
Tarikan nafasku kini ditentukan oleh ketukan keyboard. Notifikasi atasan terus muncul hanya untuk mengatur degup jantungku. Mengambang di layar dan menusuk isi pikiranku. Jauh, sangat jauh dari kehidupanku dulu. Kini tanganku terus menari di antara klip-klip video, memotong serta menyambungnya, memastikan iklan itu tampak meyakinkan, meskipun aku sendiri tak tahu soal kebenarannya.
Di antara kubikel-kubikel berjejer dan suara riuh penghuni kantor, aku terkadang masih merasa sendiri. Entah kapan aku bisa sedikit ikut tertawa dengan candaan rekan yang tak jarang terdengar vulgar. Dan tiap kali komputer atau jaringan troubel, aku bisa mengumpat tanpa canggung seperti mereka. Ada satu hal yang menahan itu semua. Bagaimanapun mereka tahu aku santri dan akupun harus menahan diri agar nama itu tidak kotor olehku.
Malam sepulang kerja, di kamar kost yang sempit, hanya lampu yang nyala temaram— menyorot tubuh letih terbaring di kasur lantai kusam. Di pojok ruangan—di atas meja kecil, aku menatap mushaf yang lama tak kusentuh, tergeletak seperti menatapku balik. Mataku beralih memandang ponsel, menunggu sesuatau yang entah apa.
Pintu kamar kubuka lebar, membiarkan udara malam menerobos masuk, tapi yang terasa hanyalah kekosongan di dada. Aku melangkah ke pintu, menatap langit kota tanpa bintang. Di luar selalu terdengar suara kendaraan lalu lalang. Ingatanku turut melanglang pada malam-malam di pesantren—suara nadhom bersahutan, goresan pena saat ngaji bandongan dan tawa santri yang tak pernah pudar.
Entah keputusanku keluar dari pesantren sudah tepat untuk mengamalkan, atau justru aku bisa melupakan? Kini, tiap kuhela napas, seakan ada dinding yang ikut mengembang di antara aku dan dunia. Semakin malam, tembok itu terasa semakin tebal.
***
Matahari masih terlalu kemerah-merahan, tapi aku sudah harus melangkah keluar. Senyumku terlalu kusam untuk menikmati pagi sesejuk ini, seperti kemeja yang terpaksa aku kenakan sekarang. Jika bukan karena satu-satunya baju yang ada di bilik lemari, mungkin saja jemariku enggan untuk menyentuhnya. Warnanya pudar, kerahnya kaku oleh waktu, tapi pagi ini tak ada pilihan lain.
Sesampainya di kantor, pintu kaca itu menyambut dengan bunyi bip dari fingerprint. Telunjukku sudah hafal irama rutinitasnya. Ia membelai tombol paling atas, menyalakan laptop, menampakkan tumpukan email pada layarnya yang dingin. Satu demi satu kubuka klip klip video, menampakkan wajah dan suara orang lain seakan menari di monitor. Senyum mereka terlalu hidup, seakan aku merasa hanya menjadi bayangan yang merangkai mereka jadi utuh.
Di kubikel sebelah, tawa pecah ketika obrolan tentang bos mengalir seperti gosip sekumpulan ibu-ibu berdaster. Tapi ketika derap sepatu terdengar dari ujung koridor, udara seakan berubah arah. Tawa mendadak padam, satu persatu kursi berderit membentuk baris sejajar.
Seseorang bergegas membetulkan dasi, ada juga yang berpura-pura meninjau grafik pada monitor. Begitu sosok itu lewat, barisan itu merekahkan senyum paling sempurna. Memberi sapaan paling hangat. Ada juga yang menunduk terlalu rendah dan membalas tawa terlalu keras pada lelucon hambar yang sosok itu lemparkan. Semua berlomba menjadi cermin paling mengkilap bagi bayangan atasan mereka.
Aku hanya terdiam menatap layar yang mendadak buram. Entah kenapa bayangan wajah Abah terpantul di layarku ketika terulang suasana ini. Dulu, ketika Abah melintas, kamipun menunduk, mencium tangan. Dan ketika beliau memanggil, kamipun bergegas tanpa beban dan kepalsuan.
***
Ruangan penuh kubikel ini mulai sepi, hanya bunyi pendingin udara yang enggan berhenti. Proyekku akhirnya rampung. File video kusalin ke flashdisk, lalu kuselipkan ke saku kemeja. Langkahku bergegas menuju ruangan bos. Keringat merembes dari pelipis, padahal ruangan tak kurang dinginnya. Harap-harap cemas, semoga saja tidak ada revisian lagi.
Saat hendak memaparkan hasil kerja, tanganku merogoh saku. Bukan benda plastik keras yang kurasakan, melainkan lipatan kertas yang sudah menguning ujungnya. Aku tertegun sejenak, lipatan itu terasa asing, tapi aromanya tak asing. Perlahan kubuka—di dalamnya, tulisan tanganku sendiri, goresannya tergesa. Mungkin saja itu kutulis saat terakhir kali aku sowan ke ndalem Abah, sekitar satu atau dua tahun silam, di malam Haul Simbah Kyai. Huruf-hurufnya masih terbaca jelas, meski tintanya mulai pudar dimakan waktu,
”Ora ono mantan santri, sebisa mungkin ojo ninggalke ngaji. Ngajio sebisamu, dengan versimu.”
Dadaku menghangat, degupnya berpacu. Dengung pendingin ruangan masih terdengar, tapi dunia seolah berhenti sejenak. Tulisan itu seolah menatapku balik. Pesan itu seperti mengajakku menyeberangi waktu, menembus tembok halus kaca kantor menuju tembok bata merah bangunan pesantren, di mana suara nadhoman alfiyah bergaung di antara senja.
***
Malam ini tak seperti malam biasanya. Proyekku sukses besar, bonus dari bos sudah mendarat di rekening. Tapi senyumku tak kunjung melengkung sempurna. Di atas meja kecil, di samping mushaf, secarik kertas itu tergeletak, kusam tapi tak kehilangan cahaya. Tulisan di dalamnya terus bergema di kepala.
Tanganku seperti bergerak sendiri, meraih ponsel, membuka akun sosial media pondok. Tak banyak video ngaji Abah, yang kudapati hanya beberapa foto dokumentasi kegiatan dan cuplikan video pendek hasil editanku dulu. Sebenarnya ada satu pengajian khusus alumni, tiap sebulan sekali, tapi tak pernah kudapati rekamannya ataupun catatan dawuh-dawuh Abah. Hanya poster bemberi kabar yang lewat begitu saja di lini masa.
Lantas, bagaimana cara ngaji sesuai versimu, Abah?
Mungkin saja, di luaran saja, banyak alumni sepertiku yang diam-diam merindukan suara Abah. Namun kami tak tahu harus bagaimana. Kepada siapa kami yang kehilangan arah ini harus menanyakan jalan, Abah?
Rindu ini sudah tak bisa dibendung. Kubuka laptop, jemariku bergegas menelusuri satu persatu setiap file, berharap ada satu saja yang menyimpan suara menenangkan itu. Di folder paling dasar, yang nyaris terlupakan, kutemukan sebuah video ngaji bandongan, mungkin saja hari-hari terakhirku menjadi bagian dari media pondok.
Kepalaku seolah disinari cahaya terang benderang. Kucoba masukkan video itu ke dalam program coding, kusandingkan dengan kecanggihan AI. Ia bisa mendengarkan dengan saksama, mencatat dengan teliti, tak ada yang terlewat, termasuk contoh-contoh kontekstual yang dulu selalu Abah sampaikan dengan lembut.
Andai saja ada lebih banyak video, lebih banyak dawuh Abah yang terekam dan tersebar ke setiap telinga alumni, mungkin kami bisa tetap ngaji dengan versinya masing masing. DI manapun kami berada.
Pikiranku melayang jauh, menembus ruang sempit kamar kos yang mulai pengap, menelisik awan hitam di luar jendela. Ada sesuatu yang terasa bergetar di dada, seolah panggilan lama yang tak selesai. Sudah kuputuskan. Aku akan menggunakan program ini untuk setiap ngaji Abah, atau setidaknya untuk setiap selapanan alumni itu.
***
Aku tak biasa membuka laptop sepagi ini, namun kali ini berbeda. Memang mataku baru saja melek, tapi pikiranku seperti tak terpejam semalaman. Pagi ini harus kupastika programku berjalan sempurna. Tanganku bergegas meraih ponsel, mencari nama yang familiar di daftar kontak.
“Kang, hari ini ada ngaji selapanan alumni, to?”
”Ada. Kau mau ke sini? Kukira sudah lupa sama pondok.”jawabnya, disertai suara gemerisik tawa.
”Ngawur. Aku Cuma mau minta tolong, Kang. Bisa rekam pas ngaji nanti? Pakai programku. Live di akun pondok saja, Nanti biar programku yang kerja. Dawuh-dawuh Abah otomatis tercatat, plus ada keterangan dan konteksnya.”
“Dasar wong kota!” gumamnya sambil terkekeh. ”Apa gunanya tangan dan kupingmu itu, semua serba teknologi.”
“Sudahlah.” kataku membalas tawa. ”Ini ngaji versi orang yang nggak bisa ngaji langsung. Nggak semua orang seberuntung kau ya. Toh, biar dawuh Abah tetap sampai ke santri-santrinya yang modelnya sepertiku ini. Meskipun lewat layar touchscreen.”
Setelah panggilan berakhir, ada sedikit getir yang mengendap. Aku tahu ruang digital itu bukan tempat suci. Orang-orang bisa berkomentar sekejam apapun, hinaan dan cacian bisa datang dari siapapun. Mungkin sebagian alumni juga akan mencibir, menganggapku menodai
kesakralan majelis ilmu. Tapi aku hanya ingin satu hal—santri yang sudah jauh dari pondok, jiwanya tetap punya jalan pulang.
Beberapa jam kemudian, di tengah riuh kantor, notifikasi kecil melayang di pokok layar. Programku berjalan. Gelombang suara masuk, diolah menjadi teks. Kata demi kata. Bahkan contoh kontekstual tentang iman, tentang santri yang bekerja—cirikhas pemikiran Abah—semua tersusun rapi di layar. Kubuka layar ponsel, mencari akun pondokku. Mentap live streaming akun itu sambil terkekeh pelan. “Ngaji canggih.” Gumamku lirih, “tapi yang penting masih tetap bisa ngaji.”
Penulis: Fahmi Hasan Arrosyid
Editor: Rara Zarary


















