Oleh; Lutfi Bahruddin*

Namanya Syamsuddin, mahasiswa asal Solo yang sedang menempuh master di jurusan Kerja Sosial dan HAM di Universitas Gothenburg Swedia. Namanya yang susah membuat kawan-kawannya, membuatkan sebuah nama panggilan yang lebih gampang diucapkan, dia lalu dipanggil Sam. Sam adalah anak kedua dari pasangan Sardjono dan Kholifah yang sampai kini masih setia menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, menjadi petani. Bagaimana tidak, sekarang ini bukan hanya guru saja yang bisa menyandingkan dirinya menjadi pahlawan tanpa tanda saja. Berbagai pengalaman suka dan duka melengkapi perjalanan orang tua Sam sebagai petani.

Bayangkan saja semua modal pertanian terkadang tidak kembali sehingga lebih banyak rugi akibat rendahnya nilai hasil panen. Paling mentok  ya balik modal. Harga pupuk yang melambung seiring mulai susahnya menggarap lahan pertanian akibat musim yang tak menentu menambah derita kaum caping ini. Siapa lagi kalau yang menanggung semuanya kalau bukan petani. Melihat kondisi tersebut, Sam tak tinggal diam. Sam ingin membahagiakan orang tuanya dengan meneruskan cita-citanya menjadi aktifis sosial dan dosen ilmu politik di UGM sehingga mampu bermanfaat kepada masyarakat kelak.

Sam kini beranjak ke semester ketiganya di kampus, kuliah mulai senggang karena yang tersisa adalah  penelitian tesis yang sudah hampir selesai dan jurnal. Libur musim semi sebagai penanda musim dingin berakhir membuat hari-harinya lebih santai.

Libur pekan telah tiba. Sam masih tidur pulas berselimutkan sarung kotak-kotak pemberian bapaknya. Nada dering telepon genggam hitam buatan Finlandia tiba- tiba berdering di pagi yang cukup cerah. Daun-daun pepohonan termasuk daun pohon maple mulai bersemi kembali. Maklum suasana musim dingin yang baru usai dan musim semi mulai muncul di daratan Skandinavia. Ternyata nada dering itu berasal dari SMS seorang temannya , bernama Matthias. Ia Seorang kandidat doktor bidang hukum dagang asal Jerman. Pesan itu berbunyi, “Hey Sam, What are you doing today? If you do not have a plan  i will take you together with George and Sameena somewhere outside Goteborg. Text me back..”. Matthias mengajak Sam melancong ke suatu tempat di luar kota. Gothenburg adalah kota besar kedua di Swedia setelah Stockholm.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Langsung saja Sam alias Syamsuddin menghubungi George dan Sameena, teman nongkrong-nya. George berasal dari Inggris, sedangkan Sameena berasal dari Italia keturunan Yaman. Mereka bertiga sudah lama berteman sejak awal mulai masuk kuliah di jurusan kerja sosial dan HAM di universitas yang sama. Sam kemudian menghubungi George dan Sameena. Keduanya pun menyanggupi untuk mengikuti ajakan Matthias. Sam pun segera menjawab pesan.

Malam itu, mereka bertiga pun menunggu Matthias di depan apartemen jam 11. Untungnya apartemen mahasiswa tempat Sam tinggal, hanya satu blok dengan George dan Sameena di area Apartemen Volrat Thams. Tak menunggu lama, Akhirnya ketemu Matthias meluncur dengan mobil mini sedan berwarna hijau MINI COOPER. Ini adalah kali pertama Sam naik mobil pribadi nan mahal. Maklum biasanya Sam hanya mengandalkan tram dan bus kota karena aksesnya lebih mudah dan harganya terjangkau bagi kaum mahasiswa, apalagi perantau seperti dia. Sam memiliki kartu transportasi kota langganan yang bisa dipakai sebulan penuh dan bisa diisi ulang kalau sudah habis masa berlakunya. Matthias mempersilahkan mereka bertiga masuk dengan aksen Inggris-Jermannya yang masih cukup kental.

Come on in , guys!,” Matthias mempersilahkan masuk mereka bertiga.

Cukup bagi mereka berempat dalam satu mobil yang memang dirancang minimalis namun bertenaga badak. Usai masuk mobil, Sam bertanya kemana tujuan melancongnya. Perawakan Matthias tidak seperti kebanyakan “bule”, tubuhnya mungil setara tinggi Sam yakni rata-rata tinggi orang Indonesia, 165 cm.

I’ll bring you guys to Lysekil!(saya akan bawa kalian ke Lysekil) jawab Matthias dengan senyuman khasnya.

Matthias mengajak Sam, George, dan Sameena ke Lysekil, sebuah kota kecil di bagian barat Swedia yang berbatasan langsung dengan lautan dengan ciri khas pantai berbatu. Menuju kota Lysekil membutuhkan 3 jam perjalanan melewati kota Kungalv, Ljungskile, dan distrik Jorlanda. Dari Jorlanda mereka harus menyeberangi jembatan Sunninngen hingga menyeberangi selat laut menuju Finnsbo dan lanjut dengan perjalanan darat menuju Lysekil.  Kota ini biasanya ramai dikunjungi saat musim panas, sebagai tempat berlibur dan menikmati matahari musim panas.

Selama perjalanan mereka disuguhkan panorama pemandangan daratan, perbukitan, dan pantai daratan tanah Viking. Perumahan khas Swedia yang berkonsep country house lengkap dengan peternakan kuda dan kandang-kandangnya menghiasi perjalanan libur pekan mereka. Meski menempuh 3 jam perjalanan, rasa penat dan lelah tak terasa. Selama itu, alunan musik elektrik disko kesukaan Matthias meramaikan suasana melancong.

Akhirnya Matthias menepikan kendaraan ke sebuah tempat peristirahatan yang menghadap kearah pantai Bohauss, sebuah pantai yang mengarah ke kota Lysekil. Di tempat peristirahatan itu terdapat waralaba terkenal yang menjual makanan cepat saji. Mereka pun turun menyegerakan langkah menuju restoran tersebut untuk makan siang.

Sembari menunggu antrian dan mendapatkan makanan yang dipesan. Sam dan kawan-kawannya menonton berita di televisi yang sengaja diletakkan di atas atap dekat dengan kasir. Saat menonton berita mereka terkejut dengan adanya pemberitaan tentang nestapa imigran dari Suriah dan Somalia yang rela berkorban harta hingga nyawa untuk bisa selamat hingga Swedia. Pemberitaan ini menghangat seiring terjadinya konflik Suriah dan juga Somalia yang tak kunjung usai. Banyak dari rakyatnya menghindar dan menjauh dari asal negaranya untuk kehidupan yang lebih baik tanpa dilanda perang dengan mencari suaka ke negara-negara Eropa seperti Jerman dan Swedia. Pencari suaka tersebut memiliki hak perlindungan internasional dan hak suaka ke negara yang memang menerima suaka. Swedia sendiri merupakan salah satu negara yang menerima suaka terbesar di Uni Eropa setelah Jerman dan Hongaria. Biasanya imigran akan menyeberang menuju kota Malmo yang menjadi kota transit pertama yang dikunjungi imigran di Swedia. Namun dalam pemberitaan itu bukan kisah suka yang diberitakan. Justru kisah duka menyelimuti imigran yang diberitakan di media televisi tersebut. Sebuah tayangan berita memperlihatkan beberapa imigran mengalami kekerasan fisik selama perjalanan mereka sampai di Yunani.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan mereka, banyak sekali bekas luka dan lebam!,” tanya George yang kaget dengan pemberitaan beberapa imigran perempuan Suriah yang mengalami kekerasan saat menuju Swedia.

“Aku pikir sepertinya mereka mengalami siksaan oleh penyelundup mereka!,” sahut Sameena yang juga pernah menjadi imigran di Italia.

“ Oh, Ya?,” Tanya George tak percaya.

Sameena adalah putri pertama dari pasangan Bassar dan Aleeya yang mengalami kekerasan secara politik dan fisik oleh salah satu klan yang berpengaruh di Yaman. Sameena menghindar dari penyerbuan kelompok Hassan al-Houhti yang sering meneror warga yang melawannya. Sameena yang menjadi salah satu incaran kelompok Houhti ini dituduh menjadi mata-mata kelompok lawan Houhti. Beruntung Sameena bisa melarikan diri dan diajak untuk tinggal oleh saudara sepupunya yang telah lama bekerja di Bologna Italia sebagai koki masak. Sameena lalu dititipkan oleh ayah dan ibunya menuju Italia untuk tinggal bersama saudaranya sementara, sekalian meneruskan belajarnya.

Dari sinilah petualangan Sameena menjadi pencari suaka dimulai. Perjalanan Sameena tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai ancaman terjadi, sewaktu ia dan keluarga keluar dari pengawasan keamanan tentara gerilyawan Yaman. Sameena mengungkapkan bahwa dia sengaja diselundupkan ke Albania melalui jasa penyelundup imigran gelap. Sayangnya penyelundup Sameena sesampai di daratan Yunani pernah menyiksa dan menghajar Sameena hingga tak sadarkan diri. Beruntung dia kemudian diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit oleh polisi Yunani yang kebetulan melintas. Lantas Sameena dirawat hingga sembuh dan bisa melanjutkan perjalanan menuju Italia.

Sameena bercerita bahwa tidak hanya dia yang disiksa. Ibu-ibu dan anak-anak tak luput dari kekejaman penyelundup. Tak hanya kekerasan fisik yang dialami oleh pencari suaka, buruknya sarana transportasi yang dipakai yang mau tidak mau digunakan sebagai sarana penyelundupan pun jauh dari aman. Akibatnya banyak yang mengalami dehidrasi akibat penyelundupan menggunakan peti kemas truk tronton. Banyak yang mengalami dehidrasi akibat kurangnya udara di dalam peti kemas dan mati. Sameena merasa beruntung karena dia memiliki perbekalan yang cukup sehingga tidak mengalami dehidrasi seperti pengungsi pencari suaka yang lain. George dan Matthias semakin penasaran akan cerita Sameena,

“Sameena, minum jus jerukmu dulu!,” kata George saat melihat Sameena agak gemetar saat menceritakan pengalamannya mencari suaka di negeri orang.

Sameena dengan tangan agak gemetar mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang telah dipesannya. Sam dan George membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Matthias pun ikut menyamankan posisi duduk dan mengelap kaca mata bundar khas ikon Harry Potter yang telah lama ia pakai sejak matanya mulai minus 4 tahun yang lalu.

Sameena kemudian melanjutkan lakon ceritanya, “Di Yunani aku selamat, bersama rombongan lai. Aku menyeberangi laut Mediterania menuju Catania Italia. Waktu itu aku bersama 19 orang lainnya menuju Catania dengan sebuah perahu karet boat yang sengaja disediakan oleh penyelundup untuk menyeberangkan manusia-manusia pencari suaka ke Italia. Lagi-lagi perjalanan berat aku alami. Perahu boat yang ditumpangi oleng kesana-kemari akibat ombak laut Mediterania yang cukup mengguncang,” terang Sameena sambil meneteskan air matanya. Sam menyulurkan tissu kepada Sameena.

“Namun sayang, tak semua imigran bisa sampai ke Catania…,” ungkap sayu Sameena.

“Bagaimana itu bisa terjadi, Sameena?” tanya Sam penuh perhatian.

“Tidak semua imigran entah dari Yaman maupun Suriah yang ikut dalam rombongan selamat. Beberapa dari mereka tak kuat akan ombak dan dinginnya lautan Mediterania dan akhirnya meninggal akibat perahu terbalik dan tak bisa berenang. Persis seperti apa yang terjadi pada bocah kecil Aylan Kurdi dan korban lainnya yang terdampar di perairan Turki baru-baru ini,” jawab Sameena terbata-bata sembari mengusap air matanya yang makin deras.

Matthias, Sam, dan George tertunduk sedih mendengar cerita pilu Sameena yang mengalami langsung tragedi imigran pencari suaka. Sameena pun melanjutkan ceritanya.

“Pada malam hari gelap nan kelam itu, tak semua penumpang kapal memakai jaket keselamatan, khususnya anak kecil dan ibu-ibu yang sedang hamil. Aku masih beruntung memakai jaket keselamatan dan bisa berenang menggapai kapal evakuasi negara Italia yang telah mendapatkan info mengenai manusia yang mengapung di perairan mediterania tak jauh dari Italia”.

Air mata Sam berkaca-kaca. Dia tidak percaya kawannya pernah mengalami peristiwa yang hamper merenggut hidupnya.

“Lalu, apa yang dilakukan oleh kapal evakuasi Italia?” bagaimana dengan evakuasinya?” Sam bertanya penuh cemas.

“Aku dan rombongan yang selamat lainnya diselamatkan oleh penjaga perairan Italia dan diberikan perawatan yang cukup baik. Mereka kemudian mendata semua awak penumpang yang selamat di kantor kesehatan pelabuhan Catania. Aku dipersilahkan untuk menghubungi saudaraku yang berada di Bologna. Setiba disana kami dijamu dan dirawat dengan baik. Disana, saudaraku yang datang menjemput langsung memelukku penuh khawatir. Dari pengalaman yang hampir merenggut nyawanya itu, Aku bekerja dan melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu sosial dan politik di Universita da Bologna. Impianku hanya satu, bagaimana aku mampu berperan menyelamatkan hak-hak asasi manusia yang terenggut, khususnya di masalah pengungsi pencari suaka akibat konflik. Itulah kemudian aku melanjutkan S2 ku di Gothenburg,” ucap Sameena yang mengakhiri cerita pengalaman pribadinya.

Sam, George, dan Matthias tak kuasa menahan haru dan saling berpegangan tangan bersama dengan Sameena di meja restoran. Mereka bersatu padu bermimpi dan berharap peristiwa naas yang telah dialami Sameena dan pengungsi lainnya tidak terulang. Sam. George, dan Matthias mengerti betul bagaimana rasanya menjadi pencari suaka karena harus mengorbankan jiwa dan raga. Kondisi emosi Sameena berangsur stabil dan mereka pun salut atas apa yang terjadi pada Sameena.

Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan akhirnya datang, yaitu Pizza Burritos dan Pizza kebab dilengkapi dengan keju yang meleleh di bagian tepinya. Mereka pun tak sabar untuk menikmati hidangan yang tersedia di meja makan.

Usai makan siang. Sam dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan menuju Lysekil. Mereka harus menyeberang kanal dengan kapal ferri. Seperempat jam di atas kapal ferri, mereka menikmati pemandangan selat menuju kota Lysekil. Kapal mulai merapat ke dermaga pulau Lysekil yang juga terkenal dengan kota kecil nan unik ini. Tulisan Valkommen till Lysekil  di dermaga menyambut kedatangan pengunjung pulau dan kota kecil Lysekil. Panorama kota ini, dihiasi dengan pantai yang mayoritas ditutupi oleh bebatuan yang unik. Selain merupakan kota dermaga, kota ini juga dulunya menjadi penghasil ikan makarel karena banyak nelayan ikan. Namun seiring jaman,nelayan berangsur menghilang. Hanya kapal-kapal atau speed boat sewaan yang bersandar.

Pantai batu Lysekil memiliki keunikan tersendiri karena terkadang pada suatu waktu tertentu, anjing laut datang ke pantai untuk sekedar berjemur dan menjadi atraksi alami yang bisa dinikmati pengunjung. Tak heran kota kecil ini juga menjadi persinggahan keluarga Kerajaan Swedia di musim panas.

Matthias tak lupa mengabadikan momen foto selfie bersama dengan Sam, George, dan Sameena. Canda tawa keakraban mereka setidaknya mengurangi kesedihan cerita Sameena. Mereka berfoto di depan sebuah telepon umum yang berwarna merah. George bahkan berpose layaknya pengawal kerajaan Inggris di depan telepon umum. Sam yang melihat pun terpingkal-pingkal melihat pose unik George. Matthias pun tak ketinggalan dengan pose andalannya mirip pemeran Harry Potter dengan menaiki sapu sampah yang diletakkan di dekat telepon umum.

Bagi Sam, ini adalah pengalaman jalan-jalannya yang sangat berkesan dan penuh makna. Ia semakin mantab dalam mensyukuri hidup. Menjadi anak petani, bukan  sebuah keburukan, bahkan adalah motivasi tersendiri. Momen ini juga semakin mengakrabkannya dengan teman-temannya itu. Matthias dengan sosok yang sangat baik hati mengajak kawan-kawannya berlibur ke Lysekil, George dengan segala tingkah lucunya, dan Sameena seorang mahasiswi dan sahabat yang ternyata perempuan pejuang suaka yang sangat gigih menggapai asa hingga berhasil kuliah di Swedia. Sameena, Sang Pejuang Suaka.

*Sekretaris Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan pernah belajar di Swedia.

SebelumnyaBiografi ‎K.H. Muhammad Ishomuddin Hadziq (Bagian III) Hidup Berkarya
BerikutnyaPesantren Tebuireng, Awali Tahun Dengan Doa Bersama