Risalah Nasihat Imam al-Ghazali untuk Santrinya (Bagian-2)

792
Foto: Ghunniyatul Karimah

أَيُّهَا الوَلَدُ، مِنْ جُمْلَةِ مَا نَصَحَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أُمَّتَهُ قَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: عَلَامَةُ إِعْرَاضِ اللهِ تَعَالَى عَنِ العَبْدِ اِشْتِغَالُهُ بِمَا لَايَعْنِيْهِ، وَإِنْ امْرِإٍ ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمُرِهِ فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ العِبَادَةِ، لَجَدِيْرٌ أَنْ تَطُوْلَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ. وَمَنْ جَاوَزَ الأَرْبَعِيْنَ وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ عَلَى شَرِّهِ فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ. وَفِي هَذِهِ النَّصِيْحَةِ كِفَايَةٌ لِأَهْلِ العِلْمِ

Wahai santriku, sebagian dari apa yang dinasihatkan Rasulullah SAW pada umatnya adalah sabda beliau SAW, “Tanda Allah berpaling dari hambaNya adalah seseorang tersibukkan dalam sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Ketika masa dari umur seseorang berlalu dari selain ibadah yang telah dituntut darinya, tentu baginya patut menyesal selamanya. Barangsiapa menginjak umur 40 tahun, namun kebaikannya dikalahkan oleh keburukannya maka hendaknya mempersiapkan diri ke neraka.” Nasihat ini cukup bagi pemegang ilmu (ahli ilmu; Cendikia)

-o0o-

أَيُّهَا الوَلَدُ، النَّصِيْحَةُ سَهْلَةٌ وَالمُشْكِلَةُ قَبُوْلُهَا، لِأَنَّهَا فِي مَذَاقِ مُتَّبِعِي الهَوَى مُرَّةٌ، إِذْ المَنَاهِي مَحْبُوْبَةٌ فِي قُلُوْبِهِمْ، وَعَلَى الخُصُوْصِ لِمَنْ كَانَ طَالِبَ العِلْمِ الرَّسْمِيِّ وَمُشْتَغِلًا فِي فَضْلِ النَّفْسِ وَمَنَاقِبِ الدُّنْيَا، فَإِنَّهُ يَحْسَبُ أَنَّ العِلْمَ المُجَرَّدَ لَهُ سَيَكُوْنُ نَجَاتُهُ وَخَلَاصُهُ فِيْهِ وَأَنَّهُ مُسْتَغْنٍ عَنِ العَمَلِ. وَهَذَا اِعْتِقَادُ الفَلَاسِفَةِ. سُبْحَانَ اللهُ العَظِيْمُ. لَايَعْلَمُ هَذَا المَغْرُوْرُ أَنَّهُ حِيْنَ حَصَلَ العِلْمَ، إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِهِ، تَكُوْنُ الحُجَّةُ عَلَيْهِ آكَدَ كَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَايَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

Wahai santriku, nasihat itu mudah sedangkan menerimanya sulit. Karena nasihat bagi pengikut nafsu terasa pahit ketika perkara yang dilarang itu disenangi dalam hatinya. Khususnya, bagi orang yang mencari ilmu formal dan menyibukkan diri mencari martabat serta kekayaan duniawi. Ia mengira bahwa ilmu an sich (al-mujarrad) membahagiakan dirinya dan paripurna, lantas lepas tangan dari mengamalkannya. Ini keyakinan para filosof. Mahasuci Allah yang Agung. Orang yang terpedaya (maghrur) ini tidak mengerti bahwasanya setelah memperoleh ilmu, ketika tidak diamalkan, menjadi hujah penguat melawannya. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: “Manusia yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat atas ilmunya.”

وَرُوِيَ أَنَّ الجُنَيْدَ –قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ، رُؤِيَ فِي المَنَامِ بَعْدَ مَوْتِهِ فَقِيْلَ لَهُ: مَا الخَبَرُ يَاأَبَا القَاسِمِ؟ قَالَ: طَاحَتْ تِلْكَ العِبَارَاتُ وَفَنِيَتْ تِلْكَ الِإشَارَاتُ وَمَا نَفَعَنَا إِلَّا رُكَيْعَاتٌ رَكَعْنَاهَا فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

Ada sebuah riwayat bahwa Imam Junaid –semoga Allah menyucikan jiwanya- bermimpi (tentang peristiwa) setelah meninggalnya. Ditanyakan padanya, “Ada kabar apa wahai Abu Qasim?” Dia menjawab, “Pernyataan-pernyataan telah gugur dan petunjuk-petunjuk telah sirna. Yang bermanfaat bagi kami hanya sebagian shalat tengah malam.”

-o0o-

أَيُّهَا الوَلَدُ، لَاتَكُنْ مِنَ الأَعْمَالِ مُفْلِسًا وَلَا مِنَ الأَحْوَالِ خَالِيًا، وَتَيَقَّنْ أَنَّ العِلْمَ المُجَرَّدَ لَايَأْخُذُ بِاليَدِ. وَمِثَالُهُ لَوْ كَانَ عَلَى رَجُلٍ فِي بَرِيَّةٍ عَشَرَةُ أَسْيَافٍ هِنْدِيَّةٍ مَعَ أَسْلِحَةٍ أُخْرَى، وَكَانَ الرَّجُلُ شُجَاعًا وَأَهْلَ حَرْبٍ، فَحَمِلَ عَلَيْهِ أَسَدٌ عَظِيْمٌ مَهِيْبٌ، فَمَا ظَنُّكَ؟ هَلْ تَدْفَعُ الأَسْلِحَةُ شَرَّهُ عَنْهُ بِلَا اسْتِعْمَالِهَا وَالضَّرْبِ بِهَا؟ وَمِنَ المَعْلُوْمِ أَنَّهَا لَاتَدْفَعُ إِلَّا بِالتَّحْرِيْكِ وَالضَّرْبِ

Wahai santriku, janganlah menjadi orang yang miskin perbuatan baik (‘amal) dan janganlah menjadi orang yang kosong spiritual (ahwal). Yakinlah, ilmu perse tidak bisa membantu. Bagaikan seorang lelaki di suatu gurun mempunyai sepuluh pedang India dan senjata-senjata lainnya, lelaki yang pemberani dan ahli perang, kemudian ada singa yang besar nan buas menyerangnya. Bagaimana menurutmu? Apakah senjata-senjata tersebut melindungi dari serangan singa tanpa menggunakannya dan memukul dengannya? Menjadi keniscayaan bahwa senjata tidak melindunginya tanpa digerakkan dan dipukulkan.

فَكَذَا لَوْ قَرَأَ رَجُلٌ مِئَةَ أَلْفِ مَسْأَلَةٍ عِلْمِيَّةٍ وَتَعَلَّمَهَا، وَلَمْ يَعْمَلْ بِهَا لَاتُفِيْدُهُ إِلَّا بِالعَمَلِ. وَمِثْلُهُ أَيْضًا لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ حَرَارَةٌ وَمَرَضٌ صَفْرَاوِيٌّ يَكُوْنُ عِلَاجُهُ بِالسَّكَنْجَبِيْنَ وَالكَشْكَابِ، فَلَا يَحْصُلُ البُرْءُ إِلَّا بِاسْتِعْمَالِهَا

Begitu juga seorang lelaki yang membaca persoalan ilmiah dan mempelajarinya, akan tetapi tidak mengamalkannya. Tidak memberikannya manfaat kecuali dengan diamalkan. Misalnya lagi, seorang terkena demam dan penyakit kuning, kesembuhannya dengan sakanjabin dan kasykab, maka tidaklah sembuh kecuali dengan menggunakannya.

  Peristiwa-peristiwa Penting Selama 10 Tahun Hijrah Nabi SAW ke Madinah

كرمي دو هزار رطل همي ﭘيمائي   *    تامي نخوري نباشدت شيدائي

Jika engkau menuangkan 2000 arak, tanpa meminumnya, engkau tidak akan mabuk.

وَلَوْ قَرَأْتَ العِلْمَ مِائَةَ سَنَةٍ وَجَمَعْتَ أَلْفَ كِتَابٍ، لَاتَكُوْنُ مُسْتَعِدًّا لِرَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى إِلَّا بِالعَمَلِ، ( وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ)  (فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا) (جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) (إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا) ( فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا * إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

Meskipun Anda membaca 100 tahun dan menghimpun 1000 karya, tidak akan memenuhi kriteria rahmat Allah SWT kecuali dengan mengamalkannya. [Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya], [Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh], [Sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan], [Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus tempat tinggalnya. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya], [Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun].

وَمَا تَقُوْلُ فِي هَذَا الحَدِيْثِ: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةٍ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ لِمَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا

Apa pendapatmu tentang hadis ini: [Islam dibangun atas lima dasar: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah; menegakkan shalat; menyalurkan zakat; puasa Ramadan; dan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu menjalankannya].

وَالإِيْمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَتَصْدِيْقٌ بِالجَنَانِ وَعَمَلٌ بِالأَرْكَانِ. وَدَلِيْلُ الأَعْمَالِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصَى، وَإِنْ كَانَ العَبْدُ يَبْلُغُ الجَنَّةَ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالَى وَكَرَمِهِ، لَكِنْ بَعْدَ أَنْ يَسْتَعِدَّ بِطَاعَتِهِ وَعِبَادَتِهِ، لِأَنَّ (إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

Iman adalah ucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pengamalan dengan rukun (Islam). Dalil amal perbuatan lebih banyak ketimbang yang terhitung. Meskipun seorang hamba masuk surga dengan fadhal dan kemuliaan Allah, akan tetapi setelah ia menyiapkan diri dengan taat dan beribadah kepada Allah, karena [rahmat Allah sangatlah dekat dengan orang-orang yang bagus.]

وَلَوْ قِيْلَ أَيْضًا: يَبْلُغُ بِمُجَرَّدِ الإِيْمَانِ، قُلْنَا: نَعَمْ، لَكِنْ مَتَى يَبْلُغُ؟ وَكَمْ مِنْ عَقَبَةٍ كَؤُوْدٍ يَقْطَعُهَا إِلَى أَنْ يَصِلَ؟ فَأَوَّلُ تِلْكَ العَقَبَاتِ عَقَبَةُ الإِيْمَانِ، وَأَنَّهُ هَلْ يَسْلَمُ مِنْ سَلْبِ الإِيْمَانِ أَمْ لَا؟ وَإِذَا وَصَلَ هَلْ يَكُوْنُ خَائِبًا مُفْلِسًا؟ وَقَالَ الحَسَنُ البَصْرِيِّ: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى لِعِبَادِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ: اُدْخُلُوْا، يَا عِبَادِي، الجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَاقْتَسِمُوْا بِأَعْمَالِكُمْ

Apabila dikatakan, “Seseorang sampai (masuk) surga dengan iman perse.” Kami menanggapi, “Iya, masuk, tetapi kapan? Seberapa banyak rintangan yang harus dilalui agar masuk surga? Adapun rintangan pertama kali adalah rintangan iman, apakah ia selamat dari kegagalan beriman atau tidak? Dan kalaupun masuk (surga), apakah tergolong orang yang gagal atau papa? Hasan al-Basri berkata, “Allah SWT berfirman kepada hambaNya di hari Kiamat: ‘Masuklah, wahai hambaKu, ke surga dengan rahmatKu, berbagilah sesuai dengan amal perbuatan kalian.’”


*Diterjemahkan oleh Yayan Mustofa dari Kitab Ayuhal Walad, sebuah risalah balasan Imam Abu Hamid al-Ghazali kepada seorangan muridnya yang bertanya tentang permasalahannya.