Pesan Penutup Pelantikan ORDA, Gus Sholahudin: Santri Wajib Nderek Kiai dan Siap Jadi Pemimpin Bangsa

52
Mauidzhoh hasanah yang inspiratif dari salah satu asatidz Tebuireng, Gus Sholahudin pada pelantikan pengurus Organisasi Daerah (ORDA) se-Jawa Timur di Pesantren Tebuireng pada Kamis (30/10/2025). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Pelantikan pengurus Organisasi Daerah (ORDA) se-Jawa Timur di Pesantren Tebuireng pada Kamis (30/10/2025) ditutup dengan mauidzhoh hasanah yang inspiratif dari salah satu asatidz Tebuireng, Gus Sholahudin. Beliau menegaskan bahwa santri Tebuireng memiliki amanah besar untuk menjadi kader pemimpin bangsa sekaligus penjaga warisan agung Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy‘ari.

Gus Sholahudin membuka ceramahnya dengan ucapan selamat dan menyelipkan pantun yang mengundang senyum para hadirin:

“Manuk gelatik cucuk e abang, mari dilantik langsung tandang.
Ojo sampek dadi manuk gelatik cucuk e biru, mari dilantik turu.”

Melalui pantun tersebut, beliau menegaskan agar para pengurus tidak hanya semangat saat dilantik, tetapi juga siap bergerak, bekerja nyata, dan mengabdi setelahnya.

Mengutip maqolah ulama, “Perbaharuilah perahumu, karena samudera kehidupan itu sangat luas dan sangat dalam,” Gus Sholahudin menjelaskan bahwa santri harus memperkuat niat dan tekad karena tantangan di luar pesantren sangat besar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Sekarang masih banyak ulama yang menjadi panutan kita. Tapi 40 tahun ke depan, kalianlah para santri yang akan menjadi penerus dan penentu arah peradaban bangsa,” tuturnya penuh semangat, mengingatkan bahwa di Tebuireng, santri sedang digodok menjadi kader pemimpin.

Beliau menekankan agar santri tidak pernah melupakan jati diri mereka, bahkan ketika berhasil meraih posisi penting di masyarakat. “Sampai kapan pun, kita adalah santri. Sekalipun menjadi pemimpin, kita tetap murid para ulama,” ujar beliau.

Gus Sholahudin mengingatkan tanggung jawab besar santri Tebuireng untuk merawat, mengabdi, dan menjaga tiga warisan agung Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy‘ari, yaitu: Pesantren Tebuireng, sebagai pusat ilmu, akhlak, dan perjuangan. Kedua, Nahdlatul Ulama‘ (NU), sebagai wadah perjuangan umat dan penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah. Ketiga, karya-karya Hadratussyaikh, yang memuat nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan.

Beliau berpesan, santri Tebuireng harus hafal, memahami, dan mampu membaca isi serta kandungan dari setiap karya tersebut, menjadikannya bekal hidup dan pedoman perjuangan.

Baca Juga: Mencetak Pemimpin Berakhlak, Tebuireng Gelar Pelantikan Pengurus ORDA Se-Jatim


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Muh. Sutan