Tebuireng.online- Sabtu pagi (25/01/20), Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si. (Universitas Negeri Malang) diundang ke Pesantren Tebuireng guna melakukan FGD (Focus Group Discussion) bertema “Menstransformasikan Kebijakan Mendikbud dalam Merdeka Belajar” di aula lantai 1 gedung KH. M. Yusuf Hasyim. Peserta diskusi ini dari jajaran guru unit-unit pendidikan di Tebuireng.

Menurut penuturan Prof. Mohammad Amin (Keynote speaker ke-3), kita berada dalam indutrsi 4.0 dan Mendikbud (Nadiem Makarim) adalah yang menerapkan tersebut karena beliau yang punya usaha Go-Jek. Bahwa beliau adalah salah satu generasi yang mengaplikasikan perkembangan teknologi 4.0 dan secara kasatmata memang berhasil.  “Sebelumnya, saya permisi, tidak rela kita itu hanya sebagai supir Go-Jek, perlu keahlian apa Go-Jek? Lebih baik yang mempunyai keahlian. Biasanya kalau orang ahli akan menemukan (sesuatu). Man jadda wajada.,” tuturnya.

Kalau kita lihat, lanjut Prof. M. Amin, kebijakan-kebijakan industri 4.0 diserap teknologi inovasi sangat jelas, bahwa inovasi itu selalu berubah. Artinya, tidak bisa orang itu membuat sesuatu terhadap sebuah, misalkan “Hp yang dulu Nokia kurang hebat apa? Lalu sekarang? karena era disruptive innovation (inovasi untuk pasar baru), cepat sekali berubah, kalau ini kita tidak disiapkan untuk anak-anak kita maka mereka nanti akan tergilas zaman,” imbuh Guru besar bidang bioteknologi UM ini.

Beliau menambahkan, kini sudah terbit buku 4.0 industri ini. Sebenarnya ada sebuah kekhawatiran bahwa dengan 4.0 tanpa diimbangi dengan kemasyarakatan yang bagus, yang memanusiakan manusia nanti itu nilai manusia tidak akan bermarwah, ini kekhawatiran bermula dari orang Jepang. Orang Jepang itu khawatir sekali bahwa nanti kita itu tidak memiliki kehormatan lagi sebagaimana manusia karena dikalahkan oleh barang-barang seperti itu.

“Saya beberapa waktu lalu ke Jepang, benar sekali. Jepang itu menyiapkan robot persis sekali seperti manusia, pada saat itu saya di Tokyo itu ada semacam pameran robot, robotnya itu cantik sekali tapi saya tidak tertarik dengan robot tersebut, karena dia robot. Nah, sehingga tadi kan kalau cukup hidup dengan robot, (kita) akan habis. Gimana mau berteguran, sama robot kan tidak mungkin, dan itulah yang menjadi kekhawatiran,” jelasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kenapa saya menggunakan model pembelajaran, karena saya diundang untuk mencermati model pembelajaran. Saya berharap teman-teman semua bisa membuat model pembelajaran sendiri, jangan menggunakan model impor seperti kooperatif dan lain-lain. Karena mereka pembelajaran hidupnya individual. Kita punya gotong royong, tepo seliro (tenggang rasa), untuk apa mengembangkan kooperatif? Mereka mengembangkan itu karena tidak punya,” ucapnya.

Menurut beliau, pengembangan model pembelajaran di Indonesia mengacu pada Adabul alim wa Muta’allim, nanti akan membahas pengembangan model atau metode. Maka dari itu, keluarga besar pondok pesantren, mari kita kembangkan ini menjadi model pembelajaran seperti ini, untuk meninggikan adab karena kita punya sumber pembelajaran adab. Janga terlalu lama, agar formulasinya nanti bisa disumbangkan kepada Indonesia sebagai dasar pengembangan, baik dari strategi, model dan lain-lain. Long Life Learning, Long Life Education!


Pewarta: Dian Bagus

SebelumnyaAlissa Wahid Berbagi Ilmu dengan Diklat Kader Pesantren Tebuireng Angkatan Ke-9
BerikutnyaLima Aspek Kebebasan Belajar