Dr. Agus Purwanto menyampaikan kuliah umum bertema Al Quran dan Astronomi menjelang gerhana bulan total di SMA Trensains Tebuireng pada Sabtu (28/07/2018). (Foto: Dok SMA Trensains)

Tebuireng.online— Sejak 3498 tahun lalu, gerhan bulan total langka, terlama, dan terkecil terjadi lagi dan melewati Indonesia. Pada zaman dahulu, gerhana dikaitkan dengan bulan atau matahari yang dimakan raksasa. Namun, setelah manusia mengenal sains, gerhana bulan diartikan dengan peristiwa di mana bumi, matahari, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Umat muslim menyambutnya dengan malaksanakan shalat Gerhana Bulan.

Hal itu yang disampaikan oleh inisiator SMA Trensains, Dr. Agus Purwanto di Masjid Shalahuddin Pesantren Tebuireng 2 Ngoro Jombang saat mengisi kuliah umum kepada para santri pada Sabtu (28/07/2018). Kuliah umum itu dilakukan menjelang pelaksanaan shalat gerhana bulan.

“Santri Trensains harus mengikuti kuliah umum ini, menyongsong gerhana bulan total 28 Juli 2018. Pada zaman saya kecil orang tua saya mengakatan gerhana itu karena bulan atau matahari dimakan raksasa, dan saya harus menggoyang-goyangkan pohon agar tetap bertahan hidup,” terang Dr. Agus Purwanto.

Namun, sejak mengenal sains, ia mengaku menjadi tahu bahwa ternyata gerhana terjadi, karena bumi matahari bulan berada dalam satu garis lurus dengan lima bagian, yaitu gerhana bulan penumbra 1, sebagian 1, total/umbra, sebagian 2, penumbra 2.

“Kita akan shalat sunnah gerhana bulan pada saat gerhana bulan melewati daerah kita terutama saat total atau berada di umbra,” jelasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dr. Agus tidak hanya menjelaskan gerhan bulan tapi juga mengenai rahasia malam, adanya siang dan malam, dan memecah lagi pernyataan flat earth atau teori bumi datar yang digaungkan oleh sebagian orang.

“Gerhana tidak dapat dijelaskan dengan konsep flat earth. Apabila matahari, bumi, bulan sejajar dan terjadi gerhana berarti matahari berbentuk seperti sentolop,” celetuknya.

Pada akhir sesi, Dr. Agus berpesan kepada santri agar ilmu yang didapat bisa mengikatnya dengan kuat, apabila tak mampu maka sebaiknya menulisnya. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa Al Quran bukan merupakan kitab sains, walaupun di dalamnya terdapat 800 ayat mengenai alam (ayat kauniyah) termasuk astronomi, melainkan ia adalah kitab suci umat Islam, yang sejatinya harus dijadikan sumber inspirasi integrasi sains dan agama.

Setelah kuliah umum, pada dini hari, para santri Tebuireng 2 melaksanakan shalat sunah gerhana bulan secara berjamaah yang dipimpin oleh Wakil Kepala Pondok Pesantren Tebuireng 2, Ustadz Arif Khuzaini, sekaligus bertugas sebagai khatib.

Penyambutan gerhana bulan total langka ini dilanjutkan dengan Ngaji Alam, yaitu melihat gerhana bulan melalui teropong di lapangan basket SMA Trensains yang didampingi Waka Kesiswaan SMA Trensains, Ustadz Umbaran. Mereka terlihat antusias melihat fenomena langkah itu dengan bergantian.


Pewarta:            Nadia Salma

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin

SebelumnyaKisah Berdirinya Ka’bah
BerikutnyaHukum Memanjangkan Kuku