Tebuireng.online– Ketua MWA Universitas Diponegoro, Muhammad Nasir berbicara soal transformasi pola pikir yang terbuka, toleran, dan demokratis dalam webinar series Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI).

Menteri Riset dan Teknologi serta Pendidikan Tinggi tahun 2014-2019 ini menyampaikan bahwa perkembangan dunia pada saat ini bisa dilihat dari revolusi yang sudah terjadi. Seperti revolusi Rusia, revolusi Iran, revolusi Prancis, revolusi Amerika, dan revolusi Indonesia.

“Bisa kita ketahui bahwa banyak perubahan-perubahan yang telah terjadi dari revolusi di atas. Dari sini muncul pertanyaan apa yang bisa lakukan dalam hal ini di zaman sekarang?” Ungkapnya, Rabu (2/6).

“Revolusi mental merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala,” terangnya mengutip ungkapan Bung Karno.

Menurutnya hal ini yang memompa semangat bangsa Indonesia untuk melakukan perjuangan. “Pak Jokowi mengatakan, untuk lebih memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing, mempererat persatuan bangsa, kita perlu melakukan revolusi mental,” imbuhnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Revolusi mental menjadi hal yang sangat penting, akan tetapi pada zaman sekarang dengan adanya perkembangan teknologi revolusi mental menjadi hal sulit untuk diterapkan.

Dalam hal ini, Ketua MWA Undip itu menjelaskan potret yang terjadi di Indonesia saat ini, yaitu: SDM masih rendah, pola pikir mau berubah atau tidak, budaya antri masih sangat rendah, dan kemacetan masih sering terjadi.

“Inti dari pola pikir toleran adalah perubahan perilaku melalui revolusi mental. Memang perubahan tidak bisa menjamin kebahagiaan, tapi tidak ada kebahagiaan yang bisa dicapai tanpa perubahan,” ungkapnya menyampaikan kutipan dari Mario Teguh.

Indonesia memerlukan perubahan yang lebih baik lagi, hal ini terjadi karena, pertama: telah kehilangan nilai-nilai integritas, kedua: kehilangan etos kerja, dan ketiga: kriris identitas.

“Hal tersebut bisa teratasi apabila ada revolusi mental. Kelompok nilai revolusi mental yakni ada 3. Integrasi: Kita harus menumbuhkan kembali integritas yang sudah hilang. Etos kerja: Kita harus bangun kembali semangat bekerja. Gotong royong: Hal yang sangat penting untuk menjadikan kita lebih demokratis adalah revolusi mental yang harus kita perhatikan,” tegasnya.

Pewarta: Almara Sukma Prasintia

SebelumnyaSoal Reformasi Pendidikan, Rektor UI: Pandemi Memaksa Kita Membuat Terobosan
BerikutnyaTak Hanya Soal Kecerdasan, Perhatikan Ini untuk Masa Depan Pendidikan