lebih kepada kesamaan dalam berbagai bidang, mulai dari profesi, hobi, dan perasaan. Sehingga kesetaraan bukan merujuk kepada kesatuan, melainkan lebih kepada kesamaan.

Penyelarasan merupakan suatu tindakan untuk menghindari kegelisahan yang terasingkan, sehingga individu akan mencoba untuk menyamakan dirinya dengan lingkungan sekitarnya, agar tercapai kesamaan.

Segala pencapaian kesatuan tersebut hanya bersifat sementara, karena penyatuan dengan orang lain dapat dicapai dengan cinta. Cinta bukanlah hal pasif, melainkan aktifitas aktif, di mana yang paling umum dilakukan yaitu memberi.

Memberi bukan berarti memeberikan segalanya untuk kehilangan, kita memberi sebagai bentuk kasih sayang atau reaksi aktif dari cinta. Sebagaimana cinta yang memiliki elemen dasar yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.

Dari elemen dasar tersebut dapat memberikan gambaran bahwa cinta bukan hanya sekadar dorongan semata, melainkan sama dengan seni yang lain yang membutuhkan pengetahuan untuk dimengerti.

Karena tanpa elemen tersebut kita sebagai individu tidak akan dapat merasakan cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta dewasa yang dicintai karena mencintai dengan penghargaan, pengertian, dan pengetahuan tentangnya.

Saat ini, cinta sangat identik dengan hubungan lawan jenis, namun cinta tidak hanya sebatas itu. Cinta merupakan karakter atau tindakan yang membawa kita bergaul dengan lingkungan secara keseluruhan.

Cinta memiliki perbedaan sesuai obyek yang dicintai. Jika kita mencintai karena rasa saling keterkaitan sebagai umat manusia yang tinggal di dunia ini, maka kita telah merasakan cinta persaudaraan.

Sebuah cinta yang tidak memerlukan syarat untuk mencintai adalah cinta ibu, kenapa? ibu akan mencintai anaknya karena dialah yang melahirkannya, tanpa adanya syarat yang harus dipenuhi sang anak, ibu akan tetap mencintainya.

Namun berbeda dengan sosok ayah yang memiliki beberapa syarat agar cintanya semakin dalam untuk sang anak. Itulah mengapa cinta ibu adalah cinta dengan kelembutan perasaan. Dan cinta ayah yang akan membangun karakter dan keteguhan dengan berbagai ekspetasinya untuk sang anak di masa depan.

Sedangkan cinta dengan orang lain atau pasangan untuk menghindari kesendirian di dunia disebut cinta erotis. Cinta ini mendeklarasikan bahwa kita tidak sendiri lagi, batasan pemisah telah hilang.

Namun bukan berarti cinta kita hanya terpaut dengan orang tersebut karena cinta erotis meniadakan cinta persaudaraan dn cinta lainnya.

Obyek cinta yang lain yang tidak dapat ditinggalkan adalah cinta diri. Banyak yang beranggapan bahwa mencitai diri sendiri adalah bentuk keegoisan. Egois karena mementingkan diri sendiri.

Mencitai diri sendiri tidak sesederhana kalimat tersebut. Cinta keibuan akan mulai perlahan menuntun kita pada kemandirian, fase ketika kita ingin mandiri, disitulah cinta diri diperlukan. Kita mencintai ibu karena kita senantiasa dicintainnya.

Sehingga untuk dapat meleburkan cinta dengan yang lain kita harus menghargai diri kita sendiri dengan cinta kita. Memberikan cinta tanpa memikirkan diri sendiri, justru akan menjadi egois terhadap diri.

*Mahasantri Ma’had Al-Jami’ah Tebuireng Jombang

[fb_plugin comments width=”100%”]

SebelumnyaBikin Warga Miru Bahagia, Mahasiswa Unhasy Lakukan Ini
BerikutnyaSebelum Berkeluarga, Pahami 4 Indikator “Sakinah” Menurut KH. Hasyim Asy’ari