Oleh: Qona’atun Putri Rahayu*

Drs. KH. Umar Faruq NA merupakan salah satu cicit dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau putra ketiga dari pasangan KH. Noer Aziz dan Nyai. Hj. Djamilah Ma’shum. Kyai Umar menyelesaikan pendidikan dari pendidikan dasar hingga menengah di Malang. Setelah itu beliau lanjut ke Perguruan Tinggi di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Surabaya. Karena prestasinya, sebelum lulus beliau sudah mengajar di IKIP Surabaya hingga diangkat menjadi PNS di almameternya.

Pada tahun 1977, beliau menikah dengan Nyai Hj. Machsunah Faruq, dan dikaruniai 3 seorang anak perempuan: Rika Iffati Farihah, ItaIftitahus Sa’diyah, dan Ema Rahmawati. Beliau mulai mengajar di Madrasah Seblak tahun 1972. Selain menjadi seorang PNS, beliau juga menjadi Kepala Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah tahun 1980-2003.

Kyai Umar sangat aktif dalam dunia organisasi. Pernah menjabat sebagai bendahara IPNU Malang tahun 1962-1963. Sekretaris PMII Cabang Surabaya 1966-1979. Sebagai Sie. Rohani Dema IKIP Surabaya tahun 1970-1975.

Di bawah kepemimpinan beliau, pondok dan madrasah berkembang pesat, beliau mendirikan rumah tamu dan Pondok Putra. Beliau juga sangat disegani semua orang karena beliau bukan hanya sekadar seorang guru, melainkan mendidik, membimbing, memotivasi, dan menginspirasi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beberapa motivasi yang sering beliau lontarkan kepada santrinya, peserta didiknya: 1) Dalam dunia pendidikan yang paling utama menurut saya (Kyai Umar Faruq) adalah nomor satu guru, nomor dua guru, nomor tiga guru. 2) Ilmu agama itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah berjiwa agama. 3) Memegang kebenaran ibarat memegang bara, bila dilepas akan mati, bila dipegang terus harus kuat terhadap panasnya. 4) Saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, saya kerjakan saya mengerti. 5) Murid yang bertanya 5 menit bodohnya, tapi murid yang tidak bertanya akan bodoh selamanya. 6) Coba lagi, coba lagi, coba lagi, dan masih banyak yang lain.


Disarikan dari buku panduan santri pondok khoiriyah hasyim seblak


*Mahasiswi Universitas Hasyim Asy’ari

SebelumnyaIkapete Gresik Rajut Kembali Hubungan Sosial
BerikutnyaKisah Nyata, 30 Tahun Sakit Masih Tetap Mengajar