Punya Lebih

52

Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Hutan Batu berubah menjadi tempat berlomba-lomba memiliki lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Namun, semua hewan sepakat: perubahan itu dimulai sejak Rago si monyet menemukan kata baru yang sangat ia sukai. Kata itu adalah: “Punya lebih.”

Awalnya sederhana: Rago hanya mencuri satu buah pisang dari kebun rusa. Tidak ada yang marah, karena siapa yang peduli kehilangan satu pisang?

Tapi satu membuatnya berpikir: “Kalau satu bisa kuambil tanpa risiko…kenapa tidak dua?”

Dua menjadi empat.
Empat menjadi sepuluh.
Sepuluh menjadi lemari penuh, meski ia hanya makan satu setiap hari.

Dan ketika lemari sudah penuh, ia tidak berhenti. Ia membangun gudang. Bukan karena lapar. Tetapi karena ada satu ketakutan kecil yang tumbuh di dalam dirinya: ketakutan bahwa orang lain punya lebih duluan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hewan-hewan lain awalnya bingung. Namun perlahan, mereka mulai meniru. Singa mulai menyimpan daging busuk. Kambing menyembunyikan rumput. Tupai menimbun kacang sampai lubangnya tidak muat dimasuki.

Dan hutan yang dulu damai berubah menjadi pasar panik — tempat semua hewan sibuk menghitung apa yang mereka miliki dan apa yang belum mereka miliki. Tetapi hanya ada satu yang paling menikmati semuanya: Rago. Ia duduk di atas menara yang ia bangun dari peti-peti makanan curian, memandang seluruh hutan dengan senyum puas.

“Lihat,” katanya, “aku berhasil. Aku paling kaya.”

Seekor burung pipit tua yang lewat hanya bergumam: “Tidak kaya. Kau hanya paling takut.”

Namun Rago tidak peduli. Ia tidak pernah mendengarkan kata-kata mereka yang lapar — setidaknya menurut pikirannya.

***

Suatu hari, datang kabar: musim kemarau panjang akan tiba.
Angin sudah membawa debu, dan sungai mulai surut. Semua hewan panik — kecuali Rago. Karena, tentu saja, ia sudah punya segalanya. Buah, kacang, palawija, bahkan air yang ia simpan di dalam drum bekas. Hewan-hewan lain mulai mendatangi gudangnya. Dengan sopan, dengan air mata, bahkan dengan barter.

“Rago, sedikit saja. Anak-anak kami kelaparan.”

Rago hanya mengangkat bahu.

“Aku bisa memberimu… kalau kau punya sesuatu untuk ditukar.”

“Tapi kami tidak punya apa-apa lagi.”

“Oh, kalau begitu masalahmu bukan aku…”

Ia menunjuk dada mereka.

“…masalahmu adalah Tuhan yang tidak memberimu cukup.”

Kalimat itu bukan hanya dingin.

Kalimat itu kejam.

Namun, anehnya, banyak hewan mulai mempercayainya. Bukan karena itu benar…tapi karena mereka mulai percaya bahwa kekayaan adalah bukti siapa yang diberkahi.

***

Musim kemarau datang.

Daun-daun jatuh.
Sungai mengering.
Banyak hewan sakit.

Namun gudang Rago tetap penuh. Bahkan, anehnya — buah-buahan di dalamnya mulai busuk. Rago marah.

“Kenapa busuk? Aku sudah mengambilnya dengan usaha. Aku menimbun lebih cepat daripada orang lain. Aku pantas memilikinya.”

Ia mencoba makan banyak dalam satu waktu, tapi tubuhnya hanya bisa menampung sedikit. Sementara itu, suara-suara lemah dari hewan lain terus terdengar:

“Kau hanya butuh sedikit, Rago. Sisanya… ada hak untuk yang lain.”

Rago menutup telinganya dengan daun kering.

“Tidak. Jika aku memberi mereka, mereka akan punya lebih. Mereka akan mengejar posisiku. Mereka akan mengalahkanku.”

Ia tertawa keras, meski suaranya terdengar seperti seseorang yang memaksa tawa agar tidak terdengar takut.

***

Suatu malam yang sangat kering, seekor kura-kura tua , Safa —datang ke depan gudang Rago.

Ia tidak mengetuk.
Ia hanya duduk. Diam.

Setelah beberapa menit Rago keluar, jengkel: “Apa mau-mu? Persediaanku bukan untuk dibagi!”

Safa memandangnya. Lama. Lalu berkata pelan: “Tahukah kamu apa perbedaan orang tamak dan orang kelaparan?”

“Jelas!” seru Rago. “Orang tamak punya banyak!”

Safa menggeleng.

“Tidak. Orang tamak… laparnya tidak pernah selesai. Sedangkan orang kelaparan… hanya ingin hidup.”

Rago terdiam sesaat.
Lalu—seperti biasa—ia tertawa keras agar tak ada ruang untuk berpikir.

***

Malam itu, sesuatu terjadi. Seekor anak domba, sangat kurus, datang ke gudang Rago dan hanya berkata satu kalimat: “Tolong… aku hanya butuh sedikit.”

Rago menatapnya seperti menatap semut.

“Aku tidak peduli.”

Anak domba itu tersenyum tipis — bukan pahit, tetapi seakan memahami sesuatu yang Rago tidak pernah mau pahami. Ia berterima kasih, lalu pergi.

Besok paginya, hewan-hewan menemukan anak domba itu mati di samping sungai kering, masih dalam posisi seperti sedang berdoa.

Hutan membeku. Dan untuk pertama kalinya. Semua mata memandang Rago. Bukan lagi dengan iri. Bukan dengan hormat. Tapi dengan jijik.

***

Di tengah sunyi itu, angin seolah berbisik pada Rago, “apa gunanya kau punya segalanya, jika hatimu kosong?”

Untuk pertama kalinya, Rago merasa lapar. Bukan di perut. Tapi di tempat yang lebih dalam, tempat yang selama ini ia biarkan mati.

Ia memandang gudangnya. Penuh. Tetapi tidak ada yang bisa ia makan tanpa merasakan lapar. Dan ia akhirnya sadar: Yang membusuk bukan pisang. Yang membusuk adalah hatinya.

Ia menutup wajahnya dengan tangan gemuknya. Dan untuk pertama kalinya…

Rago menangis.



Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Rara Zarary