
“Kalau aku punya ayah yang baik, mungkin hidupku nggak akan sepi begini…”
Kalimat itu sering berputar-putar di kepalaku. Aku tahu, tidak semua anak lahir di keluarga sempurna. Tapi rasanya tetap sakit kalau ingat masa lalu. Usia empat tahun, ingatanku belum sempurna, tapi cukup kuat untuk menyimpan jeritan Ibu setiap malam. Tangisnya, suara benda pecah, dan suara keras itu… suara Ayah.
Aku masih kecil, tapi aku tahu Ibu dipukul. Dan aku juga tahu aku takut. Sangat takut. Aku ingin berlari, tapi kakiku tak bisa bergerak. Ingin menjerit, tapi tenggorokanku tercekat. Sejak saat itu, wajah Ayah tak pernah jadi tempat aman.
Ketika Ayah pergi, aku tidak menangis. Aku justru lega. Hidup berdua dengan Ibu terasa seperti udara baru. Kami pindah rumah, lebih kecil, tapi lebih hangat. Ibu bekerja keras, pulang malam, sering lelah, tapi selalu menyempatkan memelukku. Dan itu cukup.
Sampai suatu hari, Ibu bilang dia ingin menikah lagi. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Tapi aku diam. Aku hanya takut… takut kalau sosok “Ayah” kembali jadi bayang-bayang gelap.
Setelah menikah, Ibu dan suaminya pindah ke Jakarta karena pekerjaan. Aku tinggal bersama Nenek. Katanya, Jakarta bukan tempat yang aman untuk anak kecil sepertiku. Aku bisa mengerti, meski hatiku rasanya dikoyak. Aku ingin bersama Ibu, tapi aku tahu beliau sedang berjuang.
Hari-hariku bersama Nenek berjalan tenang, tapi sunyi. Pagi sekolah, siang membantu Nenek, malam belajar dan kadang menangis pelan. Tidak ada tempat bercerita selain diri sendiri. Anak-anak lain cerita tentang Ayah mereka, tentang liburan keluarga, tentang rumah dengan suara tawa. Aku hanya tersenyum, pura-pura kuat.
Tiga tahun lalu, hidupku berubah lagi.
Ibu pulang. Tapi bukan dengan senyum atau oleh-oleh dari kota besar. Ibu pulang karena sakit. Parah. Kata dokter, penyakitnya sudah lama menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu pasti, tapi yang kutahu, setiap malam aku mendengar erangan pelan dari kamarnya.
Aku merawatnya bersama Nenek. Mengusap keningnya, menyuapi bubur, dan menahan tangis. Aku baru 10 tahun, tapi rasanya seperti sudah tua. Satu minggu sebelum kepergian Ibu, aku memegang tangannya erat.
“Maaf, ya, Del… Ibu nggak bisa terus nemenin kamu.”
Aku menggeleng keras. “Ibu jangan pergi…”
Tapi air mataku tak bisa mengubah takdir.
Hari itu, rumah kecil kami kehilangan cahaya. Hanya ada isak tangis dan bau dupa dari ruang tamu. Aku tidak tahu bagaimana dunia bisa terus berjalan sementara jantungku serasa berhenti.
Setelah pemakaman, aku tidak keluar kamar selama dua hari. Nenek yang membujukku makan, mengganti bajuku, dan membelai rambutku sambil berkata, “Kamu harus kuat, Le.”
Aku benci kata “kuat”. Karena semua orang memaksaku untuk kuat, padahal aku cuma ingin menangis sepuasnya.
*****
Dua bulan setelah Ibu meninggal, seseorang datang ke rumah.
Saat pintu diketuk, aku sedang menyiram tanaman di depan. Nenek yang membukakan. Dari balik pintu, kulihat sosok lelaki tua dengan wanita paruh baya. Wajahnya tak asing. Itu Ayah. Dan nenek dari pihak Ayah. Mereka datang—entah dari mana—dengan wajah penuh sesal yang tak bisa aku terima.
Aku berbalik cepat, masuk ke kamar, dan membanting pintu.
“Del, mereka cuma mau ngobrol…” suara Nenek lembut, tapi aku menutup telinga.
Aku tak ingin melihat wajah itu. Wajah yang dulu membuat Ibu menangis. Wajah yang membuat malam-malam kecilku dipenuhi ketakutan.
Keesokan harinya, Nenek bicara padaku saat makan malam.
“Ayahmu ingin memperbaiki hubungan. Dia merasa bersalah, Del.”
Aku menatap nasi di piring. “Kenapa baru sekarang? Waktu Ibu masih hidup, dia ke mana?”
Nenek terdiam. Lalu mengelus pundakku.
“Kadang, orang butuh waktu untuk menyadari kesalahan.”
“Tapi Ibu sudah nggak ada. Terlambat, Nek.”
Air mata jatuh ke nasi yang belum kusentuh.
*****
Hari-hari berikutnya, Ayah beberapa kali datang. Menyapa dari jauh, membawa makanan, bahkan buku pelajaran. Tapi aku tetap diam. Tak menjawab sapanya. Tak menyentuh pemberiannya. Nenek tak memaksaku, hanya terus berada di sisiku.
Sampai suatu malam, aku duduk di ranjang sambil memeluk bantal. Aku berbicara pada diriku sendiri.
“Kalau aku memaafkan Ayah, apa Ibu akan marah?”
“Apa aku jadi anak durhaka kalau menolak bicara dengannya?”
Aku benci perasaan ini. Antara rindu sosok ayah dan takut kenangan buruk itu kembali. Aku tidak tahu mana yang benar. Tapi aku tahu, saat ini, aku belum siap.
Pagi itu, Ayah datang lagi. Kali ini sendirian. Ia duduk di kursi kayu depan rumah. Wajahnya lebih tua dari ingatanku, lebih lelah, lebih… manusiawi. Tapi tetap saja, bayangan malam penuh jeritan itu menutup segalanya.
“Ayah cuma mau bilang… Ayah minta maaf. Untuk semua hal. Ayah nggak maksa Adelia buat terima Ayah sekarang. Tapi Ayah akan terus nunggu.”
Ia berdiri, menatapku sejenak, lalu pergi.
Aku tidak menjawab. Tapi malam itu aku menangis diam-diam. Ada bagian dalam diriku yang ingin memeluknya, tapi lebih besar bagian yang ingin tetap membenci.
*****
Kini, aku masih tinggal dengan Nenek. Sekolah seperti biasa. Tertawa di kelas, menyapa teman, mengerjakan PR—semua seperti anak lain. Tapi hatiku tidak biasa. Aku dewasa sebelum waktunya. Aku belajar menyimpan luka, merawat kenangan, dan berdamai dengan kehilangan.
Kadang aku menulis surat untuk Ibu. Kutaruh di laci, dengan tulisan: “Ibu, Adelia baik-baik saja. Tapi Adelia kangen…”
Dan tentang Ayah, mungkin suatu hari aku akan membuka pintu untuknya. Tapi bukan hari ini.
Hari ini, aku hanya ingin tetap tinggal di sisi Nenek, satu-satunya rumah yang tersisa.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















