Dr. KH. Mif Rohim, mantan Ketua Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari 2017-2019, Tebuireng. (Foto: Kopi Ireng 2018).

Oleh: Ahmad Faozan*

Tebuireng.online– Tokoh intelektual muda Tebuireng, Dr. KH. Mif Syarkun baru saja meninggalkan kita semua. Beliau bukanlah seorang yang asing di lingkungan Pesantren Tebuireng, khususnya. Sejak Pusat Kajian Hasyim Asy’ari resmi didirikan oleh Alm. KH. Salahuddin Wahid, pada Ahad 5 Februari 2017 secara resmi diresmikan. Acara peresmian ditandai dengan orasi ilmiah dan diskusi di Aula Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng.

Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Agama era Presiden Gus Dur, Prof. KH. Tolchah Hasan MA, Guru besar UIN Jakarata, Prof. Dr. H. Masykuri Abdillah, MA. (Beliau juga merupakan alumni Pesantren Tebuireng) dan Prof. Dr. H. Haris Supratno (kini menjadi Rektor Unhasy menggantikan Gus Sholah).

Posisi pak Miftah sangat strategis dan amat menentukan. Beliau oleh Gus Sholah ditempatkan sebagai ketua Umum. Setelah mendapatkan amanah itu, beliau pun langsung memasukan banyak santri muda untuk bergerak bersama menjalankan program Pusat Kajian Hasyim Asy’ari.

Banyak tokoh ternama dan daerah dijadikan tempat untuk acara bersama. Mengenalkan pemikiran-pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari. Lembaga ini juga menjadi ajang untuk melakukan aktualisasi gagasan Pendiri Tebuireng dan NU dalam banyak tema.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sosok Dr. Mif Syarkun sendiri merupakan kiai muda kelahiran 11 Juni 1965. Beliau putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan N. Sarkun dan Askoning.

Masa kecil Kiai Miftah dihabiskan di desa Nelayan Kecil, Paloh, Paciran, Lamongan, Indonesia. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah Islamiyyah Ibtidayiyah Paloh, Paciran, Lamongan(1980).

Selanjutnya melanjutkan pendidikan di Madrasah Tarbiyatul Wathon, Campurjo, Panceng, Gresik (1983). Setelah tamat melanjutkan di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng 1986 lanjut menghafalkan Al Qur’an 30 Juz di Madrasatul Qur’an Tebuireng (1988).

Gelar sarjananya diraih di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang (1994). Melanjutkan studinya di Program Studi S2 Jurusan Syariah di National University Of Malaysia (2001). Kemudian melanjutkan S3, beliau mengambil  Studi Post Doktoral Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV) Universitas Sains Malaysia, (2009).

Tahun belakangan ini beliau juga sedang mempersiapkan diri untuk meraih gelar Profesor. Pak Miftah juga seorang hafidz. Pada tahun 1989 mengikuti lomba Musabaqah Hifdzi Al Qur’an Wa Tafsir Al Qur’an di Provinsi Jawa Timur dan meraih peringkat dua. Berada diposisi itu nampaknya belum membuatnya puas. 

Selanjutnya pada Musabaqah Hifdzi Al Qur’an Wa Tafsir Al Qur’an di Palembang tahun 1983 menduduki peringkat kedua. Barulah saat ajang yang sama di Provinsi Batam, Kepulauan Riau tahun 1996 beliau berhasil naik di peringkat pertama.

Kiai Miftah secara keilmuan menonjol dibidang Fikih dan Ushul Fikih. Beliau juga sangat gandrung dengan sosok Imam Hanafi. Di Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari beliau mengampu mata kuliah Filsafat Hukum Keluarga Islam dan Ushul Fiqh.

Selain sibuk mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah. Meski demikian, beliau sebenarnya juga menguasai ilmu tafsir dan tasawuf. Beliau juga mengajar kitab Ihya ulumuddin dikalangan para mahasiswanya.

Menurut Kiai Miftah, tasawuf bukanlah satu ilmu yang bisa dipelajari melalui buku atau pembacaan seperti kebanyakan ilmu, tetapi ia lebih dapat didalami dan dialami melalui pengalaman rasa. Penghayatan rasa hanya dapat didapatkan melalui latihan pendidikan kerohanian secara sungguh-sungguh tersusun dan berkelanjutan.

Jiwa manusia menjadi bersih dan dengan kemurnian hati inilah dapat menyingkapkan hijab antara dirinya dengan Tuhan. Salah satu kata mutiara Imam Al Ghazali yang beliau jadikan pegangan adalah,..

“Manusia seluruhnya rusak kecuali yang alim. Orang yang alim akan rusak kecuali yang beramal dengan ilmunya. Orang yang beramal akan rusak kecuali yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas itu di atas bahaya besar.”

Kiai Miftah dengan segala kelebihan dan kekurangannya memang dikelilingi banyak anak muda. Tak sedikit yang mengidolakannya. Ide dan gagasannya melimpah. Bacaan beliau sangat luas. Selain rajin membaca juga rajin menulis. Serta berdiskusi dengan banyak tokoh.

Kiai Miftah sangat menyukai anak-anak muda yang kritis, dan mau diajak maju. Bahkan, tak jarang mengajak anak muda untuk menemaninya makan dan bersilaturahim dengan para tokoh terkemuka.

Kini, sungguh amat berat bagi Pusat Kajian Hasyim Asy’ari khususnya setelah ditinggalkan oleh pendirinya KH. Salahuddin Wahid pada 2020. Setahun kemudian ditinggalkan oleh pembinanya, Dr. KH. Mif Syarkun.

Semoga, tim yang tersisa mampu meneruskan perjuangan beliau. Memang tidak mudah untuk melanjutkan perjuangan para beliau namun semua bukan mustahil untuk dikerjakan.

Amat sangat perlu kita maklumi bersama selama ini keberadaan pusat Kajian Hasyim Asy’ari Tebuireng masih pasif mengingat kondisi situasi dan kondisi sangat belum memungkinkan untuk bergerak kembali.

Bencana wabah covid 19 benar-benar membuat kita untuk bersabar, bermuhasabah dan lainnya. Semoga, ide dan pemikiran Gus Sholah dan Kiai Miftah di Pusat Kajian Hasyim Asy’ari mampu membawa spirit untuk kebaikan Tebuireng.

Selamat Jalan, Pak Ketua. Ide dan pemikiran panjenengan yang terbukukan dalam buku Pancasila dan Islam: Perspektif NU dan Ekonomi Sufi Dalam Pemikiran Al Ghazali sudah sama-sama kita wujudkan.

Hanya saja mimpi bersama untuk mengenalkan lebih luas belum terwujud. Situasi dan kondisi memang belum memungkinkan. Tapi, saya menyakini bahwa ide dan pemikiran panjenengan sungguh amat bermanfaat bagi banyak orang.

*Pustaka Tebuireng.

SebelumnyaPersepsi tentang Kepemimpinan Perempuan
BerikutnyaJangan Ragu, Rezeki Bisa Datang Tak Disangka-sangka