Oleh: Alfahrizal*

Mulai dari kecil hingga dewasa kita diajarkan bahwa jumlah hari itu ada tujuh; Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, terakhir Sabtu. Dahulu, semasa duduk di bangku pendidikan dasar, nama-nama hari tersebut acap kali dinyanyikan dalam bahasa-bahasa yang berbeda dan dengan nada-irama yang asik dan menyenang. Tidak lain bertujuan untuk mudah dihafal dan enak didengar.

Namun, pernahkah terpikir oleh kita semua siapa yang menentukan hari tersebut? Kenapa hitungan hari itu ada tujuh, kenapa tidak delapan saja agar adil empat-empat atau tiga saja agar mudah diingat, atau berapapun itu? Lalu kenapa nama-nama hari itu begitu, apa alasannya? Apakah ini murni wahyu dari Tuhan atau buah pengamatan nenek moyang kita cerdas dan pintar? Beberapa poin tersebut yang akan diurai dalam tulisan ini.

Sebelum berbicara terkait sejarah penentuan jumlah dan nama-nama hari, perlu dipahami terlebih dahulu teori tentang hakikat manusia berikut. Mengutip gubahan Nurcholis Madjid (Cak nur) dalam mahakaryanya yang berjudul “Islam, Doktrin, dan Peradaban”, bahwa semua manusia secara naluriah mempunyai kepercayaan kepada suatu wujud yang Maha Tinggi, dan mereka selalu mengembangkan suatu cara tertentu untuk memuja dan menyembah-Nya. Karena manusia pada dasarnya mempunyai naluri untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Karena latar belakang masing-masing yang berbeda dari satu tempat ke tempat, dan dari satu masa ke masa, maka agama menjadi beraneka ragam dan berbeda-beda meskipun titik tolaknya sama, yaitu naluri untuk percaya kepada wujud Mahatinggi. Keanekaragaman agama itu menjadi lebih nyata akibat usaha manusia sendiri untuk membuat agamanya lebih berfungsi dalam kehidupan sehari-hari dengan mengaitkannya kepada gejala-gejala secara nyata ada di sekitarnya. Maka tumbuhlah legenda-legenda dan mitos-mitos, yang kesemuanya itu merupakan pranata penunjang kepercayaan alami manusia kepada Tuhan dan fungsionalisasi kepercayaan itu dalam masyarakat.

Sayangnya, mitos-mitos yang diciptakan nenek moyang kita dahulu manusia dahulu tidak menuju kenyataan yang benar. Salah satu mitos yang paling terkenal dan hingga hari ini masih kita saksikan fosil-fosilnya adalah mitos tentang bumi adalah sebuah benda keras berbentuk bola yang bergerak, yang terletak di tengah semacam kotak Cina dan terdiri dari tujuh bola tembus pandang yang berputar. Masing-masing batas luar bola itu terdapat Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Yupiter, Venus, dan Saturnus.

Benda-benda langit ini telah diketahui oleh para pendeta kawasan Mesopotamia kuno sekitar 5000 SM, dari ziggurat atau monumen mereka selalu mengawasi langit untuk mengetahui perhitungan waktu dan musim. Benda-benda tersebut dirasa memiliki kekuatan dan berpengaruh terhadap kehidupan mereka di bumi, maka lambat laun, mulailah muncul praktik menyembah benda-benda langit tersebut. Dari sini pula muncul konsep hari yang tujuh, sebagai akibat dari menyembah satu “tuhan” satu hari. Karena itu, nama-nama hari yang tujuh terkaitkan dengan nama-nama “tuhan” atau “dewa” yang ada di langit tersebut.

Hal ini terbukti dari penamaan hari dalam bahasa Eropa, mereka menamai sebagian besar hari menurut nama dewa-dewa. Seperti hari Matahari menjadi Sunnandaeg atau Sunday (Minggu), hari Bulan dinamakan Monandaeg, atau Monday (Senin), hari Mars menjadi hari Tiw, yaitu dewa perang mereka. Ini menjadi Tiwesdaeg, atau Tuesday (Selasa). Nama Dewa Woden diberikan menjadi Wednesday (Rabu). Hari Yupiter, dewa guntur, menjadi hari guntur Dewa Thor, dan ini menjadi Thursday (Kamis). Hari berikutnya dinamakan Frigg, istri Dewa Odin, dan oleh karena itu kita mempunyai Friday (Jumat). Hari Saturnus menjadi Saeterbsdaeg, terjemahan dari bahasa Romawi, dan kemudian menjadi Saturday (Sabtu).

Karena, dari semua benda-benda langit itu matahari adalah benda yang paling mengesankan, maka timbul pula kepercayaan bahwa matahari merupakan dewa tertinggi dengan bermacam-macam sebutan, Ra, Zeus, Indra, dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam bahasa Spanyol dan Portugis, hari pertama, yaitu “Hari Matahari”, disebut “Hari Tuhan”, Domingo, yang memberi nama kita nama Hari Minggu.

Maka hari yang tujuh adalah bekas praktik kekafiran, syirik, atau paganisme. Demikian yang diungkapkan oleh Cak Nur yang mengutip ilmuawan ahli mitologi terkenal, Joseph Campbell, dalam karyanya yang berjudul Myths to Live By.

Jikalau itu merupakan praktik kemusyrikan atau kekafiran, lantas, mengapa kita umat Islam hingga saat ini masih menggunakan perhitungan hari yang tujuh? Bukankah itu merupakan mendukung dalam hak kesesatan, I’anah ala Makshiat?

Masih dengan karya yang sama Cak Nur kembali menerangkan, bahwa penggunaan hari yang tujuh bekas kekafiran itu oleh bangsa-bangsa seluruh dunia, termasuk kalangan umat Islam, tidak lagi mengandung persoalan dan sepenuhnya dapat diterima atau dibenarkan, karena konsep hari yang tujuh itu telah terlebih dahulu mengalami proses demitologisasi. Artinya, nilai-nilai mitologis pada konsep hari yang tujuh itu telah dibuang, dan diganti dengan nilai kepraktisan sebagai penunjuk waktu semata, sekalipun nama-nama hari di sana masih menunjukkan sisa praktik pemujaan benda-benda langit.

Dalam agama Islam, proses demitologi ini dilakukan dengan amat tegas dan jelas. Nama-nama hari yang tujuh tidak lagi dipertahankan sebagai nama-nama dewa, melainkan diganti dengan angka; hari ke satu, dua, tiga, dan seterusnya kecuali hari ke enam, Jum’at artinya berkumpul. Karena pada hari ini umat muslim berkumpul di masjid untuk melaksanakan salat tengah hari secara bersama.

Perhatikan nama-nama hari dalam bahasa Arab; Yaum Al-ahad (hari kesatu), al-Itsnain (kedua), ats-Tsulatsa (ketiga), al-Arbi’a (keempat), al-Khomis (kelima), al-Jumu’ah, as-Sabt (ketujuh). Kemudian nama-nama hari dalam bahasa Arab tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia, jadilah seperti sekarang ini.

Itulah sejarah panjang penentuan jumlah dan nama-nama hari. Dan ternyata, “hari” bukan sekadar 24 jam yang berulang-berulang selama satu pekan. Namun, lebih dari itu “hari” mempunyai cerita menarik yang panjang dan rumit. Berawal dari mitologi kuno yang dipraktikan dengan melakukan penyembahan terhadap benda-benda langit, berakhir menjadi sarana penentu waktu saja atau demitologi. Namun, Islam sangat tegas dan serius dalam menghilangkan unsur kepercayaan terhadap mitos yang tidak benar tersebut, dengan merubah total nama-nama hari menjadi hitungan semata. Inilah yang kemudian dipakai oleh bangsa Indonsia karena mayoritas kita adalah muslim.

Poin penting yang ingin penulis tarik dari sejarah panjang tersebut, bahwa agama Islam merupakan agama yang menghancurkan mitos itu sendiri, karena jelas dalam Islam tidak ada satu bentuk kepercayaan kepada sesuatu yang tidak benar, bahwa hanya Allah Swt sajalah, Tuhan yang Mahabenar, dan apa yang Dia sampaikan kepada para Rasul-Nya merupakan suatu kebenaran. Wallahu’alam.  

Dikutip dari berbagai sumber.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaPentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan
BerikutnyaDampak Hasud Seperti Api Membakar Kayu