Saya Tahu Pepohonan yang Kehausan

22

Belajar Tasawuf Akhlak dari KH. Nur Kholis Misbah di Al-Amanah Junwangi

Asrama Putra Al Madani

Dua bulan mengemban amanah sebagai pembantu kepengasuhan di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo, menjadi pengalaman yang mengubah cara saya memandang pendidikan pesantren. Saya datang dengan bayangan bahwa tugas pengasuhan berkisar pada kedisiplinan santri, administrasi, dan aktivitas harian. Namun, di bawah asuhan KH. Nur Kholis Misbah, saya justru belajar bahwa pendidikan akhlak jauh melampaui ruang kelas dan lembaran kitab.

Akhlak diajarkan melalui keteladanan. Tasawuf tidak hanya dibahas dalam pengajian, tetapi dihidupkan dalam cara memandang manusia, alam, dan setiap amanah yang berada di sekitar kita.

Pesantren ini memiliki banyak sudut yang menyimpan filosofi. Ada kawasan yang dinamai Mahsyar Madani, tempat para santri ditempa untuk belajar disiplin dan tanggung jawab bersama. Ada pula kawasan bernama McGill. Nama itu diambil dari salah satu universitas ternama di Kanada. Bukan untuk bermegah-megahan, melainkan sebagai doa agar para santri memiliki cita-cita yang luas dan keberanian menatap dunia, tanpa meninggalkan identitas kesantriannya.

Namun, di balik visi besar itu, saya menemukan satu pelajaran yang justru terasa paling mendasar: seseorang tidak akan mampu membawa perubahan besar apabila belum mampu merawat apa yang ada di hadapannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pelajaran itu saya peroleh pada suatu malam.

Suasana pesantren mulai lengang. Para ustadz dan pengurus berkumpul di Pendopo Rumekso Ing Wengi. Di tempat sederhana itulah berbagai evaluasi dan nasihat sering disampaikan.

Tak lama kemudian terdengar suara sebuah sepeda motor Honda Beat merah memasuki halaman pesantren. Dari atas motor itu turun sosok yang akrab dipanggil seluruh keluarga besar Al-Amanah dengan satu sebutan sederhana, “Bapak”. Beliaulah KH. Nur Kholis Misbah. Semoga Allah merahmati beliau.

Beliau duduk bersama kami. Seperti biasa, pembicaraan dimulai dengan evaluasi mengenai kehidupan pesantren. Tidak ada kesan menggurui. Nasihat beliau mengalir seperti seorang ayah yang sedang berbincang dengan anak-anaknya.

Salah satu pesan yang hingga kini masih saya ingat ialah ketika beliau berbicara tentang niat dalam mengabdi.

“Jangan sampai apa yang kita lakukan di pesantren ini kita lakukan dengan paksaan hati. Lakukan dan niatkan khidmah untuk membina santri, semata-mata demi meraih rida Allah.”

Kalimat itu seakan mengingatkan bahwa tugas seorang pendidik bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, melainkan menjaga keikhlasan agar setiap aktivitas bernilai ibadah.

Namun, malam itu ternyata masih menyimpan pelajaran lain yang lebih membekas dalam ingatan saya.

Ketika pembicaraan beralih pada kebersihan dan taman pesantren, beliau tiba-tiba berkata,

“Saya tahu pepohonan yang kehausan. Makanya saya tidak bisa bepergian jauh, karena selalu kepikiran tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar pesantren ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Akan tetapi, semakin lama saya renungkan, semakin saya memahami bahwa di sanalah letak hakikat tasawuf yang sesungguhnya.

Beliau tidak sedang berbicara tentang teori cinta kepada alam. Beliau sedang memperlihatkan bagaimana kasih sayang bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian itu tidak berhenti kepada manusia, tetapi meluas kepada makhluk Allah yang lain, bahkan kepada pepohonan yang tidak mampu mengeluhkan dahaganya.

Saya kemudian memahami mengapa lingkungan Al-Amanah terasa begitu asri. Pohon-pohon tumbuh terawat. Taman-taman bersih. Gazebo-gazebo sederhana menjadi tempat santri membaca kitab, berdiskusi, atau menghafal pelajaran dalam suasana yang teduh.

Keindahan itu bukan semata hasil program kebersihan, melainkan buah dari cara pandang. Ketika seorang pengasuh mencintai lingkungan sebagai bagian dari amanah Allah, kecintaan itu perlahan diwariskan kepada seluruh penghuni pesantren.

Di Al-Amanah saya belajar bahwa pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari ceramah yang panjang. Kadang ia lahir dari hal-hal yang tampak sederhana: memungut sampah tanpa disuruh, menyiram tanaman yang mulai layu, menjaga halaman tetap bersih, atau menata lingkungan agar nyaman bagi orang lain.

Semua itu mungkin terlihat sepele. Namun, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah akhlak tumbuh menjadi karakter.

Pengalaman singkat selama berkhidmah di Al-Amanah membuat saya menyadari bahwa tasawuf bukan hanya pembahasan tentang maqamat, ahwal, atau penyucian jiwa dalam kitab-kitab klasik. Tasawuf juga hadir ketika seseorang mampu memandang seluruh ciptaan Allah dengan kasih sayang.

Saya teringat kembali kalimat sederhana yang diucapkan Bapak malam itu.

“Saya tahu pepohonan yang kehausan.”

Barangkali, seseorang baru benar-benar belajar mencintai Allah ketika hatinya telah cukup peka untuk merasakan kebutuhan makhluk-makhluk-Nya, bahkan yang tidak mampu berbicara.


Penulis: M. Hikmal Yazid