Resume Materi Habib Umar  bin Hafidz
Asas al-Nahdlah wa Ab’ad Maqashidiha
Resume Materi Habib Umar bin Hafidz Asas al-Nahdlah wa Ab’ad Maqashidiha

Hamdan wa salaman

Mukadimah

Kita bersama berada dalam pertemuan yang mulia, yang memadukan hakikat risalah dari para Nabi. Makna pembaharuan agama dan membawa kemaslahatan bagi umat Islam. Sebagaimana sekarang kita renungi bersama, salah satu sosok teladan umat ini, KH. Hasyim Asy’ari dan upayanya dalam mendirikan organisasi NU. NU didirikan di atas pondasi yang lurus dan kuat. Dari pemahaman yang mendalam akan Tuhannya, dan peneladananan yang sempurna dari Nabi Muhammad. Serta sebagai bentuk takdim dan pengagungan dari Allah yang telah menurunkan wahyu. Serta bersumber dari pemahaman yang mendalam dari ayah dan leluhur serta guru-guru  beliau dari tanah air maupun Masjidil Haram.

Manusia sejak nabi Adam senantiasa mudah terpengaruh dari apapun yang disampaikan kepada mereka, baik yang bersumber dari sebuah kebenaran (haq) yang murni, maupun dari haq yang tidak murni, yang telah dirusak dan dikamuflasekan oleh iblis, atau dari suatu kebatilan. Semua hasil pemikiran tidak akan keluar dari 3 kategori ini.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tidak mungkin menciptakan perbaikan bagi masyarakat di dalam diri, kecuali dengan nur yang bersumber dari kebenaran yang murni dari Allah. Ia akan menemukan makna-makna yang lurus yang bisa diamalkan dalam lingkungannya. Dan sepanjang sejarah dari umat terdahulu hingga umat Nabi Muhmmad, kebaikan pasti bersumber dari keikhlasan nan tulus. Ini adalah sebuah nilai yang baik, yang bisa dilihat di dalam organaisasi NU yang didirikan Kiai Hasyim.

Pembaharuan yang dibawa oleh para mujadidin di setiap zaman, tidak bermakna mengubah secara total sama sekali, akan tetapi membawa nilai dan makna baru, yang bisa membawa kemaslahatan secara nyata, yang bisa diterapkan di zaman sekarang.

Karena agama ini telah sempurna, dan tidak ada perubahan nilai dan ajaran di dalamnya. Yang berubah adalah wasail (sarana)-nya demi memperbarui pesan agama agar bisa sampai dan dipahami masyarakat.

Sesungguhnya pembaharuan yang dilakukan Kiai Hasyim ini besumber dari pemahaman yang mendalam dari agama ini. Beliau ingin memperbaiki keadaan umat ini, sehingga melakukan pembaharuan dengan bentuk kebangkitan (nahdlah). Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik, tidak akan bisa berubah menjadi baik keadaan suatu umat, kecuali jika berasal (seperti) dari pembaharuan-pembaharuan dari para ulama salaf.

Misi pemhabaruan ini adalah warisan para nabi yang diemban oleh Kiai Hasyim. Warisan para nabi ini berupa membacakan ayat Allah dan memberikan tazkiyah kepada masyarakat. Kiai Hasyim melakukan ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama pendahulu. Beliau membangun amal ini berlandaskan keikhlasan, dengan niatan ingin mencari ridla Allah. Kiai Hasyim di dalam berinteraksi dengan masyarakat, mencontohkan perangai yang baik dan kasih sayang. Sebagaimana ayat al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah Kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (Q.S. Ali Imran ayat 159)

Maka beliau menjalin hubungan dengan beragam kelompok masyarakat, dari berbagai latar belakang, pemimpin, bahwahan, petani, pedagang dan lain-lain, dengan kesadaran akan tugas yang penting dari gurunya, yaitu membacakan ayat Allah, tazkiyah, dan taklim (mengajar). dan inilah jalinan para Nabi dengan orang sekeliling mereka.

Dan beliau sempat mejalankan tugas para nabi dengan menjalin hubungan semua kelompok. Beliau tetap berperan sebagai dai yang menyampaikan pesan-pesan agama. Bukan malah terserat oleh kepentingan mereka, dan bahkan mengekor kepada mereka. Beliau tetap mengajak kepada kebaikan, tidak menjadi orang yang menerima upah, tidak justru tunduk kepada mereka. Tidak fanatik, dan lepas dari pertikaian di antara mereka. Dan beliau dikenal sebgai orang yang berinfaq dan meletakkan harta pada tempatnya, tidak rakus oleh dunia yang dimiliki orang lain. Beliau memberikan harta kepada kepentingan yang tepat, untuk kebaikan agama.

Habib Umar menceritakan, suatu muslimat yang sowan kepada Kiai Hasyim di Tebuireng, membawa uang sebagai hadiah kepada Kiai Hasyim, lantas oleh Kiai Hasyim diberikan kembali kepada rombongan muslimat tersebut untuk pengembangan pendidikan di daerah mereka. Seandainaya beliau tidak mencapai kedudukan yang tinggi, maka niscaya beliau tidak akan bisa berperangai yang penuh teladan seperti ini.

Adapun pendirian beliau di dalam khilafah dhahirah (kepemimpinan kenegaraan), dikenal dengan seruan jihad yang mulia yang bisa mengusir penjajah, hingga mengantarkan kepada kemerdekaan. Setelah merdeka beliau ditawari jabatan dan kedudukan dalam pemerintahan, namun beliau menolak, dan lebih menunjuk Sukarno sebagai pemimpin negara.

Hal itu dilakukan karena beliau telah merasa puas dengan khilafah bathinah (kepemimpinan spiritual) yang baik, yang telah beliau pahami dengan baik. Khilafah dhahirah ada yang lurus dan ada yang menyimpang. Kiai Hasyim tidak memiliki obsesi kedudukan. Sehingga sikap beliau yang seperti ini menjadikannya justru dicari oleh kedudukan.

Khilafah dhahirah dan batinah di zaman Nabi masih menjadi satu, namun setelah itu, dipisah seteleh 30 tahun masa Khulafa Rasyidin. Tahun 40 Rabiul Awwal, Imam Hasan menyerahkan kekuasaan pemerintahan (khilafah dhahirah) kepada orang lain (Muawiyah tidak disebut beliau), demi menjaga darah kaum muslimin. Jangan sampai darah kaum muslimin tumpah karena perebutan kekausaan.

Imam Hasan menjabat khilafah selama 6 bulan, melengkapi Khilafah Sayyidina Ali, 30 tahun sejak nabi Muhammad. Setelah genap, maka khilafah berganti kesultanan/kerajaan sebagaimana yang dikabarkan nabi dalam hadisnya.

Maka apabila kita teliti sejak masa kemerdekaan, pemimpin demi pemimpin memiliki peninggalan dan pengaruh. Jika dibandingkan dengan mereka, sebenarnya atsar (peninggalan) Kiai Hasyim lebih langgeng, lebih dikenal dan disebut di mana-mana. Dari pemimipin negara ini ada yang baik dan ada yang buruk, sebagaian dikenang, dan sebagian telah dilupakan. Namun peninggalan Kiai Hasyim lebih langgeng dan bisa menyinari negeri ini hingga sekarang.

Beliau telah menunaikan amanat Allah yang beliau pikul. Dengan mengajak berjihad, dan meninggalkan atsar yang baik, dan tetap dengan keilmuannya.

Dan senantiasa kita mendengar dari mereka yang menjabat kepemimpinan, mereka mengklaim kami telah memperbaiki sesuatu, kami telah berbuat sesuatu, kami membangun sesuatu. Namun itu hanyalah claim saja, dan janji palsu saja, mereka menjalankan khilafah dhahirah dengan tidak benar. Namun Kiai Hasyim yang membawa khilafah batinah senantiasa tetap dalam nilai-nilai luhur sebagaimana diajarkan dan diteladankan Rasulullah. Untuk memadukan hati umat Islam, menyatukan umat, menjaga dari perpecahan dan pertikaian.

Hendaknya kita semua harus menyadari bahwa kenabian yang diwariskan kepada umat ini (ilmu dan khilafah bathiniyah), lebih mulia dari khilafah dhahirah tanpa diimbangi dengan khilafah batinah.

Di dalam peneladanannya kepada Rasulullah bisa mencontoh Rasul secara langsung. Keadaan beliau meneladani Rasulullah nmgajak mengayomi, wahai para pemimpin, wahai para masyarkaat, petani, kami tidak akan mundur, apapun profesi kalian, datanglah ke sini, untuk menuntut ilmu, sebab ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Wajiblah bagi kita semua bahwa nahdlah (kebangkitan) itu mengajak kepada Allah, bukan mengajak kepada selain Allah, dan kembali kepada pondasinya, yaitu ikhlas kepada Allah, bersikap dengan akhlak yang luhur, dan menjaga kesatuan.

Kami melihat Kiai Hasyim menukil dari Sayyidina Ali, bahwa yang haq bisa menjadi lemah dengan para ahli haq terpejah belah, dan sebaliknya. Kita berterimakasih kepada pengasuh Ma’had, dzurriyah Kiai Hasyim ini, juga para hadirin yang telah datang.


Syafik Hoo