Santri yang Lupa Arah Hidup

sumber ilustrasi: www.google.com

Oleh: Zulfikri*

Genit angin menyapa pagiku, memberi salam padaku. Lantunan shalawat tarhim dari masjid di pondokku datang membelai, membangunkan aku untuk memulai hari. Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi, memaksaku untuk segera bergegas ke kampus. Sepagi itu memang aku harus pergi, sebab akhir-akhir ini tugas akhir membuatku lebih sibuk. Aku sudah ada jadwal dengan dosen pembimbingku pagi ini. Revisi demi revisi skripsi aku lewati untuk menyelesaikan salah satu syarat mendapat gelar sarjana itu.

Sesampainya di kampus, lebih tepatnya di depan ruang dosen. Aku mendapati temanku yang sedang menunggu giliran bimbingan juga, Aziz namanya.

“Woi! Ndrong gimana skripsi lu?” teriak temanku pagi itu. Iya, begitu teman-teman memanggilku. Mereka memanggilku dengan “gondrong”. Sebab rambutku yang terurai sampai punggung. Namaku sebenarnya adalah Ali Umar, pemberian orang tuaku dengan harapan aku menjadi orang yang cerdas dan berani.

“Ya biasa lah bro, revisi lagi,” kataku sambil menghampirinya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beberapa menit kemudian temanku yang berada di ruang dosen ke luar, digantikan dengan Aziz.

“Semangat bro!” kataku memberi semangat padanya. Cukup lama aku menunggu di depan ruang dosen itu, sekitar 30 menit, “mungkin banyak yang dicoret,” ucapku dalam hati. Akhirnya aziz keluar dari ruangan dosen dengan wajah yang sedikit lemas.

“Kenapa lagi bro?” tanyaku padanya.

“Ya biasa Ndrong, dicoret-coret lagi,” jawabnya dengan nada tak bersemangat.

Sekarang giliranku untuk bimbingan, sedikit takut juga karena melihat Aziz begitu. Tapi aku tetap melangkah ke meja dosen pembimbingku. Dan yang aku takutkan akhirnya terjadi, hal yang terjadi pada Aziz, ternyata terjadi padaku juga. Skripsiku di coret-coret dan harus revisi lagi. Dengan rasa kecewa aku kembali ke pondok.

Aku baru mondok sejak masuk kuliah. Orang tuaku menyuruhku kuliah sambil mondok agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Melihat anak temannya yang salah pergaulan ketika kuliah dan tinggal di kos-kosan dan tidak bisa mengendalikan diri. Itulah mengapa orang tuaku menyuruhku kuliah sambil menimba ilmu di pondok pesantren, agar hal yang terjadi pada anak temannya tidak terjadi padaku.

Hari pertamaku di pondok, kiai sudah berpesan, “gunakanlah waktu mudamu untuk masa tuamu, gunakanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, dan gunakanlah waktu mondokmu sebelum waktu boyongmu,” pesan kiai saat aku baru masuk pesantren.

Namun, setelah beberapa tahun aku mondok, aku tidak lagi mengikuti pengajian, aku sering kali pergi meninggalkan pengajian, aku pergi ke warung kopi hanya sekadar ngopi dengan teman-teman.

Aku tidak mengikuti pengajian bukannya aku malas, tetapi ustadz seringkali menegurku karena rambut panjangku. Aku malu ketika beliau menegurku setiap malam, menyuruhku untuk memotong rambut.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Semua masalah itu aku lewati sering juga aku hindari. Tibalah hari di mana yang aku dan orang tuaku tunggu, yaitu hari wisuda. Hari di mana aku akan memetik yang selama ini aku tanam. Aku melihat bahagia di wajah orang tuaku. Mereka bangga melihatku dengan toga di kepala dan gordon yang tergantung di leher. Sama halnya seperti orang tua lain yang bangga karena masih mampu untuk membiayai pendidikan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Setelah mendapat gelar sarjana, aku bingung harus melakukan apa. Teman-temanku telah mendapat pekerjaan yang mereka inginkan, ada juga yang meneruskan usaha orang tuanya. Sedangkan aku masih bingung mencari pekerjaan. Aku menanyakan pekerjaan pada teman-temanku, tapi tak ada satu pun lowongan yang tersedia. Aku juga mencari pekerjaan di penyedia informasi lowongan pekerjaan di internet.

🤔  Nyai Solichah Wahid, Ibu Bangsa

Aku mendapat panggilan kerja dari tempat yang menawarkan pekerjaan di internet. Tapi aku harus siap di tempatkan di Jakarta. Aku menanyakan hal ini kepada orang tua dan kiaiku di pondok. Jawaban mereka sama, selama itu baik buatku, lakukan saja.

Setelah aku mendapat panggilan pekerjaan itu. Besoknya, aku langsung berpamitan ke kiaiku untuk pergi ke Jakarta. Kiai berpesan, “jangan melupakan gelar santri yang ada pada dirimu, jaga diri baik baik, dan jangan meninggalkan ilmu yang telah kamu pelajari di pesantren ini,” pesan beliau merestui pemberangkatanku.

Hari itu juga aku langsung berangkat ke jakarta menggunakan kereta. Selang beberapa jam, aku tiba di jakarta, malam itu aku tidur di musholla dekat stasiun.

***

Besoknya aku pergi ke alamat tempat kerja itu. Sesampainya di sana aku diperkenalkan dengan orang-orang yang akan bekerja satu tim denganku. Aku mendapat bagian menggambar bangunan rumah, sesuai dengan jurusanku waktu kuliah, Teknik Sipil.

Seiring dengan berjalannya waktu. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, sampai lupa dengan kebiasaan yang aku lakukan di pondok dulu. Tidak lagi membaca Al-Quran dan seringkali aku meninggalkan shalat. Saat malam tiba, teman-teman di kantor sering mengajak untuk melepas penat di salah satu cafe yang menjual minuman keras, pada awalnya aku menolak ketika ditawari minuman keras ini.

“Minum lah bro, dikit aja,” kata teman sambil memberi gelas berisi minuman haram itu.

“Gak bro, gua gak minum,” jawabku menolak.

Tetapi lama kelamaan aku meminumnya juga. Bertahun-tahun aku lewati dengan seperti ini. Hilang sudah ilmu yang kupelajari dulu di pesantren.

Hingga akhirnya aku jatuh sakit, dokter mendiagnosa bahwa aku terkena komplikasi jantung dan lambung, sebab minuman memabukkan yang sering aku teguk. Saat kondisiku mulai membaik, aku mengambil cuti dari kantor selama 2 minggu untuk pulang ke kampung halaman.

Saat di kampung, aku ceritakan semua pada orang tuaku tentang kehidupanku selama ini di Jakarta. Aku juga meminta mereka agar memaafkan kesalahanku. Sedikit kecewa mereka mendengar ceritaku. Anak yang mereka harapkan menjadi orang yang tidak terjerumus pergaulan bebas.

Aku juga mengunjungi kiaiku, sesampainya di sana aku melihat pondokku sudah sedikit berubah dari bangunannya. Teringat kembali waktu aku di pesantren dulu. Aku menemui kiaiku, aku minta maaf kepadanya karena tidak bisa menjaga gelar santri yang aku pikul. Aku ceritakan semua padanya. Ia hanya berpesan, “minta maaf juga kepada Allah, kamu juga sudah dewasa, harus mulai menentukan apa yang harus dilakukan, sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk,” dengan kesabaran dan kesederhanaannya, kiai memaafkan santri seperti aku ini. Aku hanya tertunduk malu.

“Kalaupun ingin mencari teman. Jadikan Allah dan Nabi Muhammad sang Rasul sebagai cahaya penerangmu, sebagai penunjuk jalanmu. Sudah itu saja. Semoga perjalananmu berhasil dunia akhirat.” Aku masih saja menunduk, semakin malu. Terus merasa bersalah pada kiai dan orang tuaku, tentu sangat merasa malu dan berdosa pada Allah. Aku bertaubat dengan segala kerendahan diriku, aku meminta maaf berulang-ulang pada orang tua dan kiaiku.

*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.