
Tebuireng.online—Yayasan Tebuireng 8 Banten mengadakan kunjungan ke Pesantren Tebuireng Jombang dalam rangka ziarah dan sambung sanad keilmuan antara pengurus dan santri Pesantren Tebuireng 8 Banten dengan Pesantren Tebuireng pusat. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (19/12/2025) dan diawali dengan ziarah ke maqbarah Tebuireng, dilanjutkan silaturahmi bersama para masyayikh.
Rombongan berjumlah 225 orang ini dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Qizwini selaku Pimpinan Yayasan Tebuireng 8 Banten. Turut serta dalam rombongan para mudir, asatidz dan asatidzah, wali murid, serta santri-santri baru Pesantren Tebuireng 8 Banten.
Silaturahmi dengan masyayikh Pesantren Tebuireng digelar di Aula Yusuf Hasyim lantai tiga usai pelaksanaan salat Jumat. Dari pihak Pesantren Tebuireng, hadir Mudir I Ir. H. Abdul Ghofar, Mudir III H. Lukman Hakim, Mudir IV H. Abdul Mughni yang mewakili Pengasuh Pesantren Tebuireng yang berhalangan hadir, serta beberapa dzurriyah Tebuireng. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan.
Baca Juga: Selamat! Pesantren Tebuireng 8, Sukses Gelar Wisuda Perdana
Dalam sambutannya, KH. Ahmad Qizwini mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan Pesantren Tebuireng terhadap rombongan Tebuireng 8 Banten. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan mengenalkan santri-santri baru Tebuireng 8 Banten kepada Pesantren Tebuireng Jombang sebagai pusat sanad keilmuan.
“Kegiatan sambung sanad ini kami laksanakan pada semester pertama agar santri mengetahui silsilah masyayikh Tebuireng sebelum belajar lebih dalam. Dengan begitu, mereka memahami dari mana ilmu itu berasal,” jelasnya.
Menurutnya, sambung sanad juga menjadi sarana mengenalkan sistem pengajaran Tebuireng pusat agar dapat ditransformasikan di Tebuireng 8 Banten. Harapannya, santri Tebuireng 8 Banten kelak mampu tumbuh menjadi pribadi yang berhasil dan memberi pengaruh positif di masyarakat.
“Hasil pesantren hari ini tentu tidak lepas dari keberkahan dan ilmu para masyayikh. Semoga kita semua mendapat keberkahan sebagai santri Tebuireng dan dimudahkan Allah saat terjun di masyarakat,” tutur KH. Qizwini.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh H. Abdul Mughni. Ia menegaskan bahwa santri tidak perlu berkecil hati dengan latar belakangnya, karena santri bisa menjadi apa saja. Ia mencontohkan sosok Gus Dur yang berangkat dari dunia pesantren hingga menjadi Presiden Republik Indonesia.
“Santri adalah estafet perjuangan para masyayikh. Untuk berhasil, ada beberapa syarat yang harus dimiliki, yaitu sabar, cerdas, tidak mudah putus asa, dan mau berproses dalam waktu yang panjang,” ungkapnya.
Baca Juga: Pesantren Tebuireng 8 Rayakan Milad ke-3, Begini Keseruannya
Sementara itu, H. Lukman Hakim dalam nasihatnya menekankan bahwa kunci belajar bagi santri adalah niat yang lurus untuk mencari rida Allah, disertai istiqamah dan keikhlasan tanpa ambisi duniawi. Menurutnya, Allah yang akan menentukan masa depan seseorang selama niatnya benar.
“Kalau sudah ikhlas dan jujur, maka amalkan ilmu. Mengamalkan ilmu adalah bentuk takzim. Santri yang ingin ilmunya berkah harus takzim kepada ahli ilmu,” ujar H. Lukman.
Ia juga menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak akan diraih tanpa takzim kepada orang tua dan guru. Bahkan, takzim juga berlaku kepada seluruh pihak yang mengabdi di pesantren.
“Takzim kepada ahli ilmu itu termasuk kepada tukang sapu, ibu-ibu dapur, karena mereka semua ikhlas mengabdi di pesantren,” tambahnya.
Salah satu santri Tebuireng 8 Banten, Muhammad Fawwaz Adillah, mengaku ini merupakan kunjungan pertamanya ke Pesantren Tebuireng Jombang. Ia merasa senang karena dapat mengenal lebih dekat sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari beserta dzurriyahnya.
“Saya jadi lebih memahami bahwa Pesantren Tebuireng bukan hanya mendidik santri agar paham agama, tetapi juga mengajarkan moral kemanusiaan dan cara berpikir ke depan,” tuturnya.
Baca Juga: Pesantren Cabang Abdul Djamil Tebuireng 17 Silaturahmi ke Pesantren Tebuireng
Hal senada juga disampaikan Yunus Ahmad Muzakkir yang menilai terdapat perbedaan sistem pembelajaran antara Tebuireng 8 Banten dan Tebuireng pusat. Di Tebuireng 8 Banten, sistem tahfidz dan kitab kuning dipadukan dalam satu kegiatan, sementara di Tebuireng pusat pembelajaran dibedakan melalui kelas kitab, tahfidz, dan takhassus.
“Dari silaturahmi dan ziarah ini saya bisa mengenal lebih jauh silsilah masyayikh Tebuireng dan merasakan suasana hangat saat berkunjung langsung ke maqbarah,” ujarnya.
Diketahui, rombongan Tebuireng 8 Banten tiba di Tebuireng pada Kamis (18/12/2025) dan bermalam di Ma’had Aly. Agenda ziarah dilaksanakan keesokan harinya sebelum rombongan melanjutkan perjalanan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary


















