img_8778pak-tain

Oleh : Dr. KH. A. Musta’in Syafi’ie, M. Ag

اللهُ اكبَرُ ٩× لااِلهَ الااللهُ وَاللهُ اكبَرُاَللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد

إن الْحَمْدَ لِلهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُ.

اللهُ اكبَرُ لااِلهَ الااللهُ وَاللهُ اكبَرُ اَللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد . فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ . اِتَّقُوْ اللهَ ,اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُم فقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. واعلموا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ . يَوْمَ إِبْتَلَى اللهُ نَبِيَّهُ إِبْرَاهِيْمَ بِذَبْحِ وَلَدِهِ إِسْمَاعِيْلَ حَيْثُ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ اِفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.اللهُ اكبَرُ لااِلهَ الاّاللهُ وَاللهُ اكبَرُ اَللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Spesial shalat Id yang diperbanyak takbir,begitu pula dalam khotbah. Seolah-olah Tuhan mengumandangkan perang, dalam perang takbir dikumandangkan berulang-ulang.Untuk shalat rakaat pertama takbir ‘tujuh’ kali dan kedua ‘lima’ kali meskipun itu hukumnya sunah.Ditambah dengan khotbah, pertama ‘sembilan’ dan kedua ‘tujuh’.Apakah ini perang? Jawabannya iya, perang melawan nafsu sendiri akan lebih berat.

Siklus ketakwaan terkait dengan Id, sebulan penuh Ramadan kita berpuasa lalu Idul Fitri.Karena hari itu para setan sudah mempersiapkan segala kekuatannya untuk menggoda kembali umat manusia setelah bersuci-suci pada bulan Ramadan.Maka Tuhan membekali umat Islam menyikapi tantangan setan itu dengan takbir bertubi-tubi.

Kadzalik, begitu pula pada Id ini dimana tokoh sentral Ibrahim dan Ismail as.Bahkan takbir diperbanyak sejak Subuh dari yaumi Arafah sampai Asar hari Tasyrik.Apa sebenarnya yang terjadi? Berselang dua bulan, ada Id lagi dan kita bertakbir lagi karena setelah itu, berbulan-bulan kita akan bertarung dengan nafsu kembali.

Untuk itu dicontohkan ada nafsu tertinggi.Pertama, selain nafsu diri sendiri adalah nafsu yang terkait dengan budaya, di mana waktu itu budaya sangat menyimpang.Kabilah Jurhum yang terbiasa mengurbankan anak manusia sebagai persembahan dan menurut Tuhan, itu terlalu mahal sehingga perlu dikoreksi.Tidak pantas anak manusia dikurbankan untuk Tuhan yang menciptakan.

Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW. Abdul Mutholib pernah bernazar, jika anak saya nanti yang kesepuluh laki-laki lagi, akan saya kurbankan untuk Ka’bah. Ternyata lahir Abdullah, ayah Nabiyullah Muhammad.

Nazar harus dilaksanakan, tetapi para pemuka Arab, pemuka adat, dan pemuka agama merasa keberatan. Bisa dibayangkan jika penguasa Ka’bah mengurbankan anaknya sendiri, maka tradisi itu akan terus-menerus dan menjadi catatan sejarah. Kemudian tradisi itu dievaluasi, adakah jalan keluar?Mereka berembuk dan harus mencari pakar, ahli agama tertinggi dan diketemukan di dekat daerah Yastrib atau Madinah.

Apa kata rahib ini, “begini ajalah, undi saja! Tulis nama Abdullah kemudian tulis berapa harga ekor unta dari Abdullah lalu diundi.” Ditulislah nama satu kupon itu, glintiran itu nama Abdullah dan satu kolom lagi sepuluh ekor unta. Dikopyok, ternyata masih keluar Abdullah.Maka Abdullah harus disembelih.Kemudian taruhan dinaikkan persepuluh, dua puluh.Lalu dikopyok lagi, ternyata masih keluar Abdullah.

Dinaikkan harga, lima puluh,  tujuh puluh, sembilan puluh, sampai seratus. Begitu dihargai seratus unta dan dikopyok, barulah keluar seratus ekor unta. Dan itu dianggap sebuah keputusan Tuhan, Abdullah sang ayah Nabiyullah Muhammad tidak jadi dikurbankan melainkan harus ditebus dengan seratus ekor unta yang disembelih secara bersamaan. Dan diumumkan dengan sangat memukau, la yumna’u kholqun an ya’kul, jangan sampai ada makhluk yang tidak makan dan jangan dilarang apapun bentuk makhluk untuk berpesta hari ini.

Dan itu kemudian  menjadi persoalan fikih. Apakah daging-daging kurban yang ada di sekitar Makkah boleh dikemas?diberikan ke luar negeri, dan lain-lain? Bagi ulama yang berpegang pada maslahah, boleh, asal penyembelihannya di lakukan di tempat tersebut, juga hadiyyan balighol Ka’bah.Tapi bagi ulama sufistik, tidak boleh.Karena hari kurban adalah hari pesta.Tuhan menjamu semua makhluk-Nya.

Tapi Tuhan ingin menyelenggarakan pesta besar di mana yang diundang bukan hanya makhluk, ada serigala-serigala yang perlu berpesta, ada semut-semut yang berpesta, tapi banyak juga jin-jin yang berpesta.Bagaimana kalau jatah itu dikurangi?maka makhluk selain manusia akan protes karena itu adalah haknya yang dilindungi oleh Al Quran hadiyyan balighol ka’bah. Tapi para ulama mengambil yang pertama, yang maslahah yaitu boleh.

Untuk itu, komunikasi ini akan menjadi hebat. Allah memberi petunjuk, bagaimana Nabi Ibrahim as yang tidak radikal dan tidak memutus dengan keputusannya sendiri ketika diperintah meyembelih anaknya.Di sini ada tiga, satu Ibrahim as, kedua, anaknya Ismail, ketiga bidzibhin adzim yaitu kambing.Dua kali Al Quran mensifati Ismail sebagai ghulam yang alim, pintar dan halim(sabar).

Itu artinya kalian para santri sebagai generasi muda jadilah anak yang alim, halim, dan cerdas.Menjadi cerdas itu dituntut oleh Tuhan. Bukti Ismail sebagai anak cerdas, dia bisa diajak dialog. Tidak sekadar diajak dialog dengan jawaban yang menggunakan intelektual saja, dengan ilmunya saja, dengan alimnya saja tapi Ismail menjawab dengan ilmunya, kedewasaannya dan dengan hati nuraninya meskipun disembelih tetap mengatakan silahkan.

If’al ma tu’mar satajiduni insyaallah min asshobirin. Al Quran di sini ada dua progam “insyaallah”, yang satu diucapkan oleh Ismail kecil ketika mau disembelih mengatakan insyaallahu minas shobirin. Dan kedua, nabi Musa as.ketika berguru kepada Nabiyullah Khadir “hai Musa, kamu nggak akan bisa lulus mengikuti menimba ilmu dengan saya”. Nabi Musa mengatakan insyaallah tapi bentuknya agak egois.Jawabannya insyaallahu shobiro, bukan min asshobirin.

Perbedaannya kalau min asshobirin ada ketawadukan.Mudah-mudahan kami termasuk golongan orang yang bersabar.Sedangkan Musa dengan pedenya insyaallahu shobiro menunjukkan dirinya mufrod, saya sabar. Ada arogansi kecil di hati Musa, pede sekali akan lulus menjadi santrinya Nabiyullah Khadir. Tapi apa yang terjadi, tiga kali nabi Musa diuji dan tiga kali gagal, tiga kali tidak lulus. Tidak sama dengan Ismail walaupun kecil tapi dia bicara dengan ilmunya, ketawadukannya. Satajiduni insyaallahu min asshobirin, kepasrahan total terhadap Tuhan sangat tinggi dan Tuhan menurunkan atraksi-Nya, menunjukkan keajaiban-Nya yang sangat demonstrasi tak pernah terbayang siapapun. Wa fadhoinahu bidzibhin adzim, ada kesuksesan yang luar biasa. Ismail selamat dan tujuannya tercapai.Untuk itu di sini, saat ini dibutuhkan Ismail-Ismail yang patuh, Ismail yang tidak terpengaruh lingkungan-lingkungan yang najis, oleh lingkungan-lingkungan yang brutal.

Ketiga, yaitu komunikasi dengan hewan. Dan hewan itu tunduk begitu saja tanpa dipegang, tanpa apapun, menyerahkan diri untuk disembelih wa fadhoinahu bidzibhin adzim. Apa rahasia di dzibhin adzim ini? Semua hewan-hewan kurban itu mengerti dirinya akan dijadikan media untuk berdekat-dekat dengan Tuhan. Merasa menjadi suatu yang dihormati, penghormatan tersendiri bagi hewan yang dijadikan kurban.Karena dia bisa mendekat-dekat kepada Allah.

Karena itu, aslinya semua hewan yang akan disembelih untuk kurban akan tunduk. Sudah terbukti di mana-mana, cukup diajak komunikasi, bacakan fatihah lalu dielus seperti yang dilakukan kiai-kiai terdahulu.

Asal datang dengan baik-baik, hewan itu akan mengerti. Karena sejak dulu diberi inspirasi oleh Tuhan ‘you saya pilih untuk berdekat-dekat Kami’. ‘enggeh-enggeh’.

Untuk itu yang diambil dari koreksi-koreksi tradisi ini adalah apakah kita ini bisa mengoreksi, meninggalkan tradisi-tradisi kita yang buruk. Mohon maaf, di kalangan pemerhati Islam kenapa syariat Islam itu memilih budaya Arab, lokasi Arab yang dijadikan sentral pewahyuan.

Salah satu tinjauan psikologis, sosial juga, orang Arab itu menggunakan pemikiran satu kata. Mudah, praktis.Untuk itu konsep ketuhanan cuma satu.Allah ahad, titik.Tidak perlu bias, tidak perlu filosofis.Meskipun zaman jahiliyah itu kentalnya bukan main sampai wajadna ‘aliha aba ana ini sudah tradisi-tradisi, budaya-budaya.Begitu masuk Islam, mengerti Islam jauh lebih baik.Semua tradisi-tradisi itu ditinggalkan begitu saja dan tidak pernah dipetik atau disapa sedikitpun.

Budaya apapun, budaya qauniyah, kesenian, apalagi budaya sogok-sogok dan lain-lain. Seluruhnya ditinggalkan total seperti falsafah pasir yang tidak mengumpal. Kalau Islam turun di Arab dengan falsafah pasir maka cepat tersebar.

Nah, bagaimana muslim memandang budaya-budaya itu. Digariskan oleh Al Quran syara’a lakum ma wassho bi ibrahim, Ibrahimlah contoh dalam bersyariat. Budaya koteka di suku Irian karena itu menyalahi syariah, wajib ditinggalkan. Tidak boleh di sana, tidak boleh ada kearifan lokal dengan mengorbankan syariah. Saya ulangi lagi, tidak boleh ada kearifan lokal, budaya-budaya yang sampai menodai syariah.

Makanya di Al Quran menunjukkan syara’a lakum min addini ma wassho bi ibrahim dan seterusnya.Contoh itu Ibrahim.Tarian, jogetan, seni, dan lain-lain silahkan.Boleh.Pakaian Bali jika itu melanggar, maka harus diubah menjadi pakaian muslimah.Kemben-kemben yang di keraton Solo, setengah terbuka dadanya dan di Jogja.Tidak boleh dilestarikan, haram.Harus ditinggalkan dan diubah dengan konsep ma wassho bihi ibrahim. Tentu dengan cara yang perlahan dan baik.

Saya tidak tahu apakah muslim Nusantara itu menghandle semua budaya dan menggelinding begitu saja dan saya tidak tahu. Tapi kami adalah muslim hanif, hanifan muslima yang berpegang pada prinsip-prinsip syariat. Semua harus diubah menjadi hanif condong kepada Allah seperti Ibrahim. Di mana orang sekarang ini susah, muslim ya muslim tapi kurang hanif, kurang 100% bersujud kepada Tuhan, kurang 100% menjadikan Tuhan sebagai referensi.

Dan terakhir, semua ini dilakukan di dekat Ka’bah. Ibrahim, Makkah sebagai Ummul Qura’ pusat kotalitundiro ummal quro wa man haulaha. Sedangkan kota-kota yang lain adalah yang mengitari. Itu artinya dunia sekarang sudah mulai menggugat kenapa standar waktu internasional menggunakan Greenwitch di Inggris. Dan sudah tidak cocok lagi.Yang cocok menggunakan standar waktu harus menggunakan Makkah karena menjadi pusat Ummul Quro.

Dibuktikan bahwa seluruh pengaruh radikal gravitasi itu menjadi nol ketika ada di Ka’bah.Sehingga orang yang tawaf itu tidak terasa payah, mengalir begitu saja karena bebas pengaruh dari radikal gravitasi.Titik itu sudah di situ, Makkah sebagai Ummul Quro. Mudah-mudahan kawan kami yang ada di pesantren ini kelak jadi ilmuan besar yang bermanfaat dan bisa mengubah dunia dengan wajah-wajah Al Quran, wajah agama Islam seperti yang disponsori oleh Nabi Ibrahim as.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم. وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم. فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

SebelumnyaCak Jahlun Kekenyangan
BerikutnyaUniknya Tradisi Idul Adha di Maroko