Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz.

Tebuireng.online– Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyebut bahwa keberagaman agama di Indonesia telah mencapai masa dewasa.

Hal itu disampaikan dalam seminar “Memadukan Keberagaman Bangsa Termajukan” yang diselenggarakan oleh Tebuireng Inisiasi, Sabtu (6/2/21) yang dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Zoom dan youtube Tebuireng Official.

“Keberagaman agama inilah yang menjadi tantangan bangsa Indonesia yang multietnis dan multikultural dalam menguatkan relasi sosial antar elemen bangsa. Dengan 1300 suku bangsa dan 6 agama yang diakui di Indonesia. Agama Islam dengan pemeluk terbesar menjadi penentu atas kondisi damai yg sudah dicapai,” ungkapnya.

Menurut Gus Kikin, kehidupan dalam beragama harus menjadi pilang dalam menjalin dan menciptakan kerukunan.

“Kehidupan beragama harus menjadi pilar kerukunan,” tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan, dalam hal ini Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratussyaikh telah mendidik para santri untuk tafaqquh fiddin.

Gus Kikin menjelaskan bagian dari pemikiran Kiai Hasyim, dari kitab Adabul Alim wal Muta’allim diajarkan pendidikan adab agar selalu menghadapkan hatinya untuk mencari rida Allah. Yang ditujukan agar para santri benar dalam iman dan ibadahnya, sebagai jalan untuk mendapatkan rahmat Allah.

“Karena dengan pelaksanaan ibadah yang benar, menjadi jalan untuk mendapatkan rahmat Allah, yang diturunkan untuk seluruh alam,” imbuhnya.

Banyak pesan dari Hadratussyaikh yang disampaikan oleh orang nomer satu di Pesantren Tebuireng itu. Salah satunya adalah pesan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah untuk menjaga persatuan, membangun ukhuwah, dan menghindari perselisihan.

“Karena kekuatan suatu umat bergantung kepada persatuan dari umat tersebut. Dan dengan perpecahan tidak ada satu kebaikan yang didapat oleh suatu umat,” terangnya.

Baginya bersatu yang dihiasi adab sebagai ajaran luhur Hadratussyaikh yang diabadikan dalam qanun asasi dan at tibyan, harus menjadi dasar dalam menjaga ukhuwah.

“Tiada suatu umat pun yang menjadi baik dengan perpecahan dan meninggalkan generasi berikutnya dalam kondisi bodoh, tanpa ilmu,” pesannya.

Diakhir sambutan, Gus Kikin menyampaikan harapannya agar Tebuireng Inisiasi menjadi motivasi masyarakat dan meningkatkan ukhwah sehingga Indonesia menjadi bangsa yang kuat.

Pewarta : Afifah Rusyda

SebelumnyaSemangat Keislaman dan Kebangsaan Kiai Hasyim
BerikutnyaAlissa Wahid Pertanyakan Peran Dzurriyah setelah Wafatnya Hadratussyaikh